Mohon maaf atas ketidaknyamanan Ini

Uncategorized No Comments »

Teman2, aku tak tahu apa yang terjadi dengan fitur blog di FS ini. Editan-nya berantakan melulu, kesal-lah aku dibuatnya.

Demi kenyamanan membaca, kunjungi  http://thechrysanthemum.multiply.com/. Ini blog Hasyim yg di Multiply. Selanjutnya, postingan akan ditaruh di dua tempat ya: di FS dan di Multiply.

Happy reading….

Keluarga Bahagia ala Pak Anam

Uncategorized No Comments »

“Apa sebenarnya kunci dari sebuah pernikahan yang langgeng dan bahagia?”

Saya menemukan jawaban dari pertanyaan tersebut di sebuah kesempatan yang tak terduga, dalam perjalanan dari Stasiun Gambir ke Margonda, saat petang memerangkap kami di tengah kemacetan tol dalam

kota

, dari seorang bapak supir taksi yang tidak akan pernah saya lupakan namanya. Pada diri saya sendiri saya berjanji, bahwa suatu saat akan saya tuliskan kisah ini.

***

Namanya Choirul Anam, tertera di kartu identitasnya di dashboard mobil. Lahir di Pacitan, Jawa Timur, 50-an tahun yang lalu. Petang itu, ia mengenakan kemeja biru dengan bordir logo perusahaannya di dada kiri. Suaranya tenang, dan pembawaannya kalem. Kumis tipisnya naik turun waktu bercerita panjang soal perjalanan hidupnya. Sesekali ia melontar senyum sambil melirik ke arah saya yang duduk di sebelahnya. Dua orang sahabat saya yang duduk di belakang, tak jadi tidur mendengar ceritanya. Bertukar pandang lewat cermin rear-view, dua-duanya jadi bangun dan menyimak penuh semangat.

Oiya, hampir lupa, waktu itu saya baru saja mengantar Ibu pulang ke Mojokerto dari Stasiun Gambir. Kereta Bima datang pukul 17.05 dan kami pergi segera setelahnya. Seperti biasa, macet

Jakarta

tak bakal memberi ampun di jam-jam begini. Ketimbang berdesak-desakan di bus atau kereta, akhirnya saya berhasil meyakinkan dua orang sahabat saya –yang ikut menemani mengantar Ibu- buat naik taksi.

“Yang penting nyah-nyah dulu deh: ‘nyahman’ dan ‘nyahmpe’. Nah nanti bayarnya dibagi belakangan.” Bujuk saya. Huehehe.

Ist2_327298neonyellowcab

Percakapan dengan Pak Anam dimulai ketika kami sudah kehabisan bahan bercanda. Kalau tidak salah saat itu kami sedang mengantri di pintu masuk tol. Dua orang yang duduk di belakang sudah lunglai menghempas badannya ke sandaran kursi yang empuk ketika saya mulai bertanya, “Bapak, putranya berapa, Pak?”

Pak Anam kelihatan sedikit kaget, mungkin tidak menyangka saya bertanya aneh-aneh soal keluarganya.

“Anak saya sih sebenernya satu, Mas.” Jawabnya pelan.

Saya mendengarkan saja. Bertanya-tanya sendiri soal makna kata ‘sebenernya’. Hmm, mungkin dia cerai dan nikah dengan janda, atau anaknya ada meninggal atau bagaimana, pikir saya. Belum tuntas saya berkesimpulan, si Bapak menyahut lagi.

“Iya, anak saya sebenernya satu. Tapi adeknya yang banyak: TUJUH!”, katanya dengan ekspresi yang lugu.

Sumpah. Saya tak kuasa menahan tawa. Teman-teman saya di belakang rupanya juga mendengar jawaban Pak Anam yang jenaka itu. Jadilah tawa kami berderai di dalam taksi.

“Wah, Bapak ini bisa-bisa aja. Tapi istrinya satu

kan

Pak?”, tanya sahabat saya di belakang. Bagi kami pertanyaan ini bisa berarti dua: bercanda atau menyelidik. Bercanda, karena nyambung dengan guyonan sebelumnya. Menyelidik, karena sahabat saya cukup punya reputasi sebagai ‘tokoh’ anti-poligami.

“Waduh, saya mah setia Mbak. Saya aja menikah dari dulu cuma satu itu. Itu pun gak habis”, jawab Pak Anam.

“Emang nikahnya dulu umur berapa, Pak?”.

“Waktu itu sih saya masih umur 18-an, istri saya malah baru 14 tahun. Maklum lah Mbak, wong gak ada kegiatan. Sekolah juga gak mampu. Kerja sendirian, capek. Ya udah, nikah aja!”

“Oooo”. Kami melongo.

“Waah, berarti sudah puluhan tahun dong Pak?”

“Walah, ya iya dek, sudah 30 tahun lebih. Anak aja udah banyak, tapi nasib ya kayak-kayak begini juga”. Pak Anam pun bercerita soal nasibnya sebagai rakyat kecil. Betapa sebenarnya dia lebih suka hidup di jaman Presiden Soeharto dimana harga-harga kebutuhan pokok terjangkau, sekolah relatif gampang dan minim masalah-masalah sosial. Ketika tahu kami adalah mahasisiwa UI, ia minta maaf sebelum mengemukakan pendapatnya, bahwa sebenarnya ia menyayangkan aksi-aksi mahasiswa yang cenderung lebih banyak anarkisme daripada kebermanfaatannya. Dari mulut beliau juga kami mendengar bahwa sebenarnya ia rindu sosok seperti Soeharto. “Walaupun korupsi-korupsi di atas, asal harga-harga gak naik mah, gak papalah Mas”, katanya.

Night_view1_1

Tiba-tiba ia melanjutkan, “Tapi saya sungguh benar-benar bahagia lho Mas”.

“Kenapa, Pak?”

“Meskipun hidup begini, saya hampir gak pernah bertengkar dengan istri”.

“Wow”, dua orang perempuan dibalik punggung kami berseru spontan. “Padahal sudah puluhan tahun ya, Pak?”, sahabat saya yang dari tadi lebih banyak mendengarkan kini ikut bertanya.

“Iya, Mbak. Alhamdulillah”

Hari sudah berganti gelap. Tersadar bahwa kami belum mungkin menunaikan Sholat Maghrib, kami pun meniatkan diri untuk menjamaknya.

Mobil masih merayap pelan di tol Pancoran. Pak Anam melanjutkan ceritanya. “Tapi sungguh lho Mas, sampai dengan hari ini saya tuh masih merasa sayang sekali dengan ibunya anak-anak”.

Ada

nada bangga dalam suaranya.

“Yang penting sih, memang kudu sabar dan nrimo. Menikah itu

kan

mendapatkan sesuatu dalam satu paket. Istri kita mungkin ada kelebihannya, tapi pasti juga punya kekurangan.

