The Art of Tutoring

Uncategorized 1 Comment »

Dulu, waktu gw masih SMU, gw membayangkan akan kuliah sambil kerja part-time di McD atau KFC a.k.a bersih-bersih jadi cleaning service gitu. Setahu gw, di film bule dan di sinetron Indonesia banyak mahasiswa yang begitu bukan? Hehe. Tapi yang jelas, prinsip gw adalah gw harus sudah punya pendapatan ketika kuliah.


Tiga bulan pertama masuk UI, kerjaan gw cuma ngabisin duit doang. Jatah survival money gw emang dikasih buat tiga bulan pertama sekaligus. Walhasil, abis jualah lembaran uang itu dalam waktu yang direncanakan. Pertanyaan selanjutnya, nyari duit tambahan dengan cara yang bagaimanakah gw selanjutnya?


Singkatnya, Oktober 2003, gw diterima ngajar di sebuah tutor-agency. Perusahaan ini menyuplai guru privat untuk anak-anak yang belajar di sekolah internasional. Sumpah, gw kaget, cemas campur girang setengah mati. Kaget karena gw sama sekali nggak tahu itu agensi ngurusin orang asing (karena flyer­-nya nggak nyebutin itu). Cemas karena tahu english-conversation gw sebenarnya masih belepotan. Girang karena tahu gw bakal dapet duit yang sangat lumayan dari kerjaan ini.


Ummm, well. Tapi ternyata tidak semudah itu. Karena apa? Murid pertama gw adalah orang Skotlandia-Australia. As you know, they have such a strange accent. Jadilah selama 1.5 jam belajar itu waktu menjadi terasa sangaaaaaat lama. Gw sampe berdoa dalam hati berharap niy anak-anak (gw ngajar dua anak sekaligus, 2-2 nya kelas 5) bisa ngulang kata-kata yang gw gak jelas, yang kebetulan lumayan bayak banget.


Dua minggu berikutnya, gw dikasih murid baru, orang Indonesia. Gw bersyukur karena niy anak dan orangtuanya ternyata pake bilingual di rumah. Jadi kita belajar pake Bhs. Inggris dan ngobrol santai pake Bhs. Indonesia. Jadi hari-hari pertama gw ngajar itu ibarat menanti hari keberuntungan dan hari sial. Senin, ketemu dua anak Scottish itu. Selasa-Rabu ketemu Alex, murid gw satu lagi.



Selama empat tahun ngajar ini, gw udah pegang banyak murid dengan berbagai kenegaraan. Moga-moga yang gw tulis ini udah semuanya: UK (5 orang), US (1), Australia (4), Skotlandia (1), Kolombia (1), Indonesia ( 9), India (3). Oiya, hampir lupa, spesialisasi gw adalah Matematika, Bahasa Inggris, Bahasa Indonesia dan Sains. Semuanya gw batesin sampe kelas 10. Jadi rata-rata murid-murid gw rentang usianya 8-15 tahun. Tapi kalo sekarang, ditambah sama murid-murid rekomendasi orang, ada murid gw yang umurnya 24 tahun lho.


Umm, yg mau gw bilang siy, gw udah gak nervous lagi siapapun muridnya. Senakal apapun dia. Segeblek apapun kelakuannya. Semales apapun belajarnya. Gw marah pada saat harus marah, tegas pada saat yang dibutuhkan, dan mencoba untuk sama disiplinnya dengan mereka. Karena gw pikir, orang Indonesia ternyata punya kesempatan lho buat ngatur-ngatur orang bule. Kita tidak lebih bodoh dari mereka kok. Dan disitulah gw mendapatkan respek dan kepuasan sebagai pengajar.


Balik ke motivasi nyari duit yang dulu. Gw rasa itu masih ada, tapi bukan nomor satu lagi. Banyak hal positif yang gw dapet dari nge-les-in anak-anak bule. Misalnya, account-balance gw selalu positif, Halah. Gw jadi bisa menghargai waktu, mengatur jadwal dengan tepat dan efisien, matang berdiplomasi, jadi lebih dewasa, belajar menentukan prioritas, juga belajar memimpin. Banyak deh. Yah, kalaupun ntar gw punya anak, gw tinggal inget-inget, anak gw ini mirip kayak murid gw yang mana. Jadi treatment-nya bisa gw bayangin harus bagaimana.               

Cagub Selular

Uncategorized No Comments »

Bagi saya, perang kampanye Calon Gubernur (Cagub) DKI Jakarta tak ubahnya seperti tren pertarungan iklan operator seluler. Bedanya, Cagub DKI cuma dua pasang dan operator seluler banyak. Ciri-ciri yang lainnya tak jauh beda: menjual ‘benefit’, massif, multiagent (below the line dan above the line), dan ini yang paling penting, ‘saling sikut’.

