In four months, five times as many people died in Indonesia as in Vietnam in twelve years. (Bertrand Russel, 1966)

13261031_1


Puluhan tahun sebelum konflik Poso, Sampit dan Maluku, tak banyak orang Indonesia yang tahu bahwa negeri ini pernah bersimbah darah. Tahun 1965-1966, pasca peristiwa Gerakan 30 September Partai Komunis Indonesia (G 30-S/PKI), di sejumlah daerah di Indonesia terjadi pembantaian jutaan orang yang ditengarai memiliki hubungan dengan PKI. Entah simpatisan atau bukan asal dicap ‘PKI’ hampir pasti dikejar-kejar. Tak urung, keluarga, teman, bahkan orang-orang yang pernah berhubungan dengan si simpatisan, turut pula masuk dalam target pembantaian.


Peristiwa ini direkam oleh Iwan Gardono Sudjatmiko dalam disertasinya di Universitas Harvard (1992) yang berjudul The Destruction of the Indonesian Communist Party (a comparative analysis of East Java and Bali ). Sejarawan Hermawan Sulistyo turut pula memaparkan peristiwa pembantaian massal tersebut dalam disertasinya di Arizona State University (1997), The Forgotten Years: The Indonesian Missing History of Mass Slaughter (Jombang-Kediri, 1965-1966).


Minimnya pemberitaan pada masa pasca G-30-S PKI ini turut mengaburkan jumlah pasti korban pada peristiwa tersebut. Dari 39 artikel yang disarikannya, Robert Cribb memperkirakan jumlah korban sebanyak 78.000 sampai 2 juta orang Dari situ ia kemudian mendapatkan angka rata-rata 432.590 orang.


Sedangkan Hermawan Sulistyo menyebutkan bahwa sebanyak 40.000 – 100.000 orang dibantai di Bali . Harian New York Time, pada 13 Januari 1966, melansir data bahwa korban jiwa dari bulan Oktober 1965 - Januari 1966 telah mencapai 150.000 orang. Data tersebut mengantarkan suatu petunjuk bahwa reaksi masyarakat pasca gerakan G-30-S PKI sangat dahsyat dan masif. Terbukti, dalam tempo kurang dari satu tahun, jumlah korban membengkak dalam tragedi pembantaian itu.


Menurut Robert Cribb, ada empat faktor yang menyulut pembantaian masal itu. Pertama, budaya amuk massa , sebagai unsur penopang kekerasan. Kedua, konflik antara golongan komunis dengan para pemuka agama islam yang sudah berlangsung sejak 1960-an. Ketiga, peran serta militer yang diduga turut berperan menggerakkan massa . Keempat, provokasi media yang menciptakan sosok PKI sebagai ‘musuh bersama’.


Dalam waktu beberapa dekade terakhir, terbit penelitian dan karya-karya soal runtutan peristiwa G-30-S PKI: siapa dalangnya?; bagaimana konspirasinya?; kejanggalan-kejanggalan apa di belakangnya?; siapa pihak yang diuntungkan?; dan semacamnya. Sejumlah sejarawan yang menaruh minat dalam hal ini diantaranya adalah Hermawan Sulistyo, C.A Dake, Robert Cribb, Peter Dale Scott dan Asvi Warman Adam.

Ketika mantan Presiden Soeharto meninggal beberapa waktu lalu, maka sekeping besar potongan sejarah juga ikut terkubur. Belum ada jawaban pasti tentang siapakah dalang sebenarnya peristiwa 30 September dan rentetan pembantaian selanjutnya. Mungkin perlu waktu untuk membiarkannya terurai kembali dan menemukan asal usulnya.


Bersamaan dengan itu saya berharap semua pihak yang merasa dirugikan dapat memaafkan ‘luka’ sejarah ini. Pun pihak yang antipati bisa menjadikannya sebuah pelajaran berharga.

Bagi saya sejarah dipelajari bukan untuk diulang, tapi entah mengapa banyak hal terulang seperti layaknya sejarah.