First Lady

hasyim_widhiarto@yahoo.com

Ketika pasukan Jerman kalah telak di Eropa, Hitler bunuh diri di bunker persembunyiannya. Ia tak sendirian. Eva Braun –kekasih yang dinikahinya sehari sebelum bunuh diri- turut melakukan hal yang sama, menenggak kapsul sianida dan menembak kepalanya.

Saat Permaisuri Mumtaz yang sangat dicintainya wafat, Shah Jahan berikrar membangun sebuah monumen lambang cinta yang megah dan tak tertandingi. Maka, konon ketika Taj Mahal selesai dibangun, semua tangan pekerjanya dipotong agar tak mampu membuat bangunan seindah itu lagi.

Ketika Nabi Muhammad menggigil di bawah selimut setelah didatangi malaikat Jibril, cuma Siti Khadijah yang dengan penuh keyakinan membenarkan ucapan suaminya. Beliau pulalah yang kemudian pertama-tama menyatakan imannya pada Rasulullah. Bahkan, Rasul pun masih terus mengingat Khadijah selepas wafatnya, hingga membuat istrinya yang lain menaruh cemburu.

Mungkin benar jika ada ungkapan “di belakang seorang pria sukses pasti ada seorang wanita”. Selain Hitler-Eva Braun; Jahan-Mumtaz; dan Muhammad-Khadijah, saya pikir masih banyak contoh lain yang bisa anda temukan dari kehidupan para pemimpin dunia bersama pasangannya. Kesimpulannya, dalam kehebatan sepak terjang mereka, hampir selalu ada sosok first lady di sampingnya.

Seorang first lady (bahasa bakunya sih ‘ibu negara’) mungkin bisa lebih populer dari suaminya, misalnya Lady Diana Spencer (mantan istri Pangeran Charles) Jacqueline Kennedy (istri Presiden John F. Kennedy), atau Siti Hartinah (istri Presiden Soeharto) yang akrab dipanggil Ibu Tien. Diantara mereka bahkan ada yang menyamai atau melebihi karir politik suaminya, sebutlah nama Evita Peron (Argentina), Sonia Gandhi (India), dan Hillary Rodham Clinton (AS). Yang tipikal pun banyak: mendampingi suami sembari mengelola organisasi-organisasi sosial. Yang masuk kelompok ini contohnya ialah Ani Yudhoyono (Indonesia) dan Laura Bush (AS). Terakhir, jangan lupakan mereka yang bertipe kriminal, semisal Imelda Marcos (Filipina) dan Marie Antoinette (Istri Raja Louis XVI), di tangan keduanya-lah kas negara dikuras untuk berfoya-foya.

Satu hal yang terlupakan, menjadi first lady sebenarnya ibarat menjadi figur ‘bayang-bayang’ suami. Ia harus siap menjadi bagian dari publisitas dan kemasyhuran sang suami. Namun posisi ini pun kerap mendapat penghormatan yang sepadan. Perhatikanlah dalam acara-acara formal kenegaraan, pasti si protokol tak lupa menggunakan kata ‘beserta istri’ atau ‘bersama istri’ saat menyapa sang kepala negara. Contohnya dalam kalimat berikut:

Protokol:“Selamat datang kami ucapkan kepada Bapak Presiden beserta rombongan istri. Eh, salah, maksud kami ’beserta  istri dan rombongan’ ”

Hadirin : Glek!!

Repotnya, istilah first lady ternyata kini tak cuma diartikan sebagai wanita pendamping kepala negara. Banyak istri-istri pejabat yang lantas menjadikannya analogi pada posisinya. Akibatnya, bermunculanlah first lady–first lady lokal di mana-mana. Maka jadilah istri Gubernur menjadi first lady di Propinsi-nya. Istri Bupati menjadi first lady di Kabupaten-nya. Demikian seterusnya hingga kecamatan, desa, RW, dan RT sekalipun. Panggilan Bu Lurah, Bu RT, atau Bu Camat seolah menyimpan prestise dan pengharapan tertentu yang melenakan. Bisa jadi, menjadi first lady lokal berarti menjadi jembatan pemuasan hasrat disanjung-sanjung (plus harapan menikmati berbagai tunjangan dan fasilitas, jika ada).

