Bagi saya, perang kampanye Calon Gubernur (Cagub) DKI Jakarta tak ubahnya seperti tren pertarungan iklan operator seluler. Bedanya, Cagub DKI cuma dua pasang dan operator seluler banyak. Ciri-ciri yang lainnya tak jauh beda: menjual ‘benefit’, massif, multiagent (below the line dan above the line), dan ini yang paling penting, ‘saling sikut’.

Kontinum ‘saling sikut’ ini pun beragam, dari mulai materi kampanye yang bermuatan sindiran halus sampai simbolisasi yang cenderung menjatuhkan (jika tidak ingin dibilang ‘kasar’ atau ‘menghina’). Yang jelas,  tidak ada yang tahu siapa yang mulai duluan. Satu menyindir, yang lain membalas. Satu iklan berusaha menunjukkan benefit dari sebuah produk, iklan yang lain menggembosinya.

Jika iklan Esia (versi Ringgo) memblejeti semua ‘manipulasi’ tarif operator, maka Flexi merilis kampanye  tentang betapa bodoh dan tidak bergunanya menghabiskan waktu berjam-jam di telepon. Operator 3 bahkan lebih hebat lagi dengan me-nol-kan tarifnya. Untungnya kampanye ini segera ditindak karena dianggap membahayakan persaingan bisnis. Saya bisa pastikan anda pun sudah punya contoh anda sendiri yang menggambarkan betapa serunya pertarungan bisnis seluler ini. Tentu dengan catatan: anda membaca koran, punya televisi, atau sering bepergian.

Nah kembali ke seteru Adang – Fauzi. Muatan kampanye kedua kandidat ini rasanya mulai menuju ke arah yang tidak sehat. Di sudut-sudut Jakarta, spanduk dan atribut kampanye keduanya berhamparan dengan kalimat-kalimat berkonotasi menyindir. Terakhir saya melihat di pintu tol Simatupang terbentang spanduk kampanye calon no.1 yang berbunyi, “Juragan Onta, Pasti Tajir. Ngurus Jakarta, Kok Banjir”. Kalimat sindiran untuk calon no.2 ini (Yah untuk siapa lagi maksudnya) ternyata juga berbalas kalimat di spanduk di sebelahnya, “Serahkan Jakarta pada Ahlinya”.

Keluar pintu tol di Fatmawati saya juga sempat melihat spanduk-spanduk lain, serentengan, dengan ‘keragaman’ sebagai kata saktinya. Ada yang bertuliskan “Berkarya dalam Keragaman”, “Kasih dalam Keragaman”, atau “Keragaman adalah Amanat”. Semua tergantung ada logo partai apa di sebelahnya.  Muatannya jelas, menyindir calon lain yang dianggap hanya mewakili ‘satu golongan’.

Iklan komersial di TV bahkan jauh lebih berani. Tagline Fauzi Bowo adalah sebait ucapan dengan gaya nakal dia akhir iklan ‘cuma dia yang tahu Betawi, yang laen mah kagak’. Nyata merendahkan pengalaman calon lain, yang memang bukan dari kalangan birokrasi.  Sedangkan materi iklan Adang sebenarnya berusaha menyentuh nilai humanis, namun mau tidak tergoda juga untuk urun ‘pukulan’. Misalnya testimoni seorang tokoh betawi yang bilang, “Jawara sejati mah gak pernah maen keroyokan”. Simbolisasi ini terang-terang dialamatkan kepada calon yang (kebetulan) didukung oleh belasan parpol. Bisa jadi ini ini sindiran, bisa jadi ini adalah cara halus untuk meraih simpati. Wallahualam.


Namun, di atas itu semua, ada hal yang patut dikhawatirkan. Lihatlah bagaimana bentuk kampanye ini berlanjut. ‘Campaign Roadshow’ memang terus berjalan, tapi orang juga akan ingat ‘perang kata-kata’ dan ‘adu mulut’ kedua calon yang mereka tangkap dari TV, radio, brosur, spanduk, atau selebaran. Nah, dengan kecenderungan muatan semacam itu, maka dapat saya simpulkan bahwa calon A berharap dirinya dipilih karena masyarakat melihat keburukan pada calon B, demikian pula sebaliknya. Artinya, tidak ada satupun dari kedua calon yang benar-benar jualan ‘program’. Pengharapan terbesar mereka ialah menyaksikan pemilih menilai bahwa calon lain penuh dengan kekurangan. Inilah masalah yang layak untuk dicermati.


Maka saya pun tidak bakal kaget jika nanti ada kisruh, siapapun pemenangnya. Yah, cuma gara-gara menghindari sanksi kampanye saja mereka tidak boleh berkonfrontasi langsung pada saat ini. Tapi saya sih yakin kalau pendukung kedua calon akan sudah sama-sama merah kupingnya, pedes matanya, sampai saat pencoblosan berlangsung. Tinggal tunggu meledak, saat pengumuman siapa pemenangnya.