Ada

waktu-waktu kita harus bersyukur dan ada waktu lain dimana kita kudu bersabar”. Jelasnya, kali ini sambil tersenyum simpul.

Tiba-tiba saja, ada semacam perasaan iri merayap di tubuh saya. Duh, apa bisa saya merasakan hal yang sama ya nanti, saya menerawang sambil berharap-harap cemas. Makin penasaran, saya memberanikan diri bertanya, “Kalau begitu, pasti ada kiat-kiatnya dong Pak?”.

“Iya iya Pak, mau dong dibagi-bagi ilmunya”. Suara dari belakang tiba-tiba-tiba menyeruak antusias.

Spontan saya menyergah, “Hei hei, Ini

kan

ilmu laki-laki buat laki-laki”. Aaaaaaaargh, kenapa mereka gak dengerin aja sih. Kesal saya dibuatnya.

“Heh, Syim. Emang lu aja yang mau nikah?”, maki sahabat saya si anti-poligami. Saya lupa kalau dia udah galak sedari lahir. Fatal! Tak berkutiklah saya dipelototinya.

“Hmm, sebenarnya sih kuncinya satu Mas. Pokoknya jangan sampeee deh suami-istri itu kelihatan bertengkar di depan umum”

Kami mendengarkan, manggut-manggut.

“Maksud saya, kalau sedang menghadapi masalah rumah tangga sebaiknya diselesaikan di ruang pribadi saja. Pokoknya jangan sampai ketahuan orang lain, sekalipun itu anak.” Kata Pak Anam, serius.

“Nah, punya waktu berbicara empat mata itu penting. Menurut saya waktu sebelum tidur itu waktu yang tepat. Saat berdua itu, kita bisa ngajak tukar pikiran dengan kepala dingin, misalnya bertanya, ‘ada masalah apa sih?’, atau ‘bagaimana sebaiknya, ya?’. Yang penting apa yang kita bicarakan jauh-jauh dari emosi dan rasa tidak sabar.”

Kami masih terdiam, seakan tersihir dengan penjelasan Pak Anam yang dalam itu. Mengerti bahwa kami menunggu-nunggu kalimat selanjutnya, Pak Anam meneruskan ceritanya.

“Masalah rumah tangga itu banyak, Mas. Tapi yang paling sensitif biasanya masalah ekonomi. Makanya, kalau gak bener-bener kuat dan sabar, yang namanya cekcok bisa muncul kapan saja. Malah gak jarang

kan

Mas liat ada suami istri yang berantem, teriak-teriak di depan tetangga?”.

“Mungkin karena itu Bapak gak pernah berantem sama Ibu ya?”, tanya saya.

“Berantem sih pernah, wong ya namanya berumah tangga. Tapi dari dulu itu saya selalu mengingatkan supaya jangan bertengkar di depan anak-anak, apalagi di depan tetangga atau orang lain. Lebih baik diomongin baik-baik berdua dan dicari jalan keluarnya. Terbiasa begitu, sepertinya pikiran bisa tenaaaang gitu lho Mas”. Wajah Pak Anam semakin berseri-seri.

Subhanallah. Saya jadi terpekur. Saya jadi bertanya-tanya tentang rahasia Tuhan kepada hamba-Nya. Pak Anam yang hidupnya pas-pasan begini ternyata mampu mengelola sejumput nikmat itu bersama pasangan hidupnya. Mungkin karena itu Allah tak segan menganugerahkan ketenangan bagi keluarga beliau.

Pr_34685_1

Hmmm, tak terasa kami sudah sampai. Jalan Margonda sedang ramai-ramainya sehingga kami memilih diantar ke dalam kampus saja. Setelah membayar saya tidak mau menerima kembaliannya. Saya hanya minta didoakan supaya saya bisa merasakan kebahagian yang sama dengan beliau.

Dan kata ‘amin’ mengakhiri perjumpaan singkat kami petang itu.

Five Minutes Speech, Endless Memory

Hikayat 2 Comments »

Dua minggu lalu, saya diminta memberi pidato di acara seremoni dengan para Profesor mentor dan petinggi Temasek Foundation di NTU. Profesor mentor adalah orang yang ditunjuk untuk ‘menemani’ para peserta LEaRN Programme selama mereka kuliah di NTU. Satu profesor meng-handle 1 - 3 orang. Tugasnya diantaranya adalah untuk memberi advise seputar karier kita dengan mempertimbangkan kemampuan diri dan segala kesempatan yang ada. Maka, jadilah kami-kami ber-60 yang ikut program ini serasa ‘hidup’ kembali, setelah mulai agak bosan tinggal di S’pore.

Kalau soal Temasek, I guess you know who lah! tapi yang datang kemaren itu adalah jajaran eksekutif dari Temasek Foundation-nya, nama CEO-nya Mr. Benedict Cheong. Nahh, mereka inilah yang bayarin kita semua, Sin $ 12,500, dalam bentuk uang kuliah, tiket pesawat, uang saku, dll.

Yang jadi ‘penting’ adalah, di acara itu saya ditunjuk untuk memberikan pidato (tetep ya, Narsis). Entahlah, atas pertimbangan apa saya ditunjuk untuk koordinator acara ini, mungkin karena saya salah satu yang paling ‘berisik’ dan ‘terkenal’ diantara temen-yeman satu program. Huhehehe. Oiya, dua kata itu bisa berarti positif sekaligus negatif lho :D. Akhirnya saya bersedia, dan ternyata saya nggak sendirian, ada Yu Yao juga dari China.

Nih, saya kutipkan speech saya yang lima menit itu

———————————————————————————-

- Greeting -

Ladies and gentlemen

I still remember a life segment of mine, about 2 months ago

I was starring to the sky, thousands feet above, on my flight from Jakarta to S’pore

I was thinking about what I’m gonna head up here. I was wondering about what type of person I’m gonna meet, what kind of environment I have to live in, and what things I would be doing, as I’d chosen to be here for following 5 months.

I kept thinking whether I’m gonna be survive or not, gonna be fail or succeed.

Off the record. This is the first time I used my passport.

The questions were all answered in a short time. The first LEaRn ceremony introduced me to outstanding students from the region. Not only smart, but also kind, funny, and loveable. 

The community service also teaches me many things. I’m working with the children who are unlucky with their life. We give tutorial for them and keep them up with spirit to be a better person. We are here not only for study, but also for giving something to anybody.

And also I have to mention the delicious food, clean and tidy environment, modern transportation, beatiful sightseeing, and people’s warmth, as reasons to fall in love with Singapore.

In behalf of all my friends, I also want to say thank you to Temasek Foundation who supported this program.

It is true that the tuition fee costs few thousands dollars

Air ticket is some hundred dollars

Stipend, food, living cost is some other dollars.

