Menemukan Jatidiri Dalam Film Bollywood

Uncategorized 7 Comments »

"tulisan gw kali ini agak-agak ilmiah. Moga-moga mencerahkan dan gak bikin kening loe berkerut-kerut"

Pendahuluan: “ Film India Pasti Jelek Karena …”

Ricky Kapoyos,
20 tahun, berpikir sejenak saat saya menanyakan apakah dia pernah menonton film
India. “Tidak pernah”, katanya. Ketika ditanya alasannya ia pun menjawab “norak
aja, kebanyakan nyanyi dan
menari-nari gak jelas”.

Pertanyaan ini
saya ajukan setahun yang lalu kala mengerjakan riset kecil-kecilan di kelas
Media dan Masalah Antar Budaya. Untuk menyusun tugas akhir mata kuliah itu saya
menanyakan tanggapan sejumlah orang tentang film Bollywood. Ada beberapa kolega
mahasiswa, akademisi, anggota Komisi Penyiaran Indonesia, pengamat film dan
masyarakat awam yang saya wawancarai. Semuanya mewakili perspektif orang
Indonesia kebanyakan. Saya pun sempat menanyai Neevya Srivastava, seorang guru
tari di Jawaharlal Nehru Indian Cultural
Center
, satu-satunya orang India yang menjadi narasumber dalam proyek
tersebut. Selang dua minggu, penelitian itu pun berakhir dengan kesimpulan:
bagi sebagian besar orang Indonesia, interpretasi terhadap film Bollywood ternyata
melibatkan lebih banyak stereotip daripada film jenis lain.

Adegan
tari-tarian dan nyanyi-nyanyian di film India sering diasosiasikan penonton
sebagai gambaran yang norak, hiperbol dan ketinggalan jaman. Bagi anak muda
generasi MTV, adegan semacam itu mungkin akan mereka bilang ‘malu-maluin’ dan ‘nggak penting’. Belum lagi jagoan-jagoan yang tampil bak superhero,
tidak bisa dikalahkan dan pasti muncul di saat-saat genting, makin menambah
daftar alasan orang untuk alergi pada film-film Bollywood. Ujungnya, segala
stereotip itu melenyapkan preferensi banyak orang terhadap film India. Dengan
kata lain, mereka akan berkata “film India pasti jelek karena dia adalah film
India”.

Maka, penuhlah
bioskop-bioskop 21 yang memutar film Hollywood. Televisi berlomba mengeruk
iklan dengan me-rerun film-film box-office. Rumah-rumah produksi dalam
negeri tak henti-hentinya membuat sinetron dan film-film baru, meskipun
ceritanya tak beranjak dari urusan wanita cantik, pria kaya dan hantu-hantu.
Masyarakat disuguhi tayangan yang tak jelas juntrungannya, sampai-sampai yang
membekas di kepala cuma adegan paha mulus, belahan dada, bacok-bacokan dan
perselingkuhan. Para remaja mengalami krisis identitas karena yang mereka
tonton di televisi dan film-film ternyata tidak mereka temukan di dunia nyata.
Anak-anak menjadi dewasa lebih cepat, lagi-lagi karena televisi yang tak becus
menjadualkan jam tayang tontonan. Generasi muda kita mengalami double consciousness, suatu keadaan
ketika kenyataan sosial dan depiksi media massa tak lagi sejalan (Dubois,
1997). Sungguh ironis, bangsa yang besar ini ternyata tak punya nilai-nilai
kepribadian yang patut dibanggakan.

Masalah ini
memang tidak akan selesai seketika dengan mengganti tontonan ke film India.
Tapi lewat uraian berikut saya akan coba buktikan bahwa kita mungkin harus malu
jika kita memandang sebelah mata pada film Bollywood. Karena sejatinya ada
refleksi diri kita, masyarakat timur, di dalamnya. Merendahkannya mungkin
adalah isyarat bahwa kita sedang mengalami krisis nilai. Atau, barangkali benar
kalau kita sudah tak lagi punya kebanggaan?

 

Keluarga: Orang Tua, Anak, Wanita, dan Nilai Religius

Besarnya jumlah
penduduk di Indonesia tak luput dari incaran distributor film-film Hollywood.
Dengan ditunjang monopoli jaringan Bioskop 21 di berbagai kota besar, serta
distribusi keping cakram, maka film-film Hollywood membanjiri pasar Indonesia.
Bisa dikatakan hampir tidak ada pesaing lain yang mampu mengungguli nilai
peredaran film Hollywood di Indonesia. Jika kita mengacu pada pendapat Antonio
Gramsci tentang hegemoni, maka kondisi seperti ini patut untuk diwaspadai.
Film-film Hollywood telah menjadi aktor dominan dalam proses pembentukan makna.
Lebih jauh, ia akan membentuk hegemoni tentang ideologi atau nilai-nilai
tertentu (Barker, 2004). Dalam hal ini, ide yang dibawakan tentu saja ide-ide
yang bias budaya barat (western).
Sedangkan film-film non-Hollywood bisa kita katakan sebagai pembawa ide, nilai
dan ideologi yang subordinat. Maka film Bollywood dapat kita masukkan dalam
kelompok ini. Bahkan, merujuk pada pendapat Gramsci, film nasional kita pun
sebenarnya juga ada dalam posisi subordinat.