Kontinum ‘saling sikut’ ini pun beragam, dari mulai materi kampanye yang bermuatan sindiran halus sampai simbolisasi yang cenderung menjatuhkan (jika tidak ingin dibilang ‘kasar’ atau ‘menghina’). Yang jelas,  tidak ada yang tahu siapa yang mulai duluan. Satu menyindir, yang lain membalas. Satu iklan berusaha menunjukkan benefit dari sebuah produk, iklan yang lain menggembosinya.

Jika iklan Esia (versi Ringgo) memblejeti semua ‘manipulasi’ tarif operator, maka Flexi merilis kampanye  tentang betapa bodoh dan tidak bergunanya menghabiskan waktu berjam-jam di telepon. Operator 3 bahkan lebih hebat lagi dengan me-nol-kan tarifnya. Untungnya kampanye ini segera ditindak karena dianggap membahayakan persaingan bisnis. Saya bisa pastikan anda pun sudah punya contoh anda sendiri yang menggambarkan betapa serunya pertarungan bisnis seluler ini. Tentu dengan catatan: anda membaca koran, punya televisi, atau sering bepergian.

Nah kembali ke seteru Adang – Fauzi. Muatan kampanye kedua kandidat ini rasanya mulai menuju ke arah yang tidak sehat. Di sudut-sudut Jakarta, spanduk dan atribut kampanye keduanya berhamparan dengan kalimat-kalimat berkonotasi menyindir. Terakhir saya melihat di pintu tol Simatupang terbentang spanduk kampanye calon no.1 yang berbunyi, “Juragan Onta, Pasti Tajir. Ngurus Jakarta, Kok Banjir”. Kalimat sindiran untuk calon no.2 ini (Yah untuk siapa lagi maksudnya) ternyata juga berbalas kalimat di spanduk di sebelahnya, “Serahkan Jakarta pada Ahlinya”.

Keluar pintu tol di Fatmawati saya juga sempat melihat spanduk-spanduk lain, serentengan, dengan ‘keragaman’ sebagai kata saktinya. Ada yang bertuliskan “Berkarya dalam Keragaman”, “Kasih dalam Keragaman”, atau “Keragaman adalah Amanat”. Semua tergantung ada logo partai apa di sebelahnya.  Muatannya jelas, menyindir calon lain yang dianggap hanya mewakili ‘satu golongan’.

Iklan komersial di TV bahkan jauh lebih berani. Tagline Fauzi Bowo adalah sebait ucapan dengan gaya nakal dia akhir iklan ‘cuma dia yang tahu Betawi, yang laen mah kagak’. Nyata merendahkan pengalaman calon lain, yang memang bukan dari kalangan birokrasi.  Sedangkan materi iklan Adang sebenarnya berusaha menyentuh nilai humanis, namun mau tidak tergoda juga untuk urun ‘pukulan’. Misalnya testimoni seorang tokoh betawi yang bilang, “Jawara sejati mah gak pernah maen keroyokan”. Simbolisasi ini terang-terang dialamatkan kepada calon yang (kebetulan) didukung oleh belasan parpol. Bisa jadi ini ini sindiran, bisa jadi ini adalah cara halus untuk meraih simpati. Wallahualam.


Namun, di atas itu semua, ada hal yang patut dikhawatirkan. Lihatlah bagaimana bentuk kampanye ini berlanjut. ‘Campaign Roadshow’ memang terus berjalan, tapi orang juga akan ingat ‘perang kata-kata’ dan ‘adu mulut’ kedua calon yang mereka tangkap dari TV, radio, brosur, spanduk, atau selebaran. Nah, dengan kecenderungan muatan semacam itu, maka dapat saya simpulkan bahwa calon A berharap dirinya dipilih karena masyarakat melihat keburukan pada calon B, demikian pula sebaliknya. Artinya, tidak ada satupun dari kedua calon yang benar-benar jualan ‘program’. Pengharapan terbesar mereka ialah menyaksikan pemilih menilai bahwa calon lain penuh dengan kekurangan. Inilah masalah yang layak untuk dicermati.


Maka saya pun tidak bakal kaget jika nanti ada kisruh, siapapun pemenangnya. Yah, cuma gara-gara menghindari sanksi kampanye saja mereka tidak boleh berkonfrontasi langsung pada saat ini. Tapi saya sih yakin kalau pendukung kedua calon akan sudah sama-sama merah kupingnya, pedes matanya, sampai saat pencoblosan berlangsung. Tinggal tunggu meledak, saat pengumuman siapa pemenangnya.

 


Theme & Icons by N.Design Studio.
Entries RSS Comments RSS Log in