But I’m sure, we do agree that experience and friendship here, are priceless

Someday, when one of us be a leader of their country, be CEO of multibillion company, moviestar, or whatever, We will always remember this moment.

Thank you

———————————————————————————-

Nggak perlu diceritakan betapa senang saya setelahnya. Tepuk tangan membahana di beberapa bagian pidato yang memang saya rancang jadi ‘killing sentence’. Saya disalamin dan dipeluk oleh Mr. Cheong. Beberapa Profesor ngajak kenalan, huehehe. Dan yang paling penting, wajah saya sudah pasti masuk DVD dokumentasi LEaRN Programme. Asik asik. Wakakakk

Sudahkah anda update berita hari Ini?

Suara Hati No Comments »

Pagi tadi gw ikut kelas Public Opinion sesi tutorial. Kalo nggak salah kita
semua ber-limabelas. Semuanya orang Singapura, kecuali gw (Indonesia), Tim
(Hongkong), dan Nastasja (Jerman). Professornya perempuan, orang Taiwan, tapi udah lama ngajar di NTU.

Sepanjang sesi tadi, kita berdiskusi tentang media masssa manakah yang sebenarnya paling berpengaruh untuk mempengaruhi opini publik. Kesimpulannya sih standar, bahwa setiap media massa punya kelebihan dan kekurangannya
masing-masing. Tapi bagi gue yang menarik justru adalah kenyataan bahwa
kita-kita, generasi yang lebih muda, ternyata tidak begitu menaruh
perhatian pada masalah-masalah aktual di sekitar kita.

Masalah aktual yang gw maksud di sini tentunya adalah topik-topik ‘hard-news’ seputar ekonomi, sosial politik, resesi, kenaikan harga barang, pajak, hukum, undang-undang, dan semacamnya. Dan tentu saja bukan soal harga tiket konser Backstreet Boys, Ariel Peterpan bakal cerai sama Sarah Amalia apa nggak, atau tentang siapa-siapa aja yang bakal manggung di JakJazz 2008 nanti.

Inilah beberapa kutipan pendapat dari temen-temen Singapura gw soal kenapa anak-anak muda sono nggak peduli soal berita-berita hangat:

 
“Waktu kita udah abis buat yang lain. OK-lah kita buka internet terus, tapi paling ya buat chatting, Facebook-an, download film atau nyari berita-berita hiburan”

 
“Kayaknya supir taksi di Singapura lebih aware daripada kita deh. Bukan karena kalo lagi nggak ada kerjaan mereka baca koran atau dengerin radio aja, tapi juga nyiapin bahan obrolan buat nyenengin penumpang”

 
“Wah, kayaknya kita bakal mulai peduli kalau udah lebih tua, jadi orang tua, jadi Papa-Mama. Karena kalau udah tua kita harus mikirin pekerjaan, keluarga, dan macem-macem”

 

“Hmm, kalo di MRT atau bus ya? Ya kayaknya mendingan dengerin Ipod lah daripada setel radio. Baca koran? Hmm, kayaknya kita udah kebanyakan baca buku deh di kampus”.

 

Hey, ini yang ngomong anak-anak muda Singapur lho?! Waktu denger komentar-komentar itu mau nggak mau gw ngakak juga. Bukan cuma karena ternyata keadaannya mirip sama yang gw alami di Indonesia, tapi juga karena tuh jawaban emang jujur dan apa adanya. Cuma kalo di Indonesia mungkin jawabannya nambah satu, "ya karena beritanya nggak pernah ada bagus-bagusnya kali!" 


Kalo pembaca sendiri gimana lho?. Sudahkah baca koran hari ini?

Cita-citaku (mu)

Uncategorized 1 Comment »

<!– DIV {margin:0px;}–>

Percaya
nggak kalau dulu gw pernah bercita-cita jadi kondektur? Jangan kaget
juga kalau gw juga sempat kepengen jadi tukang sampah, Wakakakak.


Alasannya sederhana, dulu waktu gw kecil, gw sering banget diajak jalan-jalan naek bus. Nah, di bus itu
pemandangan yang selalu gw liat adalah seorang kondektur dengan segepok
uang di tangan. Entah apakah gw punya DNA matre atau nggak, tiba-tiba
gw merasa “Waaah, enak kali ya kalo jadi kondektur, pegang-pegang
banyak duit.”. Waktu nenek gw maen ke Jakarta
dan nanyain cucu gantengnya mau jadi apa, itulah pertama kalinya gw
bilang kalau gw pengen jadi kondektur. FYI, gw baru masuk playgroup
kala itu.


Motivasi
buat jadi tukang sampah lain lagi. Di tempat gw dulu, di Jatibening,
tukang sampahnya ngorek-ngorek tempat sampah sambil mencangklong
keranjang rotan gedhe di punggungnya. Jadi tuh keranjang ditaruh kayak
lu naruh tas ransel di punggung. Kebetulan gw sering banget maen di
luar rumah dan liat tuh ‘abang-abang’ beraksi. Gw pikir seru juga kalau
gw jadi tukang sampah, karena gw bisa punya tas guedhee banget,
modelnya juga keren lagi. Waktu itu umur gw sekitar 4,5 tahun, lagi
seneng-senengnya sekolah di playgroup.


Menurut
gw, menanyakan cita-cita ke anak-anak memang seperti menyuruh mereka
bermimpi. Jika bermimpi saja harus punya referensi, maka bisa jadi
anak-anak punya keinginan menjadi ‘sesuatu’ karena pernah melihat
‘sesuatu’, atau memiliki pengalaman terhadap ‘sesuatu’ itu. Yah,
kira-kira mirip cerita gw tadi lah.


Jadi
saat guru TK bertanya, “Hayo, Budi cita-citanya mau jadi apa?”, gw sama
sekali nggak percaya kalau si Budi bakal menjawab “Jadi pilot Bu Guru”,
atau “Jadi presiden Bu Guru”, selama dia gak pernah punya pengalaman
atau referensi tentang menjadi seorang pilot atau presiden.


Lantas
kenapa muncul jawaban yang beragam saat anak-anak ditanya soal
cita-cita? Sebutlah cita-cita macam ‘dokter’, ‘tentara’, ‘insinyur’,
‘perawat’, ‘businessman’, dsb? Jawabannya mudah, anak-anak itu mungkin
cuma tahu pekerjaan-pekerjaan tadi  dari apa
kata orang tuanya. Misalnya, “Nak, kamu kalau udah besar jadi dokter
ya!”. “Dokter itu apa, Pa?”. “Dokter itu tugasnya nolong orang,
ngobatin orang sakit”. “Ooh, gitu ya?”. “Iya!”. Itulah mengapa, kalau
pun anak-anak menjawab demikian, itu hanya jawaban di bibir saja (:p).


