Keluarga Bahagia ala Pak Anam
Uncategorized June 29th, 2008“Apa sebenarnya kunci dari sebuah pernikahan yang langgeng dan bahagia?”
Saya menemukan jawaban dari pertanyaan tersebut di sebuah kesempatan yang tak terduga, dalam perjalanan dari Stasiun Gambir ke Margonda, saat petang memerangkap kami di tengah kemacetan tol dalam
kota , dari seorang bapak supir taksi yang tidak akan pernah saya lupakan namanya. Pada diri saya sendiri saya berjanji, bahwa suatu saat akan saya tuliskan kisah ini.
***
Namanya Choirul Anam, tertera di kartu identitasnya di dashboard mobil. Lahir di Pacitan, Jawa Timur, 50-an tahun yang lalu. Petang itu, ia mengenakan kemeja biru dengan bordir logo perusahaannya di dada kiri. Suaranya tenang, dan pembawaannya kalem. Kumis tipisnya naik turun waktu bercerita panjang soal perjalanan hidupnya. Sesekali ia melontar senyum sambil melirik ke arah saya yang duduk di sebelahnya. Dua orang sahabat saya yang duduk di belakang, tak jadi tidur mendengar ceritanya. Bertukar pandang lewat cermin rear-view, dua-duanya jadi bangun dan menyimak penuh semangat.
Oiya, hampir lupa, waktu itu saya baru saja mengantar Ibu pulang ke Mojokerto dari Stasiun Gambir. Kereta Bima datang pukul 17.05 dan kami pergi segera setelahnya. Seperti biasa, macet
Jakarta tak bakal memberi ampun di jam-jam begini. Ketimbang berdesak-desakan di bus atau kereta, akhirnya saya berhasil meyakinkan dua orang sahabat saya –yang ikut menemani mengantar Ibu- buat naik taksi.
“Yang penting nyah-nyah dulu deh: ‘nyahman’ dan ‘nyahmpe’. Nah nanti bayarnya dibagi belakangan.” Bujuk saya. Huehehe.
Percakapan dengan Pak Anam dimulai ketika kami sudah kehabisan bahan bercanda. Kalau tidak salah saat itu kami sedang mengantri di pintu masuk tol. Dua orang yang duduk di belakang sudah lunglai menghempas badannya ke sandaran kursi yang empuk ketika saya mulai bertanya, “Bapak, putranya berapa, Pak?”
Pak Anam kelihatan sedikit kaget, mungkin tidak menyangka saya bertanya aneh-aneh soal keluarganya.
“Anak saya sih sebenernya satu, Mas.” Jawabnya pelan.
Saya mendengarkan saja. Bertanya-tanya sendiri soal makna kata ‘sebenernya’. Hmm, mungkin dia cerai dan nikah dengan janda, atau anaknya ada meninggal atau bagaimana, pikir saya. Belum tuntas saya berkesimpulan, si Bapak menyahut lagi.
“Iya, anak saya sebenernya satu. Tapi adeknya yang banyak: TUJUH!”, katanya dengan ekspresi yang lugu.
Sumpah. Saya tak kuasa menahan tawa. Teman-teman saya di belakang rupanya juga mendengar jawaban Pak Anam yang jenaka itu. Jadilah tawa kami berderai di dalam taksi.
“Wah, Bapak ini bisa-bisa aja. Tapi istrinya satu
kan Pak?”, tanya sahabat saya di belakang. Bagi kami pertanyaan ini bisa berarti dua: bercanda atau menyelidik. Bercanda, karena nyambung dengan guyonan sebelumnya. Menyelidik, karena sahabat saya cukup punya reputasi sebagai ‘tokoh’ anti-poligami.
“Waduh, saya mah setia Mbak. Saya aja menikah dari dulu cuma satu itu. Itu pun gak habis”, jawab Pak Anam.
“Emang nikahnya dulu umur berapa, Pak?”.
“Waktu itu sih saya masih umur 18-an, istri saya malah baru 14 tahun. Maklum lah Mbak, wong gak ada kegiatan. Sekolah juga gak mampu. Kerja sendirian, capek. Ya udah, nikah aja!”
“Oooo”. Kami melongo.
“Waah, berarti sudah puluhan tahun dong Pak?”
“Walah, ya iya dek, sudah 30 tahun lebih. Anak aja udah banyak, tapi nasib ya kayak-kayak begini juga”. Pak Anam pun bercerita soal nasibnya sebagai rakyat kecil. Betapa sebenarnya dia lebih suka hidup di jaman Presiden Soeharto dimana harga-harga kebutuhan pokok terjangkau, sekolah relatif gampang dan minim masalah-masalah sosial. Ketika tahu kami adalah mahasisiwa UI, ia minta maaf sebelum mengemukakan pendapatnya, bahwa sebenarnya ia menyayangkan aksi-aksi mahasiswa yang cenderung lebih banyak anarkisme daripada kebermanfaatannya. Dari mulut beliau juga kami mendengar bahwa sebenarnya ia rindu sosok seperti Soeharto. “Walaupun korupsi-korupsi di atas, asal harga-harga gak naik mah, gak papalah Mas”, katanya.