Film-film
Hollywood telah mengajarkan sejumlah interpretasi baru seputar empat hal yang
menjadi judul sub-bab ini. Bagi masyarakat barat, keluarga tidak harus terdiri
dari ayah, ibu dan anak. Keluarga bisa terdiri atas sepasang gay, lesbian dan
anak angkat (The Guru, Midnight Express,
Fried Green Tomatoes
); orang tua tunggal (Finding Nemo, Gilmore Girls, Forrest Gump); atau pasangan tidak-menikah
dengan atau tanpa anak (Bridget Jones’s
Diary, Vanilla Sky, Love Actually
). Keadaan ini memang inheren dengan sifat
masyarakat yang permisif, liberal dan individualis. Pola keluarga semacam itu
juga dapat dimaklumi jika kita mengaitkannya dengan budaya free-sex pada masyarakat barat (Kaldis, 1998). Selain itu, hubungan orang tua dan anak juga digambarkan sebagai
pola yang low-context dan low-power. Dalam film-film barat kita
akan banyak menemukan adegan perang mulut antara ayah dan anak. Belum lagi kebiasaan
memanggil nama untuk orang tua yang kemungkinan besar terdengar ’mengganggu’ di
telinga kita.

Penggambaran
semacam ini sudah pasti tak anda temui dalam film-film Bollywood. Dalam film
India (Harwood, 1997), keluarga yang ideal selalu terdiri atas ayah, ibu dan
anak-anak. Lebih detil, mereka tinggal dalam satu rumah. Sang anak patuh dan
menghormati perintah orang tua. Ayah menjadi kepala keluarga dan pemegang
keputusan, sedangkan ibu menjadi sosok yang hangat tempat sang anak mencari
nasehat. Demikianlah kira-kira gambaran sosok keluarga dan orang tua dalam film
India. Film-film yang menggambarkan hal itu tak terhitung jumlahnya, misalnya Dilwale Dulhania Le Jayenge (1995), Kuch Kuch Hota Hai (1997), Kabhi Kushie Kabhi Gaam (2001), Koi
Mil Gaya
(2002) dan Kal Ho Na Ho (2003).

Perbedaan yang
sepele memang, namun dampaknya bisa jadi sangat besar. Kasus-kasus kenakalan
remaja mungkin diawali dari tidak adanya penghormatan pada orang tua. Generasi
muda akan memaknai apa yang biasa mereka tonton itu sebagai gambaran ideal
mereka dalam kehidupan nyata (Willis, 1990). Film dan tontonan televisi telah
membangkitkan semangat memberontak yang paradoksikal: tidak mau diatur-atur
tapi tetap menyandarkan hidup pada sokongan orangtua. Bandingkan dengan
kehidupan remaja barat, mereka dapat memilih berpisah sepenuhnya dari orangtua
asalkan mampu memenuhi kebutuhan hidupnya sendiri. Sayangnya, banyak yang
melupakan keterkaitan ini. Hasilnya, anak-anak tumbuh menjadi remaja yang rebel pada orang tua tetapi tidak siap untuk
mandiri.

Representasi
budaya barat juga dapat anda temukan saat berbicara tentang perempuan dan film
Hollywood. Di luar nilai emansipasi dan self-reliance
yang ditampilkan, tampaknya kita sudah tidak sensitif lagi pada nilai-nilai
bawaan lainnya yang berseberangan dengan budaya kita. Perempuan digambarkan
begitu permisifnya pada urusan seks, misalnya dalam film-film James Bond. Selain itu, emansipasi
wanita juga kerap digambarkan terlalu berlebihan. Tengoklah serial Desperate Housewives, dalam film ini
perempuan-perempuan digambarkan sebagai sosok yang berhak melakukan apa saja
untuk mencapai apa yang mereka inginkan. Adegan perselingkuhan, intrik dan caci
maki dapat anda temukan di sini. Uniknya, dalam film-film Hollywood perempuan
juga kerap digambarkan menjadi sosok yang lemah dan menjadi korban kekerasan,
misalnya dalam film Monster’s Ball (2003),
8 Milimeters (2004) dan serial
televisi Orange County/The OC.

Terkait
dengan hal tersebut, maka hal yang tidak anda dapatkan dari film-film lain
selain film India adalah penggambaran yang konsisten terhadap sosok perempuan
(Uberoi, 1998).
 Memang benar kalau
wanita selalu digambarkan sebagai subordinat pria, namun ada beberapa nilai
ketimuran yang melekat kuat dalam gambaran wanita India. Diantaranya ialah rasa
penghormatan terhadap suami, pengabdian sebagai seorang ibu, kerelaan berkorban
demi keluarga dan keteguhan memegang nilai-nilai tradisi. Jika anda perhatikan,
semodern-modernnya karakter perempuan dalam film Bollywood, pasti ada
adegan-adegan saat dia mengenakan kain sari, berdoa menghadap altar, atau
memberikan aratik (tanda merah di
kening suami). (Krueger, 2004).

Saya bukan
hendak mengatakan gambaran perempuan India lebih baik dari perempuan barat.
Namun, entah kenapa tidak ada lagi
kendaraan untuk melestarikan nilai-nilai ketimuran semacam itu. Sinetron, video
klip, film, iklan dan tontonan lainnya telah memanjakan perempuan Indonesia
dengan slogan-slogan emansipasi yang tidak cover
both-sides.
Menjadi setara tentu tidak masalah, namun jika sampai kehilangan
jatidiri itu yang berbahaya.

