Kelas II.3: Semua Bermula dari Sini…
Hikayat February 2nd, 2008Melintasi Jalan Raya Jurong menuju terminal Boon Lay, bus yang gw tumpangi sejenak berhenti. Kami tertahan oleh lampu lalu lintas yang menyala merah di jalan yang sebenarnya tidak begitu ramai itu. Agak kesal juga karena harusnya perjalanan bisa lebih cepat dari biasanya, tapi entah kenapa bus-nya agak-agak lelet hari itu. Pandangan gw berkeliaran memandangi apa saja buat mengusir bosan. Mencitra sejenak, mata gw akhirnya tertumbuk ke sekerumunan anak Secondary School yang sedang bermain sepak bola.
Baju olahraga berlogo yang mereka pakai menandakan bahwa jam pelajaran Physical Education (PE) sedang berjalan. Mereka berlarian menendang bola kesana kemari di lapangan rumput yang di’kurung’ pagar teralis besi setinggi bus tingkat yang gw naiki. Sang coach, mungkin guru olahraganya, berdiri di sisi lapangan sambil sesekali meniup peluit. Mengasyikkan.
Tak sampai semenit, SBS Transit No. 30 yg gw naiki bergerak perlahan. Pandangan gw masih belum lepas dari bocah-bocah yang kesenangan itu. Sekrup memori gw terjentik, dan kenangan masa SMU dulu tiba-tiba berlompatan menampilkan semacam playback video pada sandaran kursi di depan gw……
Kelas 2.3 : Membuka lembar pertama
Sebulan setelah umur gw bergeser ke angka 15 , gw mengawali tahun kedua di SMU. Menurut daftar absensi siswa yang dibagikan di hari pertama Tahun Ajaran 2001/2002, nama ‘Hasyim Widhiarto A.D.A.K’ tertera pada lembar absensi Kelas 2.3, di nomor urut 4. Segera setelah upacara bendera, gw melihat nama-nama bakal teman gw di kelas yang baru ini.
Seperti lazimnya sekolah-sekolah di Indonesia ,sekolah gw mengacak daftar siswa di kelas berikutnya. Maka, tidak ada yang lebih menarik buat gw dan teman-teman selain memastikan ada ‘siapa’ di kelas kita.
“Waduh, kok gak akeh sing kenal iki rek!”, kalimat itu yg masih gw inget setelah membaca nama-namanya.
(Uups, gw lupa bahwa banyak orang non-Jawa yg baca blog ini. Hmm, kira-kira artinya: “Duh, kok gak banyak yang kenal (akrab) ya?!?!”. Nah, ngono pembaca!”)
Hari pertama, was soooo sad! Awalnya, jumlah siswa 42 orang. Tapi ternyata ada pengumuman bahwa kelas gw ketambahan satu orang anak baru pindahan dari Kota Malang. Si anak baru ini –namanya Amalia-
mengganjili (bukan menggenapi, red) jumlah siswa menjad 43 orang.
Akibatnya, ada satu orang anak yang nggak dapet temen duduk sebangku.
Siapakah dia?? Dia adalah siswa dengan nomor urut….. EMPAT!! Sooooo sad!
Kelas 2.3 dan Tim Sepakbola
Karena perpaduan di kelas kami sangat beragam, maka sangat tidak gampang juga membangun sebuah tim sepakbola. Tidak ada lebih dari empat pria yang dulu pernah sekelas di kelas satu. Dari jumlah itu pun, juga tidak semuanya main bola. Ampun deh!
Maka, jadilah semuanya berebutan jadi coach (pelatih) dadakan. Coach di sini kira-kira berarti orang yang berwenang menentukan siapa main di posisi mana, strategi apa yang dipakai, juga kapan jadwal bertanding kita.
Di hari pertama pelajaran olahraga semuanya masih pada sok jago. Sampai akhirnya waktu ganti baju kita semua sepakat (secara aklamasi) mengangkat M. Affan Prasetyo (si Apang/Affan) sebagai manajer. Hmmm, alasannya? Just simply because: dia yang paling banyak ngomong, nggak mau kalah dan nggak tahu malu, paling item lagi. Hua ha ha.
Di bawah asuhan coach Affan dan manajer tim Meita Mayasari Harlinah (Meita), tim sepakbola 2.3 menjelma menjadi salah satu kekuatan sepakbola yang ditakuti di kancah sepakbola lokal SMU Negeri I Sooko Mojokerto. Dalam seminggu setidaknya kami bertanding satu kali melawan tim dari kelas lain. Gw lupa persisnya berapa kali kita main-memang-kalah-seri-memasukkan-kemasukan, apalagi berapa kartu kuning dan kartu merah masing-masing pemain. Hehe. Tapi yang jelas, dalam waktu sekitar dua bulan, tim 2.3 menjadi salah satu kiblat sepakbola SMU gw, bersaing dengan kelas 2.5 dan 1.8.
