Nasionalisme dalam Tragedi dan Lapangan Hijau
Uncategorized September 5th, 2007
Mei 1960, Chile luluh lantak. Negara dengan bentuk geografis pipih memanjang ini mengalami kehancuran yang parah setelah disapu gempa berkekuatan 8,5 skala richter. Dua juta ruma h hancur dan sekitar 6 ribu nyawa melayang. Padahal, Chile tengah dalam persaingan menjadi tuan rumah Piala Dunia, event olahraga paling akbar di dunia.
Harusnya FIFA, Federasi Sepakbola Internasional, tidak perlu ambil risiko dengan tetap mengikutsertakan Chile dalam pencalonan. Namun, sejarah berkata lain. Adalah Carlos Dittborn yang akhirnya membuat FIFA menyetujui Chile menjadi tuan rumah Piala Dunia 1962. Dalam pidatonya yang mengharukan di depan Kongres FIFA, Ketua Federasi Sepakbola Chile itu berkata, "Kami telah kehilangan segalanya, dan inilah alasan paling tepat mengapa kami harus bisa bangkit dengan segala kemampuan kami".
Dittborn dan pemerintahnya benar-benar membuktikan itu. Dalam tempo dua tahun Chile berhasil memulihkan kembali ibukota Santiago sebagai kota metropolis. Stadion-stadion yang dibutuhkan berdiri tegak, bersama sarana dan infrastruktur yang lain. Negara-negara lain akhirnya juga tidak segan mengulurkan bantuan yang dibutuhkan. Chile pun siap menjadi tuan rumah Piala Dunia.
Seketika, aura Piala Dunia juga menjadi semangat tersendiri bagi rakyat Chile. Dengan penuh kecintaan mereka mendukung tim nasionalnya yang juga turut berlaga. Yang paling penting, kepedihan akibat bencana dua tahun sebelumnya seakan sirna. Semuanya bersukacita saat bola bergulir di lapangan hijau. Tidak ada lagi diri sendiri, yang ada adalah satu Chilean, bangsa Chile. Masyarakat yang sempat diramalkan akan terpuruk untuk beberapa dekade ternyata mengalami titik balik yang luar biasa karena Piala Dunia.
Kisah Chile adalah sebuah pelajaran berharga tentang bagaimana tragedi dan olahraga mampu mengingatkan orang akan tanah airnya. Gempa di Chile, tentunya menyayatkan luka di hati setiap rakyat Chile. Mereka menghadapi kenyataan bahwa negara mereka hampir ambruk dan ribuan saudara mereka tewas. Namun, kehancuran akibat tragedi ini ternyata tidak diratapi terus-terusan. Rakyat dan pemerintah Chile dihujani semangat baru untuk membangun kembali negaranya. Tidak bisa dipungkiri, kebanggaan sebagai tuan rumah Piala Dunia memberikan pengaruh sangat besar dalam hal ini.
Tanah air menawarkan tempat untuk ‘pulang’ buat mereka yang asanya terjerambab karena tragedi. Sedangkan olahraga menjadikan tanah air serasa ‘rumah’, ada mimpi dan harapan baru di sana. Saya pun jadi berpikir apakah Indonesia kini hanya bisa dipersatukan lewat jalan yang demikian.
Lihatlah betapa bersatunya negeri ini saat Aceh dihantam tsunami. Pertolongan datang dari seluruh penjuru negeri. Bantuan dihimpun sampai setiap sudut pemukiman. Sukarelawan tiba silih berganti. Lihatlah perhatian yang diberikan. Sungguh luar biasa, seakan-akan melupakan fakta bahwa ada bara separatisme yang tersimpan di sana. Yang jauh lebih penting, semuanya merasa harus menolong saudara sebangsa.
Dan jangan lupa, saksikan betapa heroiknya suasana laga tim sepakbola nasional kita di Piala Asia lalu. Puluhan ribu orang mengumandangkan ‘Indonesia Raya’ di tribun Gelora Bung Karno tanpa ada yang mengomando. Puluhan ribu lainnya tertahan di gerbang dan sempat kecewa karena tidak berkesempatan memberi dukungan. Sementara itu, jutaan pasang mata menonton televisi sambil berdoa sungguh-sungguh dan setulus-tulusnya untuk kejayaan Indonesia. Segenap pemain timnas juga terus berjuang seakan paham mereka didukung oleh seluruh negeri.