Film, bagi
masyarakat India, sudah menyerupai agama. Semiskin-miskinnya orang, pasti ada
anggaran untuk membeli tiket bioskop. Lebih-lebih, jika film itu dibintangi
oleh aktor dan aktris besar seperti Shah Rukh Khan, Amitabh Bhachchan, Hrithik
Roshan, Kajol dan Rani Mukerjee.
Setiap tahunnya tak kurang dari 800 film baru diproduksi di Bollywood
(Skoyles, 2005). Angka ini hampir dua kali lipat angka produksi film Hollywood,
dan berpuluh-puluh kali lipat produksi film nasional kita. Begitu masifnya
produksi, distribusi dan konsumsi film di India, maka film menjadi media massa
yang paling berpengaruh di India (”Emerging
Market, India,
” 2006). Meminjam konsep ideological
state aparattuses
(ISA’s ) dari Altusser, maka film barangkali menjadi
institusi sosialisasi terpenting di negara terbesar di Asia Selatan itu. Jadi
jika film Bollywood itu berhasil membawakan budaya India dengan konsisten,
dapat kita bayangkan betapa besar rasa nasionalisme dan kecintaan orang India
terhadap nilai-nilai dan identitas negerinya.

Pernah, film Salaam Naamaste (2005) dicerca
habis-habisan di India. Meskipun sukses di Amerika Serikat, Eropa dan
Australia, film yang dibintangi Preity Zinta dan Saif Ali Khan ini dianggap
cabul oleh sejumlah kritikus karena mengusung tema kumpul-kebo. Setting film ini memang berada di Australia, namun
tetap saja ide ceritanya dianggap tidak sesuai dengan budaya dalam negeri
mereka (Line, 2005).

Idealisme
seperti itulah yang tidak dimiliki dari media-media massa kita. Semuanya cuma
berlomba merebut pasar dan pengaruh. Idealisme para pekerja media hanya
berorientasi pada perolehan keuntungan sebesar-besarnya, bagaimanapun caranya.
Maka tidak heran jika televisi kita cuma dipenuhi adegan cinta-cintaan anak
remaja, intrik dan balas dendam, makian-makian kasar, kekerasan rumah tangga,
umbar-mengumbar aurat, dan kisah hantu-hantuan yang diberi label ‘sinetron
religius’.

Mengenai urusan religiusitas, lagi-lagi kita
harus malu pada film-film negeri Hindustan itu. Betapa unsur-unsur religi
sangat terasa dalam setiap film-film mereka. Hampir di setiap film kita bisa
menyaksikan adegan berdoa, meletakkan sesaji, mengenakan sari, gambar kuil atau
tempat-tempat ibadah, juga patung dewa-dewa. Bahkan di banyak film, perayaan hari-hari
besar keagamaan juga turut dijadikan setting film (Sharma, 2003), misalnya hari
raya Diwali[1] (Kabhie
Kushi Kabhi Gham), Holy[2]
(Waqt, 2004), dan Karva Chauth[3] (Dilwale Dulhania Le Jayenge).
Nilai-nilai religius juga nampak dalam adegan lain seperti pernikahan,
pengucapan salam dan penggunaan simbol-simbol.

Nuansa agama
Hindu memang kental terasa dalam nilai religius yang ditampilkan dalam
film-film Bollywood. Hal ini dapat dimaklumi mengingat mayoritas penduduk
India, 80 persen, beragama Hindu (http://www.wikipedia.org). Namun yang perlu
diacungi jempol adalah bagaimana unsur-unsur itu ditampilkan dengan sedemikian
natural, bahwa memang demikianlah yang terjadi sesungguhnya dalam kehidupan
sehari-hari orang India. Mereka berdoa sebelum berangkat bekerja, meletakkan
sesaji di pagi hari, meletakkan tanda merah di kening pasangannya dan merayakan
hari-hari besar semeriah gambaran film Bollywood. Praktek dan representasi itu
terus menerus diproduksi dan direproduksi, sehingga setiap orang akan menganggapnya
sebagai sebuah keteraturan yang memang demikian adanya (taken for granted).

Nah, sekarang
mari kita lihat penggambaran nilai religius dalam film dan sinetron dalam
negeri kita. Kiai dan ulama baru muncul saat berhadapan dengan genderuwo dan
kuntilanak. Ayat-ayat suci baru dibacakan tatkala si tokoh terlanjur kesurupan.
Film-film Hollywood pun sama saja. Simbol salib baru keluar waktu si drakula
mengamuk tak keruan. Gambar gereja dan pendeta juga hanya nampak dalam adegan
pernikahan dan pemakaman. Intinya, kemunculan simbol-simbol keagamaan tak lebih
dari sekedar bumbu cerita. Kecuali tayangan ceramah dai-dai kondang, tema agama
tak lebih dari sekedar komoditas yang laku pada musim tertentu, misalnya pada
saat Ramadhan atau menjelang Natal. Karena pada bulan puasa pengiklan berebut
memenuhi space menjelang buka dan
sahur, stasiun-stasiun televisi ramai-ramai membuat tayangan ber-genre religi
agar kebagian kue iklan. Singkatnya, nilai-nilai religius yang ditampilkan itu
tak ubahnya sebuah kebohongan saja.

Maka saya pun
heran ketika orang-orang Indonesia mengejek film-film Bollywood tapi kemudian
manggut-manggut saja disuguhi film-film Indonesia bergenre horor dan
sinetron-sinetron lokal bertema primitif. Tak ada lagi sensitivitas yang
membuat mereka selektif memilih tayangan. Tak sadarkah kita bahwa telah lama
kita menertawakan diri sendiri?