Coba
deh lu inget-inget apa cita-cita lu waktu kecil dan kenapa lu
bercita-cita seperti itu. Nah, setelah sekian lama masihkah lu memiliki
cita-cita yang sama? Atau mungkin sekolah, kuliah atau pekerjaan lu
sama sekali gak pernah lu harapkan sebeumnya? Atau bahkan ekstrimnya,
lu baru punya cita-cita di hari pertama elu bekerja?


Gw punya temen yang di hari pertama kuliah dia bilang pengen jadi copywriter iklan
kayak bokapnya. Gw kaget karena dua hal: karena gw baru tahu ada
kerjaan dengan nama seperti itu, kopi-kopi apa gitu, dan karena niy
anak kayaknya sangat meng-appreciate kerjaan bokapnya itu sehingga
pengen jadi ‘kopi-kopi apa gitu’ juga. Wehhhh… yang gw tahu siy temen
gw itu sekarang udah kerja di dunia periklanan setelah lulus kuliah dan
sepertinya sangat menikmati dunianya.


See?
Alangkah baiknya jika memberi inspirasi kepada anak-anak untuk
bercita-cita sebaiknya dilakukan sejak jauh-jauh hari. Bagi gue sih,
artinya tidak cuma si anak tahu kerjaan A, B, atau C itu ‘nolongin
orang’, ‘bangun jembatan’, ‘nangkep penjahat’, ‘nerbangin pesawat’,
dsb. Tapi yang paling penting bagaimana anak-anak dibangkitkan minatnya
dengan memberikan contoh dari pengalaman atau dari apa-apa yang mereka
lihat sendiri sebelumnya.


Hmm,
kadang-kadang sampai sekarang gw juga agak bingung kalau orang nanya gw
mau jadi apa. Bukan karena gw gak tahu kemampuan diri gw, tapi mungkin
karena gw udah terlalu tahu segala kekurangan dan kelebihan, juga
keuntungan dan kerugian, di pekerjaan itu. Repot juga! You know what? Salah satu cita-cita gw yang bertahan hingga saat ini adalah jadi Duta Besar RI untuk India, ha ha 121x….


Ya sudahlah, mungkin ada baiknya kita merenung sebentar sebelum melanjutkan hidup.

 

 

Mimpi Tapi Sadar, Mungkinkah?

Artikel 2 Comments »

Pernahkah anda bangun tidur dengan membawa perasaan yang terbawa dari mimpi anda semalam? anda bisa merasa segar dan gembira karena anda bermimpi jalan-jalan ke Paris. Sebaliknya, tiba-tiba air mata
anda menetes karena di mimpi anda berpisah dengan orang yang anda
cintai. Jika iya, anda pun bisa mengendalikan mimpi-mimpi anda untuk
mendapatkan efek yang anda inginkan. Mimpi-mimpi semacam itu disebut
sebagai lucid dreams.


12181224_2 



Lucid dreaming terjadi ketika kita merasa sadar bahwa kita sedang bermimpi. Bahkan, kita tahu kalau sebenarnya kita memang sedang tidur. Stephen LaBerge menguraikan fenomena ini sebagai “dreaming while knowing that you are dreaming.” Misalnya dalam mimpi kita berjumpa dengan Angelina Jolie. Kita berkenalan, berjabat tangan dan kemudian bercakap-cakap dengannya. Bagi orang yang sedang mengalami lucid dreaming, ia menyadari bahwa yang dialami sebenarnya tidak nyata. Namun alam sadarnya dapat mengendalikan isi mimpi tersebut sesuai keinginannya. Bisa jadi dalam mimpi kita bisa mengajak si Angelina Jolie itu jalan-jalan atau makan malam. Terserah anda.

Fenomena ini memang masih diragukan secara ilmiah. Pasalnya, ternyata tidak semua orang dapat melakukannya. Kalaupun pernah mengalami agak sulit mendifinisikan mimpi tersebut sebagai lucid dreams. Memang benar efek mimpi dapat terasa di kala bangun tidur, namun orang-orang tersebut tidak dapat mengingat detil mimpinya, apalagi sampai memiliki kemampuan untuk mengendalikannya. Suatu contoh, saat bangun tidur kaki Tono terasa pegal-pegal. Tono ingat kalau malamnya ia bermimpi main sepak bola, namun di mana dengan siapa mungkin ia lupa. Orang awam pun kadang tidak dapat menemukan pembenaran atas hubungan mimpi main bola dan kaki pegal-pegal. Bagaimana mungkin kejadian di mimpi memiliki pengaruh sampai ke dunia nyata.


Castle



Bagi para ahli yang mempelajari fenomena lucid dreams, hubungan mimpi dan dunia nyata adalah niscaya. Mereka percaya kejadian di mimpi dapat dipermainkan sedemikian rupa untuk memenuhi keinginan kita. Efeknya pun bahkan dapat kita rasakan secara fisik dan psikologis. Diantara kegunaan lucid dreming adalah untuk kesenangan, rekreasi, sugesti dan motivasi. Bahkan, cara ini bisa menjadi altrernatif solusi masalah-masalah sosial anda. Anda adalah seorang public speaker yang buruk? Dalam mimpi, anda bisa menciptakan kondisi dimana anda berada di depan sekerumunan khalayak. Anda pun dapat ‘berlatih’. Tak perlu takut dan malu, toh anda tak pernah kenal dan tahu siapa orang-orang di kerumunan itu.

Bagi anda yang sedang mengalami konflik dengan orang-orang di sekitar anda, cara ini juga bisa dijadikan bahan pertimbangan untuk mencari cara menyelesaikannya. Bayangkan saja anda melakukan solusi A pada rekan anda dan lihat reaksinya. Pada mimpi selanjutnya anda lakukan hal yang sama, tapi dengan solusi yang berbeda-beda. Dijamin, anda akan punya tambahan keberanian untuk bertindak secepatnya.


Mewujudkan Mimpi Menjadi ‘Nyata’: Empat Teknik melakukan Lucid Dreams

Ternyata tak mudah untuk mengendalikan mimpi kita. Perlu banyak belajar dan latihan. Disarikan dari situs ensiklopedi wikipedia.org, Berikut empat metode yang ditemukan para ilmuwan untuk mencapai kemampuan lucid dreaming.


Clouds

Mnemonic induction of lucid dreaming (MILD)

Cara ini adalah yang paling sering digunakan oleh para pemula. Sebelum tidur, kita harus mengingat-ingat hal apa yang ingin kita hadirkan di mimpi. Cara ini ditemukan dan dikembangkan oleh Stephen LaBerge. Diulas lengkap dalam bukunya Exploring the World of Lucid Dreaming.