Tiba-tiba ia melanjutkan, “Tapi saya sungguh benar-benar bahagia lho Mas”.
“Kenapa, Pak?”
“Meskipun hidup begini, saya hampir gak pernah bertengkar dengan istri”.
“Wow”, dua orang perempuan dibalik punggung kami berseru spontan. “Padahal sudah puluhan tahun ya, Pak?”, sahabat saya yang dari tadi lebih banyak mendengarkan kini ikut bertanya.
“Iya, Mbak. Alhamdulillah”
Hari sudah berganti gelap. Tersadar bahwa kami belum mungkin menunaikan Sholat Maghrib, kami pun meniatkan diri untuk menjamaknya.
Mobil masih merayap pelan di tol Pancoran. Pak Anam melanjutkan ceritanya. “Tapi sungguh lho Mas, sampai dengan hari ini saya tuh masih merasa sayang sekali dengan ibunya anak-anak”.
Ada nada bangga dalam suaranya.
“Yang penting sih, memang kudu sabar dan nrimo. Menikah itu
kan mendapatkan sesuatu dalam satu paket. Istri kita mungkin ada kelebihannya, tapi pasti juga punya kekurangan.
Ada waktu-waktu kita harus bersyukur dan ada waktu lain dimana kita kudu bersabar”. Jelasnya, kali ini sambil tersenyum simpul.
Tiba-tiba saja, ada semacam perasaan iri merayap di tubuh saya. Duh, apa bisa saya merasakan hal yang sama ya nanti, saya menerawang sambil berharap-harap cemas. Makin penasaran, saya memberanikan diri bertanya, “Kalau begitu, pasti ada kiat-kiatnya dong Pak?”.
“Iya iya Pak, mau dong dibagi-bagi ilmunya”. Suara dari belakang tiba-tiba-tiba menyeruak antusias.
Spontan saya menyergah, “Hei hei, Ini
kan ilmu laki-laki buat laki-laki”. Aaaaaaaargh, kenapa mereka gak dengerin aja sih. Kesal saya dibuatnya.
“Heh, Syim. Emang lu aja yang mau nikah?”, maki sahabat saya si anti-poligami. Saya lupa kalau dia udah galak sedari lahir. Fatal! Tak berkutiklah saya dipelototinya.
“Hmm, sebenarnya sih kuncinya satu Mas. Pokoknya jangan sampeee deh suami-istri itu kelihatan bertengkar di depan umum”
Kami mendengarkan, manggut-manggut.
“Maksud saya, kalau sedang menghadapi masalah rumah tangga sebaiknya diselesaikan di ruang pribadi saja. Pokoknya jangan sampai ketahuan orang lain, sekalipun itu anak.” Kata Pak Anam, serius.
“Nah, punya waktu berbicara empat mata itu penting. Menurut saya waktu sebelum tidur itu waktu yang tepat. Saat berdua itu, kita bisa ngajak tukar pikiran dengan kepala dingin, misalnya bertanya, ‘ada masalah apa sih?’, atau ‘bagaimana sebaiknya, ya?’. Yang penting apa yang kita bicarakan jauh-jauh dari emosi dan rasa tidak sabar.”
Kami masih terdiam, seakan tersihir dengan penjelasan Pak Anam yang dalam itu. Mengerti bahwa kami menunggu-nunggu kalimat selanjutnya, Pak Anam meneruskan ceritanya.
“Masalah rumah tangga itu banyak, Mas. Tapi yang paling sensitif biasanya masalah ekonomi. Makanya, kalau gak bener-bener kuat dan sabar, yang namanya cekcok bisa muncul kapan saja. Malah gak jarang
kan Mas liat ada suami istri yang berantem, teriak-teriak di depan tetangga?”.
“Mungkin karena itu Bapak gak pernah berantem sama Ibu ya?”, tanya saya.
“Berantem sih pernah, wong ya namanya berumah tangga. Tapi dari dulu itu saya selalu mengingatkan supaya jangan bertengkar di depan anak-anak, apalagi di depan tetangga atau orang lain. Lebih baik diomongin baik-baik berdua dan dicari jalan keluarnya. Terbiasa begitu, sepertinya pikiran bisa tenaaaang gitu lho Mas”. Wajah Pak Anam semakin berseri-seri.
Subhanallah. Saya jadi terpekur. Saya jadi bertanya-tanya tentang rahasia Tuhan kepada hamba-Nya. Pak Anam yang hidupnya pas-pasan begini ternyata mampu mengelola sejumput nikmat itu bersama pasangan hidupnya. Mungkin karena itu Allah tak segan menganugerahkan ketenangan bagi keluarga beliau.
Hmmm, tak terasa kami sudah sampai. Jalan Margonda sedang ramai-ramainya sehingga kami memilih diantar ke dalam kampus saja. Setelah membayar saya tidak mau menerima kembaliannya. Saya hanya minta didoakan supaya saya bisa merasakan kebahagian yang sama dengan beliau.
Dan kata ‘amin’ mengakhiri perjumpaan singkat kami petang itu.