 

Kekerasan dan Muatan Seksual, Sebuah Harga Mati

Bagi para
sineas dan produser, apalah artinya film tanpa muatan seks, kekerasan dan
konflik. Ketiga jurus itulah yang menjadikan film menarik untuk ditonton.
Unsur-unsur itu, terutama seks dan action
(baca: kekerasan), sering dinanti-nanti, tapi sering juga dimaki-maki.
Hampir semua film, baik Hollywood maupun Bollywood, mustahil menghindarkan diri
dari muatan-muatan itu. 

Bagi saya,
unsur violence dalam film manapun tak
ada bedanya. Ada darah, baku hantam, peluru, ledakan, jeritan kesakitan,
kejar-kejaran, dan semacamnya. Baik Hollywood maupun Bollywood hampir pasti
tidak memiliki referensi lain soal bagaimana menggambarkan hal tersebut. Yang
membedakan keduanya barangkali cuma masalah budget dan teknologi special effect.

Yang menarik
ialah bagaimana keduanya menggambarkan unsur seksual dalam adegan-adegan film.
Di India, hukum sensor diberlakukan dengan ketat. Semua film harus disetujui
oleh Badan Sertifikasi Sinema, baik di tingkat lokal maupun pusat. Badan ini
berpedoman kepada Undang-undang Sinematografi India yang dikeluarkan pada tahun
1952. Undang-undang ini tidak secara tegas melarang adegan ciuman, hanya adegan
seksual yang vulgar (obscenity) dan
ketelanjangan (nude) yang diatur
dengan jelas dalam Undang-undang ini. Tetapi aturan yang paling penting justru
datang dari kesepakatan moral tak tertulis diantara para sineas untuk tidak
menampilkan adegan kissing, nudity dan
sexual explicit material (SEM)
(Chopra, 2004). Oleh karena itu,
sebenarnya salah jika anda berharap menemukan adegan-adegan mesum dalam film
Bollywood.

Lantas
bagaimana unsur romantisme ditampilkan? Di film Hollywood anda bisa dengan
mudah menemukannya dalam adegan-adegan seks dan ketelanjangan (Casino Royale, Original Sin, Captain
Corelli’s Mandolin, Unfaithful,
dll), atau lewat guyonan-guyonan vulgar ala
American Pie, Jackass, Scary Movie atau
Eurotrip. Namun tidak demikian yang
dilakukan oleh para film-maker India.
Satu-satunya yang mungkin mereka lakukan ialah dengan melakukan simbolisasi
lewat adegan nyanyian dan tarian. Misalnya, jika sang pemeran sedang jatuh
cinta, maka ia akan menyanyi dan berlari-larian di hamparan padang bunga.
Sementara itu, bermunculanlah penari-penari yang entah dari mana datangnya.
Setting tempat dan pakaian yang dikenakan juga berganti-ganti dalam hitungan
kedipan mata. Agak hiperbol memang, namun demikianlah kenyataannya. Kebanyakan
adegan yang berkategori ’sensual’ ditampilkan dalam bagian ini, misalnya adegan
pelukan, mencium leher, atau berguling-gulingan. Tapi, lagi-lagi cuma itu yang
bisa dilakukan oleh para film-maker India.
Mereka berusaha sedapat mungkin menghindari adegan bermuatan SEM dengan
menyematkan unsur romantisme dalam adegan tarian dan nyanyian.

Saya tiba-tiba
teringat pada Stuart Hall, mungkin hal ini terkait erat dengan budaya high-context pada masyarakat di belahan
bumi timur. Sangat berbeda dengan masyarakat barat yang cenderung grusa-grusu menggambarkan romantisme
dengan adegan seksual, para sutradara India membiarkan imajinasi penonton
berkreasi dengan memberikan simbol-simbol dalam musik dan visualisasi.

Sebagian besar
orang yang saya tanyai dalam riset kecil saya setahun lalu menyatakan bahwa bagian
menyanyi dan menari itulah yang paling membuat mereka antipati terhadap film
India. Menurut mereka, bagian itu lebih baik dipotong saja, norak dan toh tidak juga mempengaruhi isi film.
Tapi menurut analisis saya, justru di situlah letak perbedaan film India dan
film Hollywood. Adegan menyanyi dan menari memiliki peran sebagai jembatan
memori penonton akan kisah dan konteks sebuah film. Contohnya, apa yang anda
ingat dari kisah cinta Rahul, Tina dan Anjali dalam Kuch Kuch Hota Hai?. Kejar-kejaran
di pinggir jembatan? Menari bahagia di kamp perkemahan? Atau kesedihan di bawah
guyuran hujan? Yang jelas ingatan itu akan jauh lebih sopan dari ingatan anda
soal kisah cinta Jack dan Rose dalam film Titanic.
Mungkin yang terbayang duluan adalah
adegan percintaan mereka dalam mobil di gudang kapal. Sama liarnya jika anda
mengingat adegan intercourse Scott
dan Mieke di bilik pengakuan dosa Gereja Vatikan dalam Eurotrip (2004). Jadi, jika dalam setahun seorang anak-anak atau
remaja Indonesia menonton 15-20 film Hollywood dengan label ’PG-13’ ke atas,
sudah berapa banyak adegan seksual dan kekerasan yang terekam dalam pikirannya.
Mengerikan!.