Tidak hanya itu, di berbagai institusi pun terjadi hal yang demikian. Istri Direktur, istri Kepala Bagian, Istri Dirjen, Istri Menteri, dsb, menjelma sebagai first lady dengan kapasitas yang bervariasi. Saya menyebut gejala ini sebagai first-lady syndrome. Bahasa kasarnya sih, dengan bersuamikan orang sukses atau terkenal, maka si wanita akan nebeng sukses dan terkenal. Istri Pak Dokter pasti akan disapa sebagai Bu Dokter. Istri pejabat, ya dipanggil juga dengan Ibu Pejabat.    

***

Sebenarnya, perlukah sosok kepala negara atau pemimpin (selalu) disematkan satu paket bersama seorang first lady? Ataukah ada maksud tersembunyi di balik itu?

Anda mungkin tidak menyangka jika Amerika Serikat (AS) –negeri yang sangat liberal, permisif, pelopor budaya free-sex, dengan angka perceraian dan single-parenting tinggi- ternyata sangat menjunjung tinggi kehadiran seorang first lady. Artinya, sebegajulan-begajulannya orang Barat sono, mereka masih mengharapkan pemimpinnya memberi suri teladan soal sosok keluarga yang ideal.

Ambil saja contoh tentang Presiden William ‘Bill’ Clinton. Terlepas dari skandal seksnya dengan Monica Lewinsky, kehidupan rumah tangga Bill dan Hillary terlihat ‘baik-baik saja’ sepanjang masa jabatannya. Malah kehidupan putri mereka, Chelsea, juga kerap diekspos media. Mungkin faktor ini yang turut menyelamatkan jabatannya untuk periode yang kedua (1997-2001). Pemilih lupa akan skandal masa lalu Clinton karena ternyata ia berhasil mempertahankan keluarganya. Setelah menyelesaikan masa jabatannya yang kedua, giliran Bill yang menyokong karier istrinya sebagai senator. Kini, George Bush Jr. nampaknya juga meniru resep itu. Dalam sejumlah kesempatan ia tak lupa menyertakan istrinya, Laura, dan putri kembarnya, Jenna dan Barbara.

Jika di negeri Barat demikian, maka pemimpin negeri-negeri Timur pun juga banyak yang melakukannya. Setidaknya dulu di Indonesia kita pernah benar-benar merasakan sosok seorang Ibu Negara pada diri Ibu Tien. Media dan masyarakat memujanya sebagai Ibu bangsa. Sampai saat ini salah satu buah pikirannya, Taman Mini Indonesia Indah, masih bisa kita lihat. Kita pun sempat mengamati istri-istri presiden RI selanjutnya: Ainun Habibie dan Sinta Nuriyah Abdurrahman Wahid (tentu saja Taufik Kiemas tidak kita sertakan), namun rentang jabatan suami mereka yang singkat membuat kiprahnya nyaris hilang tak berbekas.

Kini, nampaknya para penasehat komunikasi politik istana menyarankan Presiden SBY untuk melibatkan istrinya dalam berbagai acara dan kegiatan kenegaraan. Maka kita bisa sering melihat Ibu Ani Yudhoyono menyertai setiap lawatan suaminya. Bahkan tidak jarang, kegiatan-kegiatan lain dari ibu negara turut mendapat sorotan media.

***

Menurut Freud, laki-laki dan wanita ditakdirkan untuk menerima identitas gendernya yang taken-for-granted. Mereka mengidentifikasikan dirinya dengan identitas maskulinitas atau femininitas yang ideal di lingkungan sosial. Kalau cowok, pasti harus maskulin dan cewek pasti feminin. Itulah mengapa dari kecil seorang lelaki tidak dikondisikan untuk suka warna pink dan wanita dibuat merasa tidak pantas untuk membetulkan genteng bocor. Ujungnya, sifat maskulin dan feminin itu terinternalisasikan dalam satu paket.        

Paket maskulinitas misalnya meliputi sifat kebapakan, melindungi, bertanggung jawab, inisiatif, dewasa. Sedangkan paket femininitas contohnya tercermin dalam sifat lembut, penyayang, keibuan, sabar dan perhatian.

Sayangnya, paket-paket tersebut juga menyertakan hal-hal negatif di dalamnya. Para pria cenderung memiliki sifat egois, ambisius, tidak mau kalah, arogan dan dominan. Sedangkan para wanita dibekali sifat pasif, manja, terlalu banyak pertimbangan, emosional dan banyak mengeluh. Singkatnya, sebagai sebuah paket gender, tidak hanya kelebihan yang didapat tetapi juga kekurangan-kekurangan.