 

Wake Back To Bed induction technique (WBTB)

Cara ini adalah cara yang paling mudah dilakukan. Anda harus tidur dalam keadaan yang sangat lelah dan bangun lima jam kemudian. Selama satu jam anda memfokuskan diri pada lucid dream anda. Setelahnya, lanjutkan tidur anda. Cara ini mampu meningkatkan keberhasilan lucid dreaming. Hal ini terjadi karena otak sedang dalam keadaan yang paling kondusif untuk berfantasi. Mimpi yang terjadi pun akan terasa lebih lama dan nyata.


Cycle adjustment technique (CAT)

Dengan metode ini, ilmuwan perlu mempelajari siklus tidur orang terlebih dahulu. Setiap orang memiliki siklus kerja otak yang berbeda-beda saat mereka tidur. Dengan mengetahui siklus tidurnya, seseorang dapat menentukan kapan waktu yang tepat untuk melakukan lucid dreaming

Aural Focusing technique

Cara ini cukup rumit dan belum dapat dijelaskan secara utuh oleh para ilmuwan. Aural focusing technique dapat dilakuakan ketika seseorang sedang berada di dekat sumber audio, misalnya radio, televisi atau tape. Dalam keadaan terjaga ia berada dalam posisi yang rileks sambil berkonsentrasi mendengarkan musik atau suara-suara dari sumber audio.

Biarkan dia sampai mengantuk dan tak dapat menahannya lagi. Pelan-pelan kecilkan suaranya hingga sampai terdengar sayup-sayup. Si pendengar yang mulai mengantuk tadi kemudian diminta membayangkan dirinya terbang, naik ke angkasa dan menyusuri bintang-bintang yang tak terbatas jumlahnya. Cara ini kemudian akan membawa orang tersebut ke alam mimpi. Uniknya, dalam mimpi ia akan mendapati dirinya berada dalam ruangan yang sama. Suara-suara yang didengar sebelum tidur pun terdengar jelas di alam mimpinya.

(Tulisan turun cetak untuk Majalah Koma, Departemen Ilmu Komunikasi FISIP UI, Oktober 2006)
 

 

Luka Sejarah

Uncategorized No Comments »

In four months, five times as many people died in Indonesia as in Vietnam in twelve years. (Bertrand Russel, 1966)

13261031_1


Puluhan tahun sebelum konflik Poso, Sampit dan Maluku, tak banyak orang Indonesia yang tahu bahwa negeri ini pernah bersimbah darah. Tahun 1965-1966, pasca peristiwa Gerakan 30 September Partai Komunis Indonesia (G 30-S/PKI), di sejumlah daerah di Indonesia terjadi pembantaian jutaan orang yang ditengarai memiliki hubungan dengan PKI. Entah simpatisan atau bukan asal dicap ‘PKI’ hampir pasti dikejar-kejar. Tak urung, keluarga, teman, bahkan orang-orang yang pernah berhubungan dengan si simpatisan, turut pula masuk dalam target pembantaian.


Peristiwa ini direkam oleh Iwan Gardono Sudjatmiko dalam disertasinya di Universitas Harvard (1992) yang berjudul The Destruction of the Indonesian Communist Party (a comparative analysis of East Java and Bali ). Sejarawan Hermawan Sulistyo turut pula memaparkan peristiwa pembantaian massal tersebut dalam disertasinya di Arizona State University (1997), The Forgotten Years: The Indonesian Missing History of Mass Slaughter (Jombang-Kediri, 1965-1966).


Minimnya pemberitaan pada masa pasca G-30-S PKI ini turut mengaburkan jumlah pasti korban pada peristiwa tersebut. Dari 39 artikel yang disarikannya, Robert Cribb memperkirakan jumlah korban sebanyak 78.000 sampai 2 juta orang Dari situ ia kemudian mendapatkan angka rata-rata 432.590 orang.


Sedangkan Hermawan Sulistyo menyebutkan bahwa sebanyak 40.000 – 100.000 orang dibantai di Bali . Harian New York Time, pada 13 Januari 1966, melansir data bahwa korban jiwa dari bulan Oktober 1965 - Januari 1966 telah mencapai 150.000 orang. Data tersebut mengantarkan suatu petunjuk bahwa reaksi masyarakat pasca gerakan G-30-S PKI sangat dahsyat dan masif. Terbukti, dalam tempo kurang dari satu tahun, jumlah korban membengkak dalam tragedi pembantaian itu.


Menurut Robert Cribb, ada empat faktor yang menyulut pembantaian masal itu. Pertama, budaya amuk massa , sebagai unsur penopang kekerasan. Kedua, konflik antara golongan komunis dengan para pemuka agama islam yang sudah berlangsung sejak 1960-an. Ketiga, peran serta militer yang diduga turut berperan menggerakkan massa . Keempat, provokasi media yang menciptakan sosok PKI sebagai ‘musuh bersama’.


Dalam waktu beberapa dekade terakhir, terbit penelitian dan karya-karya soal runtutan peristiwa G-30-S PKI: siapa dalangnya?; bagaimana konspirasinya?; kejanggalan-kejanggalan apa di belakangnya?; siapa pihak yang diuntungkan?; dan semacamnya. Sejumlah sejarawan yang menaruh minat dalam hal ini diantaranya adalah Hermawan Sulistyo, C.A Dake, Robert Cribb, Peter Dale Scott dan Asvi Warman Adam.

Ketika mantan Presiden Soeharto meninggal beberapa waktu lalu, maka sekeping besar potongan sejarah juga ikut terkubur. Belum ada jawaban pasti tentang siapakah dalang sebenarnya peristiwa 30 September dan rentetan pembantaian selanjutnya. Mungkin perlu waktu untuk membiarkannya terurai kembali dan menemukan asal usulnya.


Bersamaan dengan itu saya berharap semua pihak yang merasa dirugikan dapat memaafkan ‘luka’ sejarah ini. Pun pihak yang antipati bisa menjadikannya sebuah pelajaran berharga.

Bagi saya sejarah dipelajari bukan untuk diulang, tapi entah mengapa banyak hal terulang seperti layaknya sejarah.

Satu Anak Cukup?

Artikel 2 Comments »

China adalah sebuah negara yang terletak di kawasan Asia Timur. Terbentang menyelimuti hampir seperempat Asia daratan. Dengan luas wilayah mencapai 9.600.000 km persegi, China menjadi salah satu negara yang terbesar di dunia. Pada tahun 1998 penduduknya mencapai 1,24 milyar jiwa. Jumlah sebesar itu menjadikannya sebagai negara dengan penduduk terbanyak di dunia. Namun kepadatan penduduk China tidaklah merata karena 90 persen penduduk cuma menempati 16 persen wilayahnya.


Berdasarkan laporan Human Development Index (HDI) tahun 1995 China masuk ke dalam golongan negara menengah dengan indeks 0,65. Pendapatan per kapita penduduk adalah US$ 4.382 per tahun. Angka ini tergolong lumayan untuk ukuran negara berkembang, apalagi dengan jumlah penduduk yang lebih dari satu milyar China juga menghadapi masalah-masalah sosial kemasyarakatan yang relatif lebih pelik.


