catatan kecil: Feromon..,Gw dan Anggia
Uncategorized June 27th, 2006Blog ini terdiri dari dua bagian yang sambung-menyambung. Gw nulis dua paragraf pertama, sebelum akhirnya dipanggil rapat sama anak2 PSDM plus Zidni. Komputer gw tinggal aja, gak tahunya di situ ada Anggia, salah satu staf gw –berjilbab panjang, tough, dan termasuk yang paling rewel soal masalah “begituan”. Dia nyuri2 baca tulisan gw dan…….. dilanjutin!. Waduh,,, tapi setelah gw baca, isinya nyambung juga kok, he he. Nah, inilah tulisan kolaborasi dadakan, gw dan Anggia.
***
“Tadi pagi, gw ngobrol sama Neqy. Neqy tuh adek kelas gw di Kom UI. Kebetulan dia mau berangkat umroh minggu depan, jadi dia nanyain gw mau nitip doa apa selama dia di tanah suci. Maka, setelah gw mengetik semua wishes gw, tuh kertas gw kasih dia di Taman Korea. Bisa jadi, itu pertemuan terakhir kita dalam sebulan ini, cuz dia gak akan ke kampus lagi sampai pulang umrah, bulan depan. Seperti biasa kalo kita ketemu, terlibatlah kita dalam sebuah perbincangan seru, tentang…………Feromon.
Feromon tuh adalah nama senyawa kimia yang dimiliki serangga. Zat ini dapat digunakan lebah untuk menarik pasangan. Baunya dapat dipindai sampai jarak 500 km. Luar biasa. Dengan bau-bauan itulah, lebah dan serangga lainnya dapat mencari pasangan yang di’mau’nya. Lebah jg gak perlu TP-TP untuk mencari pasangan, cukup dengan hormon itu, ia dapat menaklukkan pasangannya. Jujur, gw juga baru tahu tentang itu dari Neqy. Itupun karena -setelah obrolan itu- berkesimpulan bahwa kita sama-sama memiliki Feromon yang berlebih.
Dalam konotasi positif, memiliki banyak Feromon berarti potensi untuk memiliki teman.” (gw dipanggil rapat, Anggia masuk, baca ketikan ini dan dilanjutkannya). “Sedangkan dalam konotasi negatif, Feromon berarti potensi untuk senantiasa berdekatan dengan lawan jenis dimana hal ini merupakan hal yang manusiawi dari seorang manusia. Manusiawi, namun karenanya-lah sebuah sistem diciptakan oleh Sang Maha Sempurna untuk memanusiakan manusia.
Feromon, kali ini hanya merupakan pembuka kisah curahan hati Kakek Hasyim kali ini. Kakek Hasyim, adalah kakek kami di organisasi Senat Mahasiswa FISIP UI yang memiliki keinginan untuk mencari seorang nenek dalam mengisi kehampaan hidupnya. Kakek Hasyim, adalah tempat Bunda, Mama, Oom dan Tante kami berbagi. Kakek Hasyim adalah kakek, baik dari segi wajah maupun pengalaman hidup, bagi kami. Saat kami menulis ini, kakek sedang berada di ruangan rapat bersama Bunda, Mami dan Abi Uchi Abi Gam. Mereka bersama, membahas permasalahan hidup yang kian hari kian kompleks. Betapa hidup demikian berwarna, dimana warna tersebut menggores kertas putih hati yang membuat jiwa kian kaya pengalaman menapak sebuah pendewasaan. Bersama, mereka menggores cerita dalam hidup yang kelak akan menjadi kisah klasik untuk masa depan. Masa depan, memang belum tampak hari ini. Semua demikian abstrak. Namun patut direnungi, bahwa dunia hanya akan dirubah oleh orang-orang yang berteguh hati. Sulit, memang. Namun tak adalah salahnya berusaha. Toh, Sang Pencipta menilai usaha.
Sesungguhnya Allah memberikan dunia kepada orang yang Ia cintai dan orang yang ia benci. Dan Ia tidak akan memberikan iman kecuali kepada orang yang Ia cintai
(H.R At-Tirmidzi)
—-presented by Battle of Hadits Team, Kakak dan Abang——
Kakek, kami hanya ingin berpesan sekadarnya. Hati manusia, Dia-lah pemiliknya. Kebahagiaan, kesedihan dan berbagai rasa yang tercakup didalamnya merupakan kehendak-Nya. Berusahalah untuk dicintai-Nya, Kek, maka manusia akan mencintaimu. Hidup ini singkat, terlalu singkat untuk diisi dengan kesemuan dunia (baca: hanya janji Sang Pencipta yang tak pernah ingkar)”
***
June 27th, 2006 at 9:35 am
Subhanallah… Anggia kenapa ga jadi fisipers aja? Wah… tulisan ini cukup untuk membuatku merenung… dan merenung… dan solat minta petunjuk Nya…
June 27th, 2006 at 9:39 am
kalimat yang harusnya di underline… “dunia hanya akan dirubah oleh orang-orang yang berteguh hati”
ps: benar2 penetralisir sejati… thanks to anggia…
October 1st, 2006 at 7:57 am
Kek, sumpe gw baru baca nih blog..
Jadi nostalgia waktu muda dulu.
Hohoho