Penutup: Kesimpulan dan Self-critique

Bagaimanapun,
ciptaan manusia memang tidak ada yang sempurna. Jika Bill Kovach mengatakan
bahwa tidak ada media massa yang benar-benar objektif, maka bolehlah kiranya
saya mengatakan bahwa ’tidak ada media massa yang benar-benar aman’.
Pembandingan film Hollywood, film Indonesia dan sinetron-sinetron dengan film
Bollywood, bukan berarti hendak menunjukkan film Bollywood lebih baik dari yang
lain.. Lewat paper ini saya hanya ingin menunjukkan hal-hal yang mungkin tidak
kita peroleh dengan menyaksikan tontonan-tontonan populer (popular culture). Setidaknya, setelah membacanya anda akan lebih
kritis untuk memilih tontonan apa yang layak untuk diri dan keluarga.

Terkait dengan
pilihan akan film Bollywood, saya pasti tidak berkutik jika anda menyodorkan
film-film India terbaru yang mulai sarat dengan muatan western. Hal itu misalnya terlihat dari pakaian-pakaian seksi yang
dikenakan para aktris, adegan-adegan yang agak ’berani’, dan tema-tema cerita
yang mulai melawan mainstream.
Intinya, argumen-argumen saya sebelumnya tentang suri tauladan dari film
Bollywood ternyata juga tidak berterima sepenuhnya. Salah satu penjelasan yang
mudah ialah adanya upaya industri Bollywood untuk memantapkan posisi di pasar
Eropa dan Amerika Serikat. Setiap tahunnya, total pendapatan dari ekspor film
India adalah sekitar $US 20 juta. Sebanyak 40% diperoleh dari pasar Inggris
Raya, 30% dari Amerika Serikat, dan sisanya tersebar di seluruh dunia (Chopra,
2004). Otomatis, para pembuat film akan berpikir untuk terus mempertahankan
potensi pasarnya di Eropa dan Amerika. Untuk itu, tema, setting, konteks dan
penggambaran film India yang berorientasi ekspor harus disetel untuk memenuhi
keinginan pasar yang dituju. Pada akhirnya idealisme dan kepentingan ekonomi
akhirnya akan selau beradu. Maka tidak heran jika belakangan ini film-film
Bollywood sudah mulai menabrak-nabrak tepian lintasannya.

Karenanya,
tidak semua film Bollywood layak untuk ditonton. Lebih aman jika anda memilih
film-film keluarga seperti Koi Mil Gaya,
Khrish
, Biwi No.1, Bhaadshah, Swades,
atau film-film epik seperti Ashoka,
Lakhsya,
dan Zameen. Pelajaran-pelajaran
yang saya jelaskan sebelumnya dapat anda temukan di sana. Bagi anda yang hendak
menonton kisah-kisah percintaan, saya sarankan untuk tidak mengajak anak-anak
di bawah umur. Selain dialognya cukup berat, akan susah menjelaskan
adegan-adegan yang belum mereka mengerti. Kalau mau aman, mungkin anda lewati
saja bagian lagunya.

  Terakhir, paper ini menjadi semacam pengingat
bahwa kadang kita perlu melakukan
refleksi diri. Masihkah kita bangga dengan julukan bangsa timur tetapi isi
kepalanya nilai-nilai western
melulu.


[1] Lebaran-nya orang India; Hari
raya yang dirayakan semua penduduk India tanpa membedakan agama. Pada hari raya
ini, semua orang keluar rumah, menyanyi dan menari di sepanjang jalan.

[2] Perayaan festival dimana
orang-orang berpakaian putih-putih dan saling melempar bubuk berwarna
merah.

[3] Hari dimana
semua istri berpuasa untuk suaminya.
Dilakukan oleh umat Hindu di India.

Trayek Monopoli Sempurna

Uncategorized 3 Comments »


Bus Debora adalah contoh nyata praktek monopoli sempurna. Hampir
setiap hari gw naik bus ini ke Pondok Indah buat ngajar. Bus ini
satu-satunya bus yang melayani trayek Depok-LebakBulus. Awalnya gw
menganggap ini sebagai hal yang biasa-biasa saja. Pada akhirnya,
setelah gw naik bus ini dalam berbagai kesempatan gw jadi agak gerah
juga.


Pada jam-jam sibuk, pagi menjelang jam kerja dan sore hingga malam
jam 9an, bus ini selalu penuh sesak dengan penumpang yang sengaja
dijejal-jejalkan. Si kondektur dengan gaya seolah-olah persuasif akan
meminta penumpang untuk bergeser, “geser Bang! ya, masuk dikit
lagi”. Belum lagi kalau dah penuh banget dan ada orang yang mau
naik, kondekturnya bakalan bilang, “ Depok, Depok, kosong!
kosong!”. Duh, rasanya pengen gw jitak kepalanya.


Hebatnya, kalau ada penumpang yang protes, tuh kondektur (sama
supirnya juga) pasti bakal nyuruh tuh penumpang turun. Ujungnya, si
penumpang yang protes tadi bakalan diem karena nyadar gak ada bus
lain yang bisa nganterin di dengan trayek Lebak Bulus – Depok dan
sebaliknya. See, betapa tidak berimbangnya posisi tawar antara
penumpang dan operator kendaraan (ciee, operator).

Ohya,
sejak harga BBM naik ongkos Debora jadi Rp. 3.000. Semula sih Rp.
1.500, trus naik terus dan jadilah sekarang ongkosnya segitu. Well,
tiga ribu perak dan loe harus makan hati juga sesekali. 

