Siang tadi, di Aula AJB di kampus, gw hampir menangis. Seratusan orang lebih anggota baru Senat FISIP ngumpul untuk pertama kalinya. Hampir sama kayak tahun lalu, masing-masing Biro dan Departemen memperkenalkan diri pake gaya dan yel-yel aneh, konyol dan gokil. Persis setahun yang lalu, gue inget guwe mimpin anak2 Humaz bernorak-norak kayak gitu. (Jadi inget Nisa ma Anty, jg anak2 gw! -sentimental mode-) Sekarang, gw dan temen2 BPH-inti yang gantian nonton, ketawa-tawa dan jadi juri. Gw terus teringat satu hal: Tugas berat gue untuk memastikan bahwa senyum dan kegembiraan tadi siang akan bertahan sampai 365 hari ke depan.

Yang bikin gue (hampir) menitikkan air mata adalah suasananya. Gak terasa setahun lalu gue masih bisa bercanda-canda bareng anak2 Humazzz. Gokil segokil2nya, bikin yel-yel,pake lagu India juga lagi. Sekarang gue harus berada dalam posisi yang menuntut gue untuk tampil lebih dewasa. Sungguh, yang gue hadepin tadi siang tuh nggak sekedar kumpulan orang2 yang lagi semangat2nya. Lebih jauh dari itu, mereka adalah orang-orang yang akan gue dkk pimpin. Mereka pasti akan liat gue…. merujuk tingkah dan perilaku dari gue…, bertanya dan mencari-cari jawaban dari gue………, berharap berlindung dan banyak belajar dari gue. See? berapa metrik-ton tanggung jawab yang bakal gue hadapin nantinya? Duh, betapa ‘pertaruhan’ ini jadi mulai terasa sekarang.

Gue jadi menunduk cuz kepala gue terus bersuara : “bisa gak ya? bisa gak ya?”. Gue tadi malah jadi inget umur gue yang belum 20 tahun, ha ha ha. Padahal guwe juga gak pernah mikirin itu sebelum2nya. Lika-liku hidup gw selama ini telah membentuk kepribadian yang melampaui umur, ha ha ha. (Hening)….tapi sekarang agak lain, karena orang2 di AJB tadi gak butuh tahu itu, tapi mereka butuh sesuatu yang kelihatan. Sesuatu yang bisa bikin mereka percaya, gw bisa jadi pemimpin buat mereka.Nyambung.

Gw jadi merasa keciiiiiiiiiil banget. Ternyata seorang Hasyim /Dhita/Memed tuh gak lebih dari makhluk yang penuh alpa. Gw jadi nginget-nginget daftar ‘dosa-dosa’ gw selama hampir setahun ini. Duh, banyaknya: gw yang selfish, introvert, flirter
berat, deadliners, suka ngedumel gak jelas, gak bisa tegas, males ngomong en
membagi beban, susah nentuin prioritas, gak bisa marah, sering ngecewain orang
(dengan skala dan dimensi beragam), ibadah mulai minus, virus narsis dalam
aliran darah, males baca, maen mulu, tugas-tugas kuliah gak jadi prioritas,
jarang nelpon rumah-apalagi nyokap gw-, mainin hati orang, mainin hati orang,
en mainin hati orang, de el el. Kenapa yang terakhir disebut tiga kali?, karena kata beberapa “orang-dekat-yang-gerah-sama-gw” itulah ‘penyakit’ gw yang paling parah.

Gw nggak perlu nyebutin improvement yang gw dapet setahun kemaren. Biarlah orang tahu ‘jelek’nya gw dulu. Belajar dari pengalaman gw sama Neqy, gw gak mau lagi orang salah menilai setelah melihat “the-real-whole-package-of-me”.

Gw mau jujur, jujur. jujur, Supaya siapapun yang baca blog ini bisa membantu gw untuk memperbaiki minus-minus-nya gw di paragraf di atas.

Tiba2 aja Gw jadi inget, Kaisar Hirohito nangis waktu Jepang di bom-atom Sekutu…… (wajar, kan banyak rakyatnya yang mati) di Smallville, Clark Kent sering nangis sendirian karena gak pernah bisa jujur ke Lana….(wajar dilematis, cuz jujur-nya Kent begitu berisiko) di Kabhi Kushi Kabhi Gaam, satu keluarga terpecah dan hidup berurai air mata gara2 gak ada yang ikhlas mengakui kesalahan……….(gak wajar, ketidakjujuran terlalu costy untuk hal-hal kayak gini)

Kesimpulannya, pelajaran yang gue dapet hari ini: Apa salahnya bagi gue buat mengakui kekurangan diri sendiri? Setidaknya gw gak akan jadi terlalu sombong untuk terus belajar!!