Hampir empat dekade sebelumnya China mengalami masalah kependudukan yang kronis. Pertumbuhan penduduk merangkak menembus angka 4 persen per tahun. Pada dekade 1950’an diperkirakan jumlah penduduk China bertambah 55 juta jiwa setiap tiga tahun. Dengan keadaan tersebut, Liu Zeng, ahli demografi dari China, memperkirakan bahwa penduduk China akan menembus angka tujuh milyar dalam seratus tahun kemudian.


Berdasarkan pertimbangan tersebut, pemerintah China merasa perlu untuk mengatasi population explosion dengan segera. Maka, sejak tahun 1953 mereka mulai mengeluarkan kebijakan-kebijakan konstitusional, misalnya UU tentang Kontrasepsi dan Aborsi Ilegal. Undang-undang tersebut merupakan bentuk reaksi paling awal dari pemerintahan komunis yang memerintah pada saat itu.


Kebijakan yang paling ekstrim adalah dengan diberlakukannya “One-Child Policy”, yakni program pemerintah yang menginginkan setiap keluarga China hanya memiliki satu anak. Program ini merupakan puncak dari kebijakan-kebijakan sebelumnya. Diperlukan waktu 26 tahun (1953 – 1979) untuk memulai satu kampanye tunggal (grand campaign) tentang pentingnya memiliki satu orang anak saja.


Uniknya, menurut Christoper Dempsey, dalam benak masyarakat China telah tertanam filosofi “negara kuat karena banyak penduduk”. Pemikiran ini merupakan salah satu nilai yang diajarkan oleh kekaisaran China dari dinasti ke dinasti. Maka, ketika periode kekaisaran runtuh, pemerintah komunis tidak hanya harus berjuang melawan ledakan jumlah penduduk, tetapi juga nilai-nilai tradisional masyarakatnya (Dempsey, 2000).


Ekonom Robert Malthus menulis konsep tentang voluntary action dalam upaya mengontrol populasi secara preventif (Malthus, 1798). Pemerintah China nampaknya menyadari hal ini, bahwa sejatinya keputusan untuk melaksanakan program-program anti natalitas berasal dari masyarakat.


Selain itu, dimensi waktu juga memiliki peran yang signifikan di dalamnya, sebab tidaklah mungkin mengubah konsepsi masyarakat hanya dalam hitungan minggu atau bulan.


Knchina_babies_wideweb__470x3160



Kebijakan “One-Child Policy” lantas diberlakukan secara massif kepada masyarakat. Pada awalnya dijumpai kesulitan-kesulitan pada pelaksanaan program ini. Salah satunya adalah karena adanya resistensi masyarakat. Sebagian dari mereka ada yang menolak melakukan sterilisasi, melakukan pemalsuan akte kelahiran, bahkan menyuap dokter untuk mendapatkan surat keterangan aborsi. Hal tersebut, sekali lagi membuktikan bahwa diperlukan upaya pemerintah yang lebih serius untuk mempropagandakan program ini. Terbukti, dengan melakukan beberapa modifikasi peraturan, program ini menunjukkan hasil yang sangat signifikan. Pada tahun 1999 misalnya, angka kelahiran kasar (crude birth rate) menyentuh titik terendah sejak 1949, yakni 15,23 kelahiran per 100 wanita subur.


Berikut adalah sejumlah insentif yang diterima oleh keluarga yang berhasil melaksanakan ‘one-child policy’: Birth coupons; Monthly financial rewards; Extended maternity leave; Increased land allocation; Preferential treatment in education; Housing and employment; dan Pension benefits.



Bei004

Imchn30



















Sebaliknya, pasangan yang melanggar atau gagal melaksanakan program ‘One-Child Policy’ akan mendapatkan sejumlah ‘hukuman’, diantaranya: segala ‘kemudahan’ lenyap saat anak kedua lahir; denda sebesar 15 % dari total pendapatan keluarga; anak tidak mendapatkan tunjangan kesehatan atau pendidikan gratis; keluarga tersebut tidak bisa mendapatkan tunjangan pensiun; atau sang anak tidak terdaftar sebagai penduduk negara RRC.Terdapat sedikit pengecualian dalam pelaksanaan program ini.


Dalam kegiatan penyebarluasan program “One-Child Policy”, China tentu membutuhkan alat propaganda. Karena bentuk negaranya komunis, maka tidaklah sulit untuk mengontrol propaganda lewat media massa yang seluruhnya adalah kepunyaan pemerintah. Singkatnya, program “One-Child Policy” adalah sebuah fenomena yang menarik. Pemerintah, terlepas dari apapun bentuk negaranya, berhasil mendayagunakan media, agen perubah, serta warga negaranya sendiri untuk mencapai keberhasilan program pembangunan.


Pada beberapa daerah pedalaman, pasangan boleh memiliki anak kedua setelah rentang waktu beberapa tahun. Diperbolehkan juga memiliki 2 atau 3 anak jika salah satu atau kedua orang tuanya adalah golongan etnis minoritas atau, ini yang konyol, kedua orang tuanya masih anak-anak


Terserah anda mau menilai program ini seperti apa, saya sih gak mau kalau punya anak satu saja, gak rame!. Tapi mungkin ada benarnya jika China yang sekarang bisa maju karena gak mikirin anak banyak. Wallahualam!

Family_1

School Time…

Hikayat 3 Comments »

Thanx buat orang yang ngirim-ngirim ini di Bulletin Board, :p. Setidaknya, ini menyegarkan ingatan gw lagi ttg masa-masa sekolah dulu…..

1. rajin/males?

SD : "Rajin sekali, gw dulu seneng banget kalo ulangan gw nilainya 100"

SMP : "Idem, tapi kalo pelajaran geografi pengennya ngabur aja"

SMU : "Kacauuu, banyak kerjaan di OSIS. Seminggu bisa skipping kelas 2 - 3 kali. Buruk, jangan ditiru!"

2. ranking?

SD : "Antara 1 - 3", anak baik, anak manis

SMP : "Antara 1 - 5", anak baik, anak manis, anak lucu

SMU : "Antara 2 - 5", anak bandel

3. suka bolos? 

SD : "No, clean sheet!"

SMP : "No, innocent record!"

SMU : "Hmmm, sering, tapi demi tugas negara"

4. jatuh cinta … kali?

SD : "1 kali….."

SMP : "2 kali….."

SMU : "Berkali kali…..!"

5. nama 1st love kamu? 

SD : "Hmmm, gak perlu dijawab ah"

SMP : "Heeh, kan udah gw bilang nggak usah ditanya2in!"

SMU : "Sorry, no comment!"

6. les mata pelajaran?