Busnya
berukuran tiga perempat, jadi isinya total 24 seat. Nah, kalau
pas penuh di jam-jam sibuk, jumlah orang yang berdiri bisa lebih
banyak daripada orang yang duduk. Kalo gak percaya, silakan buktikan
sendiri. Jadi jumlah penumpang maksimal bisa 50-an orang. Tarohlah
dalam satu kali jalan jumlah rata=rata penumpang Debora adalah
(24+50) : 2 = 37 orang, maka pendapatan untuk sekali jalan adalah 37
x 3000 = Rp. 111.000. Dari yang gw denger siy, mereka bisa narik 3-4
kali PP dalam sehari, berarti ada 6-8 trip dong, ambil aja tengahnya
deh, tujuh. Jadi dalam sehari, pendapatan satu biji Debora adalah
Rp.777.000. Tinggal dipotong uang tol, setoran en bensin, itulah
pendapatan bersih pak supir en keneknya.


Gw gak tahu setorannya berapa duit dalam sehari, kalo gak salah
sekitar 400-an ribu. Kalau memang bener, berarti total pendapatan
buat kenek plus supir gak nyampe 150.000 per hari. Berarti pula,
mereka belum akan berhenti ngejejelin orang di dalam busnya yang udah
meluap, meluber kemana-mana. Penuh orang.
 

Dibohongin ESIA

Uncategorized 5 Comments »

Pernah mikir kenapa udah
pake Esia pulsa loe masih belum bisa awet-awet juga? Gw akan kasih jawabannya:

  1. Temen loe pada belum punya Esia, jd loe sms en nelpon tetep ke GSM mereka juga. nelpon dari Esia ke GSM notabene tarifnya emang lebih murah, tapi gak juga signifikan
  2. Loe sibuk banget, sehingga kehidupan loe gak bisa lepas dari HP loe
         yang katanya murah itu. Nelpon dan sms jadi makin sering. padahal gak juga
         ke sesama Esia atau CDMA. Slogan  ‘nelpon murah, sms murah’ ngaruhnya ke frekuensi pemakaian telepon. Orang
      jadi makin sering nelpon en sms padahal nomor yang dihubungi belum semua ter-Esia-kan.
  3. Punya Esia bikin kita dikejar-kejar temen buat dimintai pulsa.
         Repotnya, saking banyaknya temen loe yang minta pulsa, loe gak sempat tahu
         mereka sms sapa, nelpon ke mana. Tiba-tiba pulsa loe berkurang banyak aja.
         Secara ternyata temen loe nge-SMS pemain satu kesebelasannya untuk ngingetin nyuci sepatu bola masing-masing buat pertandingan minggu depan.
  4. Loe diboongin Esia. Kalo loe nelpon 1 JAM baru bener loe dapet charge
       seribu rupiah. Tapi kalo 55 menit? berarti loe kena 55 x 50 = 2750 rupiah,
         jauh lebih mahal dari nelpon satu jam. Tapi apa bener hidup loe bakal loe
         abisin buat nelpon doang? atau demi nyimpen duit 2000, loe buang-buang
         waktu buat ngejaga agar telponnya tetep hidup. Lagian nelpon berjam-jam
         bakal bikin loe gak accessible kalau
         dihubungi orang lain.

 

Masih kepikiran beli Esia?
mending pikir-pikir lagi deh!

First Lady

Uncategorized 2 Comments »

First Lady

hasyim_widhiarto@yahoo.com

Ketika pasukan Jerman kalah telak di Eropa, Hitler bunuh diri di bunker persembunyiannya. Ia tak sendirian. Eva Braun –kekasih yang dinikahinya sehari sebelum bunuh diri- turut melakukan hal yang sama, menenggak kapsul sianida dan menembak kepalanya.

Saat Permaisuri Mumtaz yang sangat dicintainya wafat, Shah Jahan berikrar membangun sebuah monumen lambang cinta yang megah dan tak tertandingi. Maka, konon ketika Taj Mahal selesai dibangun, semua tangan pekerjanya dipotong agar tak mampu membuat bangunan seindah itu lagi.

Ketika Nabi Muhammad menggigil di bawah selimut setelah didatangi malaikat Jibril, cuma Siti Khadijah yang dengan penuh keyakinan membenarkan ucapan suaminya. Beliau pulalah yang kemudian pertama-tama menyatakan imannya pada Rasulullah. Bahkan, Rasul pun masih terus mengingat Khadijah selepas wafatnya, hingga membuat istrinya yang lain menaruh cemburu.

Mungkin benar jika ada ungkapan “di belakang seorang pria sukses pasti ada seorang wanita”. Selain Hitler-Eva Braun; Jahan-Mumtaz; dan Muhammad-Khadijah, saya pikir masih banyak contoh lain yang bisa anda temukan dari kehidupan para pemimpin dunia bersama pasangannya. Kesimpulannya, dalam kehebatan sepak terjang mereka, hampir selalu ada sosok first lady di sampingnya.

Seorang first lady (bahasa bakunya sih ‘ibu negara’) mungkin bisa lebih populer dari suaminya, misalnya Lady Diana Spencer (mantan istri Pangeran Charles) Jacqueline Kennedy (istri Presiden John F. Kennedy), atau Siti Hartinah (istri Presiden Soeharto) yang akrab dipanggil Ibu Tien. Diantara mereka bahkan ada yang menyamai atau melebihi karir politik suaminya, sebutlah nama Evita Peron (Argentina), Sonia Gandhi (India), dan Hillary Rodham Clinton (AS). Yang tipikal pun banyak: mendampingi suami sembari mengelola organisasi-organisasi sosial. Yang masuk kelompok ini contohnya ialah Ani Yudhoyono (Indonesia) dan Laura Bush (AS). Terakhir, jangan lupakan mereka yang bertipe kriminal, semisal Imelda Marcos (Filipina) dan Marie Antoinette (Istri Raja Louis XVI), di tangan keduanya-lah kas negara dikuras untuk berfoya-foya.