Nah, seorang pria yang menjabat sebagai kepala negara, pimpinan politik, pimpinan organisasi, dan semacamnya, adalah sosok yang sangat rentan menuai pretensi negatif masyarakat. Setiap kebijakan yang mereka ambil berpotensi menyulut pro dan kontra. Tak ada liputan media dan debat publik yang selalu bersahabat. Maka, seorang pemimpin dapat menjelma menjadi pahlawan dan monster sekaligus. Jika sudah demikian, maka gambaran sisi-sisi negatif  pria akan bermunculan.

Presiden Bush dinilai bodoh (fool), kejam dan arogan kala mengambil keputusan menyerang Irak. Mahatir Mohammad sempat dinilai egois dan tak tahu balas budi  saat memecat dan memenjarakan Anwar Ibrahim. Presiden SBY dianggap tidak memahami penderitaan rakyat dan plin-plan saat mengurangi subsidi publik yang berdampak pada gonjang-ganjing-nya berbagai sektor ekonomi. Jangan lupa, Bill Clinton secara nasional juga sempat dicap playboy dan mata keranjang tatkala skandal seksnya terungkap.   

Sifat-sifat yang dicetak tebal adalah residu dari paket maskulinitas yang saya uraikan sebelumnya. Betapa mudahnya hal ini terangkat dan menjadi isu publik, sehingga seorang pemimpin perlu bekerja ekstra keras guna mempertahankan konsistensi popularitas. Pada keadaan inilah sosok seorang first lady dibutuhkan.

Sebelumnya, jangan lupakan asumsi bahwa seorang first lady adalah perpanjangan tangan seorang presiden. Ketika ia melakukan berbagai kegiatan (kampanye sosial, kunjungan, acara peresmian, dll) maka ia turut membawakan nama suaminya. Bagaimanapun citra first lady nantinya terbentuk, baik atau buruk, semua akan kembali disematkan dalam satu paket bersama suaminya.

Terkait dengan pendapat Freud tentang disparitas gender, maka penting bagi sang presiden dan first lady untuk ‘mengawinkan’ citra positif  mereka. Seorang presiden yang bijaksana, tegas, cerdas dan bertanggungjawab akan semakin tinggi popularitasnya jika didampingi sosok istri yang memiliki kepedulian sosial, ramah, keibuan, santun dan loyal.     

Jikalau popularitas sang presiden sedang anjlok, maka citra baik dari istri akan menjadi faktor kontrol yang unik. Orang akan mempertimbangkan juga rekam jejak dari sang first lady sebelum memberikan penilaian lebih lanjut pada sang presiden. Citra presiden yang tidak peka, arogan dan ambisius misalnya, akan tertutupi oleh citra first lady yang keibuan, peduli, ramah, jujur dan dekat dengan publik.

Anda mau bukti? Selama rentang 1988-1992 Barbara Pierce Bush telah membuktikannya. Istri Presiden Bush senior ini sukses menyematkan citra ibu negara yang luar biasa di mata masyarakat. Ia dikenal sebagai pribadi yang ramah, hangat, santun dan memiliki gaya public speaking yang sederhana namun membius. Media dan publik AS bahkan sepakat menjulukinya sebagai “everybody’s grandmother”. Citra Barbara yang mengagumkan ini mampu menutupi citra suaminya yang anjlok drastis pasca pemilu, terutama pada masa pecahnya Perang Teluk. Meskipun suaminya tak lagi menang dalam pemilihan presiden untuk periode kedua, kenangan akan Barbara akan selalu tersimpan di benak masyarakat Amerika.

Bandingkan dengan para pemimpin yang terbiasa tampil sebagai one-man-show. Betapa mudahnya citra buruk tentang mereka dibenarkan oleh publik. Fidel Castro, Hugo Chavez, junta militer Myanmar, dsb. Jadi memang benar jika seorang pemimpin pria kadang perlu ditempeli atribut femininitas, karena jika terlalu maskulin bisa jadi akan beresiko.

Oleh karena itu, jangan pernah remehkan tugas sebagai Ibu Negara. Apa yang dilakukan Barbara Bush mungkin menjadi contoh berharga bagi anda, para calon first lady.

Hal yang sama juga dilakukan oleh Evita Peron di Argentina, Ratu Sirikit di Thailand, Ibu Tien di Indonesia, atau Lady Di di Inggris. Bahkan mungkin setiap istri pemimpin dunia bermimpi untuk melakukannya. Selama noda-noda politik kepala negara masih jadi komoditas berita, nampaknya tugas seorang first lady tak akan ada habisnya.