SD : "Semua mata pelajaran, menjelang EBTANAS"

SMP : "Les fisika dan Bhs. Inggris, tapi cuma sebulan. Bosen, karena yg ngajar di bimbingan guru-guru gw juga di SMP"

SMU : "Les ‘akurasi dan tendangan bebas’ sama Angga Novrisya"

7. kursus bahasa inggris?

SD : "Nope"

SMP : "Big nah nah!"

SMU : "Sekali, cuma 2 x pertemuan. Guru lesnya kabur bawa uang pembayaran kita-kita. Suerrr!"

8. kalo bolos ke…?

SD : -

SMP : -

SMU : "Ke lomba ilmiah, ke tempat seminar atau pelatihan, ke ruang OSIS, ke print center, ke Dinas Pendidikan, atau ke tempat donatur/sponsor -nyari duit-"

9. kalo jam BP/BK?

SD : -

SMP : "Duduk, diem, gurunya galak banget!"

SMU : "Duduk, baca buku, suara gurunya bikin ngantuk"

10. ngelanggar praturan?

SD : "Hmmm, berantem sama Wawan. Tendang-tendangan. Gw nangis, dia enggak!"

SMP : "Bikin temen gw nangis karena gw ledekin habis-habisan nama bokapnya"

SMU : "Jadi hakim garis di pertandingan sepakbola yg rusuh, karena soal taruhan. Padahal waktu itu gw jadi Ketua OSIS. Kita dihukum dan disuruh nulis surat pernyataan bermaterai ke Kepolisian. Ampuuuun deh!"

11. suka olahraga… ?

SD : "Football : Goalkeeper"

SMP : "Football : Winger"

SMU : "Football : Midfielder"

12. nyontekin/nyontek?

SD : "Sumber contekan Matematika, resipien contekan Bahasa Inggris

SMP : "Clean sheet, horeeeeeeee!"

SMU : "Sumber contekan Bhs. Inggris, resipien contekan fisika!"

13. dihukum guru…?

SD : "nulis tidak akan telat ribut di kelas, 50 kali, di kelas 5, bareng Affani si kribo"

SMP : "dicubit di paha sama Pak Sunari, karena duduk di bangku taman yang khusus buat cewek. Sakiiit tenan e!"

SMU : "Nggak pernah tuh, syukurlah!"

14. isi titik2 di bawah ini : perpustakaan adalah tempat….?

SD : "mencari buku cerita dan kisah-kisah pahlawan"

SMP : "mencari novel-novel Balai Pustaka dan sastra Indonesia"

SMU : "ngobrol-ngobrol dan rapat rahasia"

15. suka matpel seni?

"never never never!, never ask me that once again!"

16. plajaran yg paling dibenci — disukai?

SD : "Ilmu Pengetahuan Sosial, khatam habis dua jilid buku RPUL dan Buku Pintar Iwan Gayo." —- "Bahasa Inggris, I was just tooo…. Javanese!"

SMP : "Sejarah, seems like I could see it like video sets" — "Geografi, serasa lamaaaaa banget padahal cuma dua jam. Ooh, Bu Tuty, mengapa orang sebaik engkau harus mengajar pelajaran itu!"

SMU : "English, I am in love, hehe" — "Fisika, gw gak pernah ngerti kenapa pelajaran itu cuma diadakan di dalam kelas melulu. Gw paling gak bisa berandai-andai"

17. kenangan paling mengharukan semasa skul?

SD : "ditinggal Mama gw kerja di luar negeri"

SMP : "nembak seseorang, tapi dianggep becandaan, Kyaaaa!"

SMU : "satu sekolah lagi sama orang yang sama di kalimat sebelumnya, ha ha ha!"

18. kenangan paling menyenangkan semasa skul?

SD : "Konferensi Meja Kotak : Dhita, Mia, Mukti, Nina"

SMP : "Kelas 1.3 dan 2.6 : love, laughter, friendship, intrigue, uniqueness"

SMU : "Kelas 2.3 : football, trust, self-transformation"

Kelas II.3: Semua Bermula dari Sini…

Hikayat No Comments »

Melintasi Jalan Raya Jurong menuju terminal Boon Lay, bus yang gw tumpangi sejenak berhenti. Kami tertahan oleh lampu lalu lintas yang menyala merah di jalan yang sebenarnya tidak begitu ramai itu. Agak kesal juga karena harusnya perjalanan bisa lebih cepat dari biasanya, tapi entah kenapa bus-nya agak-agak lelet hari itu. Pandangan gw berkeliaran memandangi apa saja buat mengusir bosan. Mencitra sejenak, mata gw akhirnya tertumbuk ke sekerumunan anak Secondary School yang sedang bermain sepak bola.


Baju olahraga berlogo yang mereka pakai menandakan bahwa jam pelajaran Physical Education (PE) sedang berjalan. Mereka berlarian menendang bola kesana kemari di lapangan rumput  yang di’kurung’ pagar  teralis besi setinggi bus tingkat yang gw naiki. Sang coach, mungkin guru olahraganya, berdiri di sisi lapangan sambil sesekali meniup peluit. Mengasyikkan.


Nfootie08b

 

Tak sampai semenit, SBS Transit No. 30 yg gw naiki bergerak perlahan. Pandangan gw masih belum lepas dari bocah-bocah yang kesenangan itu. Sekrup memori gw terjentik, dan kenangan masa SMU dulu tiba-tiba berlompatan menampilkan semacam playback video pada sandaran kursi di depan gw……


Kelas 2.3 : Membuka lembar pertama

 

24740228154121l Sebulan setelah umur gw bergeser ke angka 15 , gw mengawali tahun kedua di SMU. Menurut daftar absensi siswa yang dibagikan di hari pertama Tahun Ajaran 2001/2002, nama ‘Hasyim Widhiarto A.D.A.K’ tertera pada lembar absensi Kelas 2.3, di nomor urut 4. Segera setelah upacara bendera, gw melihat nama-nama bakal teman gw di kelas yang baru ini.

Seperti lazimnya sekolah-sekolah di Indonesia ,sekolah gw mengacak daftar siswa di kelas berikutnya. Maka, tidak ada yang lebih menarik buat gw dan teman-teman selain memastikan ada ‘siapa’ di kelas kita.

 

“Waduh, kok gak akeh sing kenal iki rek!”, kalimat itu yg masih gw inget setelah membaca nama-namanya.


(Uups, gw lupa bahwa banyak orang non-Jawa yg baca blog ini. Hmm, kira-kira artinya: “Duh, kok gak banyak yang kenal (akrab) ya?!?!”. Nah, ngono pembaca!”)


Hari pertama, was soooo sad! Awalnya, jumlah siswa 42 orang. Tapi ternyata ada pengumuman bahwa kelas gw ketambahan satu orang anak baru pindahan dari Kota Malang.  Si
anak baru ini –namanya Amalia-
mengganjili (bukan menggenapi, red) jumlah siswa menjad 43 orang.
Akibatnya, ada satu orang anak yang nggak dapet temen duduk sebangku.
Siapakah dia?? Dia adalah siswa dengan nomor urut….. EMPAT!! Sooooo sad!