Satu hal yang terlupakan, menjadi first lady sebenarnya ibarat menjadi figur ‘bayang-bayang’ suami. Ia harus siap menjadi bagian dari publisitas dan kemasyhuran sang suami. Namun posisi ini pun kerap mendapat penghormatan yang sepadan. Perhatikanlah dalam acara-acara formal kenegaraan, pasti si protokol tak lupa menggunakan kata ‘beserta istri’ atau ‘bersama istri’ saat menyapa sang kepala negara. Contohnya dalam kalimat berikut:

Protokol:“Selamat datang kami ucapkan kepada Bapak Presiden beserta rombongan istri. Eh, salah, maksud kami ’beserta  istri dan rombongan’ ”

Hadirin : Glek!!

Repotnya, istilah first lady ternyata kini tak cuma diartikan sebagai wanita pendamping kepala negara. Banyak istri-istri pejabat yang lantas menjadikannya analogi pada posisinya. Akibatnya, bermunculanlah first lady–first lady lokal di mana-mana. Maka jadilah istri Gubernur menjadi first lady di Propinsi-nya. Istri Bupati menjadi first lady di Kabupaten-nya. Demikian seterusnya hingga kecamatan, desa, RW, dan RT sekalipun. Panggilan Bu Lurah, Bu RT, atau Bu Camat seolah menyimpan prestise dan pengharapan tertentu yang melenakan. Bisa jadi, menjadi first lady lokal berarti menjadi jembatan pemuasan hasrat disanjung-sanjung (plus harapan menikmati berbagai tunjangan dan fasilitas, jika ada).

Tidak hanya itu, di berbagai institusi pun terjadi hal yang demikian. Istri Direktur, istri Kepala Bagian, Istri Dirjen, Istri Menteri, dsb, menjelma sebagai first lady dengan kapasitas yang bervariasi. Saya menyebut gejala ini sebagai first-lady syndrome. Bahasa kasarnya sih, dengan bersuamikan orang sukses atau terkenal, maka si wanita akan nebeng sukses dan terkenal. Istri Pak Dokter pasti akan disapa sebagai Bu Dokter. Istri pejabat, ya dipanggil juga dengan Ibu Pejabat.    

***

Sebenarnya, perlukah sosok kepala negara atau pemimpin (selalu) disematkan satu paket bersama seorang first lady? Ataukah ada maksud tersembunyi di balik itu?

Anda mungkin tidak menyangka jika Amerika Serikat (AS) –negeri yang sangat liberal, permisif, pelopor budaya free-sex, dengan angka perceraian dan single-parenting tinggi- ternyata sangat menjunjung tinggi kehadiran seorang first lady. Artinya, sebegajulan-begajulannya orang Barat sono, mereka masih mengharapkan pemimpinnya memberi suri teladan soal sosok keluarga yang ideal.

Ambil saja contoh tentang Presiden William ‘Bill’ Clinton. Terlepas dari skandal seksnya dengan Monica Lewinsky, kehidupan rumah tangga Bill dan Hillary terlihat ‘baik-baik saja’ sepanjang masa jabatannya. Malah kehidupan putri mereka, Chelsea, juga kerap diekspos media. Mungkin faktor ini yang turut menyelamatkan jabatannya untuk periode yang kedua (1997-2001). Pemilih lupa akan skandal masa lalu Clinton karena ternyata ia berhasil mempertahankan keluarganya. Setelah menyelesaikan masa jabatannya yang kedua, giliran Bill yang menyokong karier istrinya sebagai senator. Kini, George Bush Jr. nampaknya juga meniru resep itu. Dalam sejumlah kesempatan ia tak lupa menyertakan istrinya, Laura, dan putri kembarnya, Jenna dan Barbara.

Jika di negeri Barat demikian, maka pemimpin negeri-negeri Timur pun juga banyak yang melakukannya. Setidaknya dulu di Indonesia kita pernah benar-benar merasakan sosok seorang Ibu Negara pada diri Ibu Tien. Media dan masyarakat memujanya sebagai Ibu bangsa. Sampai saat ini salah satu buah pikirannya, Taman Mini Indonesia Indah, masih bisa kita lihat. Kita pun sempat mengamati istri-istri presiden RI selanjutnya: Ainun Habibie dan Sinta Nuriyah Abdurrahman Wahid (tentu saja Taufik Kiemas tidak kita sertakan), namun rentang jabatan suami mereka yang singkat membuat kiprahnya nyaris hilang tak berbekas.

Kini, nampaknya para penasehat komunikasi politik istana menyarankan Presiden SBY untuk melibatkan istrinya dalam berbagai acara dan kegiatan kenegaraan. Maka kita bisa sering melihat Ibu Ani Yudhoyono menyertai setiap lawatan suaminya. Bahkan tidak jarang, kegiatan-kegiatan lain dari ibu negara turut mendapat sorotan media.

***

Menurut Freud, laki-laki dan wanita ditakdirkan untuk menerima identitas gendernya yang taken-for-granted. Mereka mengidentifikasikan dirinya dengan identitas maskulinitas atau femininitas yang ideal di lingkungan sosial. Kalau cowok, pasti harus maskulin dan cewek pasti feminin. Itulah mengapa dari kecil seorang lelaki tidak dikondisikan untuk suka warna pink dan wanita dibuat merasa tidak pantas untuk membetulkan genteng bocor. Ujungnya, sifat maskulin dan feminin itu terinternalisasikan dalam satu paket.        