Aceh memang belum penuh sepenuhnya pulih dan PSSI harus kecewa karena timnas gagal menembus babak berikutnya. Namun dua peristiwa tersebut membuktikan bahwa rakyat Indonesia ternyata masih mencintai negaranya dengan sungguh-sungguh.
Tapi sayangnya, daftar alasan untuk me’nina-bobo’kan rasa nasionalisme ternyata lebih panjang. Segera setelah gaung Piala Asia berakhir, bendera perseteruan antar suporter klub-klub lokal dikibarkan kembali. Pertandingan sepakbola kerap berujung rusuh dan perkelahian. Nasionalisme yang sempat berkobar luruh kembali menjadi fanatisme promordial.
Demikian pula ketika simpati pada Aceh mulai mendekati masygul, masyarakat harus berkutat lagi dengan permasalahan sehari-hari. Minyak goreng langka dan mahal, minyak tanah hilang dari pasaran. Biaya sekolah menjerat leher, sementara pendapatan makin tak sebanding dengan harga kebutuhan dasar yang perlu dicukupi. Akhirnya, kebutuhan mengisi perut mengalahkan rasa hormat terhadap pemerintah.
Itu baru masalah ekonomi. Dalam bidang politik, para elite tak kunjung menjadi suri tauladan buat masyarakatnya. Partai-partai politik berubah menjadi sarana penyaluran hasrat berkuasa. Tengoklah, miliaran rupiah dihamburkan untuk memenangi pemilu dan pilkada. Visi dan ideologi partai pun akhirnya berubah laiknya barang dagangan saja. Keduanya dikemas dan dipromosikan semenarik mungkin, tapi bahan-bahan (substansi) dan efek sampingnya (konsekuensi) dikaburkan. Ada yang yang mengaku nasionalis tapi malah melakukan privatisasi. Ada yang mengaku mendukung persatuan dan kesatuan bangsa, tapi rivalitas internalnya tak kunjung berakhir. Lebih parah lagi, ada yang mengaku mendukung pemerintah, tapi juga terang-terangan bermesraan dengan oposisi.
Daftar tersebut masih bertambah panjang kalau mau menambahkan soal korupsi, kemiskinan, kriminalitas, tayangan televisi, dan seterusnya. Ah, sudahlah, gara-gara ini saya pun kadang mempertanyakan apakah saya bangga punya KTP Indonesia.
Lantas, kemana jutaan orang yang sempat sama-sama bersimpati untuk Aceh? Dimana kini jutaan orang yang dadanya bergemuruh saat Bambang Pamungkas menceploskan gol ke gawang Bahrain? Lenyapkah mereka?
Tidak! Saya yakin mereka masih ada.
Lihatlah cermin dan anda akan melihat salah satu dari mereka. Tengoklah siapapun di sebelah anda, itulah mereka. Cermatilah orang-orang yang berlalu lalang di hadapan anda, itulah mereka. Orang-orang itu akan selalu ada, namun dengan nasionalisme yang tertidur. Menunggu untuk dibangunkan.
Carlos Dittborn berhasil meyakinkan dunia bahwa Chile mampu. Namun, ia tak sempat menyaksikan Chile meraih tempat ketiga setelah mengalahkan raksasa sepakbola Italia dan Uni Soviet. Dittborn meninggal hanya beberapa hari menjelang pembukaan Piala Dunia. Tak ada seorang pun yang pernah melupakannya. Karena dialah rakyat Chile menemukan kembali alasan untuk mencintai negerinya.
Tapi tentu tak ada yang mau mengharap datangnya bencana hanya untuk membangunkan nasionalisme. Persis, sebagaimana kita tidak bisa terus berharap masyarakat terus bangga pada prestasi olahraga kita yang semenjana. Masing-masing kita harus menemukan alasannya sendiri untuk mencintai Indonesia.
September 5th, 2007 at 8:22 am
betul…
setuju banget
sering banget ngerasa gimana kalo tiap mata kuliah yang nyinggung negara kita ini pasti kesannya nggak ada bagus2nya, mpe bertanya dalam hati sendiri, apa nggak ada lagi ya… yang bisa dibanggain dari indonesia?
ehm… menunggu pahlawan2 baru neh…