 

Kelas 2.3 dan Tim Sepakbola


Karena perpaduan di kelas kami sangat beragam, maka sangat tidak gampang juga membangun sebuah tim sepakbola. Tidak ada lebih dari empat pria yang dulu pernah sekelas di kelas satu. Dari jumlah itu pun, juga tidak semuanya main bola. Ampun deh!

 

Maka, jadilah semuanya berebutan jadi coach (pelatih) dadakan. Coach di sini kira-kira berarti orang yang berwenang menentukan siapa main di posisi mana, strategi apa yang dipakai, juga kapan jadwal bertanding kita.

 

Di hari pertama pelajaran olahraga semuanya masih pada sok jago. Sampai akhirnya waktu ganti baju kita semua sepakat (secara aklamasi) mengangkat M. Affan Prasetyo (si Apang/Affan) sebagai manajer. Hmmm, alasannya? Just simply because: dia yang paling banyak ngomong, nggak mau kalah dan nggak tahu malu, paling item lagi. Hua ha ha.

 

Di bawah asuhan coach Affan dan manajer tim Meita Mayasari Harlinah (Meita), tim sepakbola 2.3 menjelma menjadi salah satu kekuatan sepakbola yang ditakuti di kancah sepakbola lokal SMU Negeri I Sooko Mojokerto. Dalam seminggu setidaknya kami bertanding satu kali melawan tim dari kelas lain. Gw lupa persisnya berapa kali kita main-memang-kalah-seri-memasukkan-kemasukan, apalagi berapa kartu kuning dan kartu merah masing-masing pemain. Hehe. Tapi yang jelas, dalam waktu sekitar dua bulan, tim 2.3 menjadi salah satu kiblat sepakbola SMU gw, bersaing dengan kelas 2.5 dan 1.8.

 

Football1


Squad lengkap kami adalah sbb (mudah-mudahan nggak ada yang ketinggalan ya!)

GK: Martino D.K, M. Kholid Marzuqi. Belakang: Aminsyah, Nanang, Vallen, Vindra, Wibakti, Firman. Tengah: Vindra, Hasyim, Fala. Depan: Affan (c), Dicky R.B.

Manajer: Meita Mayasari Harlinah

Medis: Ismanu, Andhes, Saguh, Deasy, Lia, Shinta, Maya

Sponsor: Segenap siswa 2.3 yang uang sakunya masih sisa di siang hari menjelang pertandingan.

 

Yah, karena jumlah kami juga pas-pasan, maka repotlah kalo ada yang absen di hari pertandingan. Kalo udah begitu, maka anak-anak cowok yang gak bisa main bola pun terpaksa kita bujuk-bujuk supaya ikut.


Maka, ketika pertandingan berjalan seringlah muncul pertanyaan-pertanyaan macam ini: “Med, Memed, offside itu apaan sih?” atau, “ini tandingnya berapa lama sih? Kok gak selesai-selesai?”. Atau, “Lho, lho, lho, yang lain kok pada maju semua? Aku ditinggal jadi kiper sendirian? (terisak), janjinya tadi boleh ngajak temen?! Hu hu”, Glek!!

   

Tim Kebanggan Kami : Kaya Ragam, Kaya Duit, Miskin Gelar 

Mixed20copy744392

Bicara soal kesuksesan nampaknya relatif. Entah kenapa Dewi Fortuna tidak pernah berpihak pada klub kami saat lomba-lomba resmi. Kami nggak pernah juara di acara Class Meeting. Tiga kali lomba itu dibikin, masuk semi-final pun nggak pernah. Mungkin tampang kami yang berwarna-warni itu (item, putih, ijo belang-belang, bule, albino, sawo mateng) bikin Dewi Fortuna mual-mual waktu mau ngasih keberuntungan. Haaah, lupakan sajalah!

 

Tapi kalo dari sisi keuangan, sepertinya klub kami ini yang paling sustain diantaranya klub-klub lain. Ehem ehem, off the record, adalah rahasia umum kalau tanding bola pasti kudu pake taruhan. Alasannya sih, katanya, buat beli minum. Ntar yang kalah nraktir yang menang. Tapi gw juga gak pernah peduli, yang penting maen aja. Urusan taruhan dan tetek bengeknya ya si Affan dan beberapa orang lain. Maka, jadilah selalu ada uang yang dipertaruhkan sebelum deal pertandingan diumumkan. Jumlahnya kalau nggak salah bisa 30-ribu, 40-ribu, 50-an ribu, segitulah. Seinget gw sih, belum pernah nyampe angka seratus ribu sekali main.   


Nah, selama setahun itu udah nggak kehitung kita bertanding sama sapa aja. Kalah sih pernah, tapi kayaknya menang lebih sering. Setelah dipotong buat minum, bayar wasit, beli bensin, makan nasi pecel, atau soto si Emak, dsb, ternyata masih ada sisa Rp. 300 ribu. Demikianlah laporan Manajer Meita menjelang tahun ajaran 2001/2002 berakhir. Wow!! Jumlah segitu tuh banyak banget bagi kita.

 

Setelah berunding dengan khidmat, kita semua (cowok-cowok bola) sepakat bahwa duitnya disumbangin aja buat dana awal Acara Perpisahan Akhir Tahun. Ternyata anak-anak cewek banyak yang nggak setuju, “Iiiiih, itu kan duit haram!”, kata Chunda dalam rapat dengar pendapat tidak resmi -saat Tuhan menganugerahkan kami jam kosong-. Ribut!! Keputusan pun diambil, itu duit nggak akan dimasukkin ke pos pemasukan Acara Perpisahan. Uang Rp. 300.000 itu bakal dipake buat membiayai survei tempat di Telaga Sarangan Caruban minggu berikutnya, dan harus HABIS!!

Cartoon_money_01


Akhirnya enam orang, -Gw, Meita, Andhes, Ismanu, Lia, dan Narulita-, berangkat ke Telaga Sarangan dengan membawa misi penting itu. Untungnya kami semua berhasil kembali dengan selamat setelah misi kami selesai. “Hhhuuufph, whatta day!”. Oiya, 300 ribu itu pun habis juga buat bayar sewa mobil, honor supir, beli bensin, makan sate kelinci, ngasih uang muka villa, dan pesta kelapa muda di Hutan Saradan.

Oooooh, kalau ingat masa-masa itu, rasanya waktu telah berputar sedemikian cepatnya hingga hari ini!

Miss u all guys, hope 4WI guide you all d way….

Hey, d u know that my tears fallin when I finish typing this???!?! hehe

 

 


Theme & Icons by N.Design Studio.
Entries RSS Comments RSS Log in