Paket maskulinitas misalnya meliputi sifat kebapakan, melindungi, bertanggung jawab, inisiatif, dewasa. Sedangkan paket femininitas contohnya tercermin dalam sifat lembut, penyayang, keibuan, sabar dan perhatian.

Sayangnya, paket-paket tersebut juga menyertakan hal-hal negatif di dalamnya. Para pria cenderung memiliki sifat egois, ambisius, tidak mau kalah, arogan dan dominan. Sedangkan para wanita dibekali sifat pasif, manja, terlalu banyak pertimbangan, emosional dan banyak mengeluh. Singkatnya, sebagai sebuah paket gender, tidak hanya kelebihan yang didapat tetapi juga kekurangan-kekurangan.

Nah, seorang pria yang menjabat sebagai kepala negara, pimpinan politik, pimpinan organisasi, dan semacamnya, adalah sosok yang sangat rentan menuai pretensi negatif masyarakat. Setiap kebijakan yang mereka ambil berpotensi menyulut pro dan kontra. Tak ada liputan media dan debat publik yang selalu bersahabat. Maka, seorang pemimpin dapat menjelma menjadi pahlawan dan monster sekaligus. Jika sudah demikian, maka gambaran sisi-sisi negatif  pria akan bermunculan.

Presiden Bush dinilai bodoh (fool), kejam dan arogan kala mengambil keputusan menyerang Irak. Mahatir Mohammad sempat dinilai egois dan tak tahu balas budi  saat memecat dan memenjarakan Anwar Ibrahim. Presiden SBY dianggap tidak memahami penderitaan rakyat dan plin-plan saat mengurangi subsidi publik yang berdampak pada gonjang-ganjing-nya berbagai sektor ekonomi. Jangan lupa, Bill Clinton secara nasional juga sempat dicap playboy dan mata keranjang tatkala skandal seksnya terungkap.   

Sifat-sifat yang dicetak tebal adalah residu dari paket maskulinitas yang saya uraikan sebelumnya. Betapa mudahnya hal ini terangkat dan menjadi isu publik, sehingga seorang pemimpin perlu bekerja ekstra keras guna mempertahankan konsistensi popularitas. Pada keadaan inilah sosok seorang first lady dibutuhkan.

Sebelumnya, jangan lupakan asumsi bahwa seorang first lady adalah perpanjangan tangan seorang presiden. Ketika ia melakukan berbagai kegiatan (kampanye sosial, kunjungan, acara peresmian, dll) maka ia turut membawakan nama suaminya. Bagaimanapun citra first lady nantinya terbentuk, baik atau buruk, semua akan kembali disematkan dalam satu paket bersama suaminya.

Terkait dengan pendapat Freud tentang disparitas gender, maka penting bagi sang presiden dan first lady untuk ‘mengawinkan’ citra positif  mereka. Seorang presiden yang bijaksana, tegas, cerdas dan bertanggungjawab akan semakin tinggi popularitasnya jika didampingi sosok istri yang memiliki kepedulian sosial, ramah, keibuan, santun dan loyal.     

Jikalau popularitas sang presiden sedang anjlok, maka citra baik dari istri akan menjadi faktor kontrol yang unik. Orang akan mempertimbangkan juga rekam jejak dari sang first lady sebelum memberikan penilaian lebih lanjut pada sang presiden. Citra presiden yang tidak peka, arogan dan ambisius misalnya, akan tertutupi oleh citra first lady yang keibuan, peduli, ramah, jujur dan dekat dengan publik.

Anda mau bukti? Selama rentang 1988-1992 Barbara Pierce Bush telah membuktikannya. Istri Presiden Bush senior ini sukses menyematkan citra ibu negara yang luar biasa di mata masyarakat. Ia dikenal sebagai pribadi yang ramah, hangat, santun dan memiliki gaya public speaking yang sederhana namun membius. Media dan publik AS bahkan sepakat menjulukinya sebagai “everybody’s grandmother”. Citra Barbara yang mengagumkan ini mampu menutupi citra suaminya yang anjlok drastis pasca pemilu, terutama pada masa pecahnya Perang Teluk. Meskipun suaminya tak lagi menang dalam pemilihan presiden untuk periode kedua, kenangan akan Barbara akan selalu tersimpan di benak masyarakat Amerika.

Bandingkan dengan para pemimpin yang terbiasa tampil sebagai one-man-show. Betapa mudahnya citra buruk tentang mereka dibenarkan oleh publik. Fidel Castro, Hugo Chavez, junta militer Myanmar, dsb. Jadi memang benar jika seorang pemimpin pria kadang perlu ditempeli atribut femininitas, karena jika terlalu maskulin bisa jadi akan beresiko.

Oleh karena itu, jangan pernah remehkan tugas sebagai Ibu Negara. Apa yang dilakukan Barbara Bush mungkin menjadi contoh berharga bagi anda, para calon first lady.

Hal yang sama juga dilakukan oleh Evita Peron di Argentina, Ratu Sirikit di Thailand, Ibu Tien di Indonesia, atau Lady Di di Inggris. Bahkan mungkin setiap istri pemimpin dunia bermimpi untuk melakukannya. Selama noda-noda politik kepala negara masih jadi komoditas berita, nampaknya tugas seorang first lady tak akan ada habisnya.


Theme & Icons by N.Design Studio.
Entries RSS Comments RSS Log in