Squad lengkap kami adalah sbb (mudah-mudahan nggak ada yang ketinggalan ya!)
GK: Martino D.K, M. Kholid Marzuqi. Belakang: Aminsyah, Nanang, Vallen, Vindra, Wibakti, Firman. Tengah: Vindra, Hasyim, Fala. Depan: Affan (c), Dicky R.B.
Manajer: Meita Mayasari Harlinah
Medis: Ismanu, Andhes, Saguh, Deasy, Lia, Shinta, Maya
Sponsor: Segenap siswa 2.3 yang uang sakunya masih sisa di siang hari menjelang pertandingan.
Yah, karena jumlah kami juga pas-pasan, maka repotlah kalo ada yang absen di hari pertandingan. Kalo udah begitu, maka anak-anak cowok yang gak bisa main bola pun terpaksa kita bujuk-bujuk supaya ikut.
Maka, ketika pertandingan berjalan seringlah muncul pertanyaan-pertanyaan macam ini: “Med, Memed, offside itu apaan sih?” atau, “ini tandingnya berapa lama sih? Kok gak selesai-selesai?”. Atau, “Lho, lho, lho, yang lain kok pada maju semua? Aku ditinggal jadi kiper sendirian? (terisak), janjinya tadi boleh ngajak temen?! Hu hu”, Glek!!
Tim Kebanggan Kami : Kaya Ragam, Kaya Duit, Miskin Gelar
Bicara soal kesuksesan nampaknya relatif. Entah kenapa Dewi Fortuna tidak pernah berpihak pada klub kami saat lomba-lomba resmi. Kami nggak pernah juara di acara Class Meeting. Tiga kali lomba itu dibikin, masuk semi-final pun nggak pernah. Mungkin tampang kami yang berwarna-warni itu (item, putih, ijo belang-belang, bule, albino, sawo mateng) bikin Dewi Fortuna mual-mual waktu mau ngasih keberuntungan. Haaah, lupakan sajalah!
Tapi kalo dari sisi keuangan, sepertinya klub kami ini yang paling sustain diantaranya klub-klub lain. Ehem ehem, off the record, adalah rahasia umum kalau tanding bola pasti kudu pake taruhan. Alasannya sih, katanya, buat beli minum. Ntar yang kalah nraktir yang menang. Tapi gw juga gak pernah peduli, yang penting maen aja. Urusan taruhan dan tetek bengeknya ya si Affan dan beberapa orang lain. Maka, jadilah selalu ada uang yang dipertaruhkan sebelum deal pertandingan diumumkan. Jumlahnya kalau nggak salah bisa 30-ribu, 40-ribu, 50-an ribu, segitulah. Seinget gw sih, belum pernah nyampe angka seratus ribu sekali main.
Nah, selama setahun itu udah nggak kehitung kita bertanding sama sapa aja. Kalah sih pernah, tapi kayaknya menang lebih sering. Setelah dipotong buat minum, bayar wasit, beli bensin, makan nasi pecel, atau soto si Emak, dsb, ternyata masih ada sisa Rp. 300 ribu. Demikianlah laporan Manajer Meita menjelang tahun ajaran 2001/2002 berakhir. Wow!! Jumlah segitu tuh banyak banget bagi kita.
Setelah berunding dengan khidmat, kita semua (cowok-cowok bola) sepakat bahwa duitnya disumbangin aja buat dana awal Acara Perpisahan Akhir Tahun. Ternyata anak-anak cewek banyak yang nggak setuju, “Iiiiih, itu kan duit haram!”, kata Chunda dalam rapat dengar pendapat tidak resmi -saat Tuhan menganugerahkan kami jam kosong-. Ribut!! Keputusan pun diambil, itu duit nggak akan dimasukkin ke pos pemasukan Acara Perpisahan. Uang Rp. 300.000 itu bakal dipake buat membiayai survei tempat di Telaga Sarangan Caruban minggu berikutnya, dan harus HABIS!!
Akhirnya enam orang, -Gw, Meita, Andhes, Ismanu, Lia, dan Narulita-, berangkat ke Telaga Sarangan dengan membawa misi penting itu. Untungnya kami semua berhasil kembali dengan selamat setelah misi kami selesai. “Hhhuuufph, whatta day!”. Oiya, 300 ribu itu pun habis juga buat bayar sewa mobil, honor supir, beli bensin, makan sate kelinci, ngasih uang muka villa, dan pesta kelapa muda di Hutan Saradan.
Oooooh, kalau ingat masa-masa itu, rasanya waktu telah berputar sedemikian cepatnya hingga hari ini!
Miss u all guys, hope 4WI guide you all d way….
Hey, d u know that my tears fallin when I finish typing this???!?! hehe



