<!– DIV {margin:0px;}–>

Percaya
nggak kalau dulu gw pernah bercita-cita jadi kondektur? Jangan kaget
juga kalau gw juga sempat kepengen jadi tukang sampah, Wakakakak.


Alasannya sederhana, dulu waktu gw kecil, gw sering banget diajak jalan-jalan naek bus. Nah, di bus itu
pemandangan yang selalu gw liat adalah seorang kondektur dengan segepok
uang di tangan. Entah apakah gw punya DNA matre atau nggak, tiba-tiba
gw merasa “Waaah, enak kali ya kalo jadi kondektur, pegang-pegang
banyak duit.”. Waktu nenek gw maen ke Jakarta
dan nanyain cucu gantengnya mau jadi apa, itulah pertama kalinya gw
bilang kalau gw pengen jadi kondektur. FYI, gw baru masuk playgroup
kala itu.


Motivasi
buat jadi tukang sampah lain lagi. Di tempat gw dulu, di Jatibening,
tukang sampahnya ngorek-ngorek tempat sampah sambil mencangklong
keranjang rotan gedhe di punggungnya. Jadi tuh keranjang ditaruh kayak
lu naruh tas ransel di punggung. Kebetulan gw sering banget maen di
luar rumah dan liat tuh ‘abang-abang’ beraksi. Gw pikir seru juga kalau
gw jadi tukang sampah, karena gw bisa punya tas guedhee banget,
modelnya juga keren lagi. Waktu itu umur gw sekitar 4,5 tahun, lagi
seneng-senengnya sekolah di playgroup.


Menurut
gw, menanyakan cita-cita ke anak-anak memang seperti menyuruh mereka
bermimpi. Jika bermimpi saja harus punya referensi, maka bisa jadi
anak-anak punya keinginan menjadi ‘sesuatu’ karena pernah melihat
‘sesuatu’, atau memiliki pengalaman terhadap ‘sesuatu’ itu. Yah,
kira-kira mirip cerita gw tadi lah.


Jadi
saat guru TK bertanya, “Hayo, Budi cita-citanya mau jadi apa?”, gw sama
sekali nggak percaya kalau si Budi bakal menjawab “Jadi pilot Bu Guru”,
atau “Jadi presiden Bu Guru”, selama dia gak pernah punya pengalaman
atau referensi tentang menjadi seorang pilot atau presiden.


Lantas
kenapa muncul jawaban yang beragam saat anak-anak ditanya soal
cita-cita? Sebutlah cita-cita macam ‘dokter’, ‘tentara’, ‘insinyur’,
‘perawat’, ‘businessman’, dsb? Jawabannya mudah, anak-anak itu mungkin
cuma tahu pekerjaan-pekerjaan tadi  dari apa
kata orang tuanya. Misalnya, “Nak, kamu kalau udah besar jadi dokter
ya!”. “Dokter itu apa, Pa?”. “Dokter itu tugasnya nolong orang,
ngobatin orang sakit”. “Ooh, gitu ya?”. “Iya!”. Itulah mengapa, kalau
pun anak-anak menjawab demikian, itu hanya jawaban di bibir saja (:p).


Coba
deh lu inget-inget apa cita-cita lu waktu kecil dan kenapa lu
bercita-cita seperti itu. Nah, setelah sekian lama masihkah lu memiliki
cita-cita yang sama? Atau mungkin sekolah, kuliah atau pekerjaan lu
sama sekali gak pernah lu harapkan sebeumnya? Atau bahkan ekstrimnya,
lu baru punya cita-cita di hari pertama elu bekerja?


Gw punya temen yang di hari pertama kuliah dia bilang pengen jadi copywriter iklan
kayak bokapnya. Gw kaget karena dua hal: karena gw baru tahu ada
kerjaan dengan nama seperti itu, kopi-kopi apa gitu, dan karena niy
anak kayaknya sangat meng-appreciate kerjaan bokapnya itu sehingga
pengen jadi ‘kopi-kopi apa gitu’ juga. Wehhhh… yang gw tahu siy temen
gw itu sekarang udah kerja di dunia periklanan setelah lulus kuliah dan
sepertinya sangat menikmati dunianya.


See?
Alangkah baiknya jika memberi inspirasi kepada anak-anak untuk
bercita-cita sebaiknya dilakukan sejak jauh-jauh hari. Bagi gue sih,
artinya tidak cuma si anak tahu kerjaan A, B, atau C itu ‘nolongin
orang’, ‘bangun jembatan’, ‘nangkep penjahat’, ‘nerbangin pesawat’,
dsb. Tapi yang paling penting bagaimana anak-anak dibangkitkan minatnya
dengan memberikan contoh dari pengalaman atau dari apa-apa yang mereka
lihat sendiri sebelumnya.


Hmm,
kadang-kadang sampai sekarang gw juga agak bingung kalau orang nanya gw
mau jadi apa. Bukan karena gw gak tahu kemampuan diri gw, tapi mungkin
karena gw udah terlalu tahu segala kekurangan dan kelebihan, juga
keuntungan dan kerugian, di pekerjaan itu. Repot juga! You know what? Salah satu cita-cita gw yang bertahan hingga saat ini adalah jadi Duta Besar RI untuk India, ha ha 121x….


Ya sudahlah, mungkin ada baiknya kita merenung sebentar sebelum melanjutkan hidup.