Sejenak Melupakan……

Suara Hati No Comments »

Oleh : Hasyim Widhiarto

Selama empat setengah tahun kuliah di Depok (tahun 2003 - 2007), gw udah kehilangan handphone tiga kali. Pertama, terjadi waktu handphone gw dicolong di rumah kontrakan di Depok. Si Maling menjulurkan tangannya lewat teralis besi di kamar gw sekitar jam 3 – 4 dinihari. Yang gw inget terakhir cuma dering alarm yang semestinya membangunkan gw untuk mengetik transkrip wawancara buat kuliah Riset Komas. Dasar bengal, tuh handphone gw pijet-pijet  gak jelas sampe diem. Waktu bangun dan mendapati dia lenyap, hmm, gw rasa ini kutukan Tuhan.

Nokia7650img3_1

Kerugian : Nokia 7650, foto-foto penting, sms-sms ‘mahal’



Kedua, handphone (HP) gue ilang saat dalam perjalanan dari Blok M ke Depok. Gw tidak pernah menyangka akan mendapat sial di Metromini 63 yang jarang-jarang gw naikin. Kali ini si pencopet berhasil mendapatkan HP gw setelah mepet-mepet minta jalan keluar. Riliiiii smoooth! Gw baru nyadar tuh HP udah gak ada di kantong jaket sekitar   

lima menit kemudian. Gw Cuma bisa diem. Gak berteriak, bahkan cuma bisa merekonstruksi kejadian itu dalam pikiran. Sesampai di Depok, baru gw panik!

Nokia8210 

Kerugian : Nokia 8210 (saja)

 

Terakhir, gw kecopetan lagi. Kali ini lebih parah dan heroik. ‘Parah’ karena yg gw ilangin adalah HP pinjeman dari teman gw, ‘heroik’ karena gw sempat berantem sama pencopetnya. Gw akhirnya turun, karena ternyata tuh pencopet bawa temennya. Gw jadi bingung en keder mau tetep ngotot apa turun. Orang-orang di bus juga malah bilang, “Udah turun kali Bang orangnya!”’ “Kejar aja Bang di belakang tuh”. Yaaa turun deh gw!. Hhhh…  Kali ini Tempat Kejadian Perkara (TKP) berada di Metromini 85 jurusan Lebak Bulus – Kalideres.

 

Motorolac550_1

Kerugian : Motorola C 550, gengsi, kepercayaan

Sejak itu, kemana-mana gw jadi paranoid. Di dalam tas ransel pun masih gw masukin tas pinggang kecil. Di situlah tempat gw menaruh handphone, dompet, dan barang berharga lainnya (kayak tanda tangan dan foto2 pribadi gw –Halah!-). Meskipun begitu, masih aja gw menjadi korban percobaan pencopetan. Terakhir misalnya, tas gw disilet bagian luarnya di Metromini 70 trayek Blok M - Joglo.

 

Tapi entah, sejak tinggal di Singapura, segalanya berubah. Kemana-mana pintu kamar asrama gak usah dikunci. Naik Bus dan MRT bisa sambil buka-buka laptop. Bahkan, pulang larut malam sekalipun, aman-aman saja meskipun harus jalan masuk kampus NTU yang senyap dalam keremangan.

 Singaw9jurongeast1

Entahlah, mungkin 4 bulan lagi saat gw kembali ke Indonesia, gw harus
belajar membangkitkan rasa was-was gw lagi terhadap keaadaan. Hmm, juga
harus kembali terbiasa dengan sikap waspada di KRL, metromini, atau
bahkan di
,  taksi sekalipun.

 

Maka memang tepat jika banyak orang kaya Indonesia
menyempatkan diri pergi ke Singapura beberapa kali dalam setahun.
Selain berlibur dan berbelanja, mereka perlu mengendurkan saraf
waspada, -yang penat bekerja sepanjang waktu di negeri asal-.
 

I 

 

Very Close To Be Deported FRom S****p**e

Uncategorized 1 Comment »

Masuk_tv_1

It’s been my 33rd day staying in S’pore. At first time I was thinking that it would be hard living overseas for first time in my life, -It was more than a month ago-. Whenever, as the time goes by, I started to realize that the sentence would be right….., truly!

Just few days ago I had trouble with the immigration system. The authority hasn’t approved my application yet. So, I am the only one who don’t have Student Pass among 60 students enrolling the same exchange programme. I’ve been waiting for the approval since I applied online in Indonesia. But, there’s still no further news about it after long time. I was panicked for being illegal, deported, or even terminated from the programme.

The International Student Centre - in my campus- asked me to extend my social visit pass. They asked me to extend it right in the morning of 30th day, that was also means the expiry date of my social pass. I rushed to Lavender to apply the extension manually. By the time I was there, "Oh my God!!". So many people Q-ing in a long line, endless in the corner, turn right 90 degrees and the last lady was standing right in front nursery room. One information left: they were all just Q-ing to get "NUMBER FROM Q-ING" to application counter.

Lines

The reason why I had to go to the office was also because I didn’t have any credit card needed to apply online. So sad!!!

Once I got my turn, the gate officer examined my documents carefully. Silent!. "We can not proceed your extension, you need this form applicatin chopped by your university, first". Whatttt!! How could I know that the procedure was like so. I even had just got the application form right before Q-ing!

I called the International office desperately. Silent! "I think you better go back to campus to apply online. Hmm, you can use my credit card then!".

It was 3.30 pm, and I had just realized something!!

Nasionalisme dalam Tragedi dan Lapangan Hijau

Uncategorized 1 Comment »

2005_earthquake_valdivia_3 Mei 1960, Chile luluh lantak. Negara dengan bentuk geografis pipih memanjang ini mengalami kehancuran yang parah setelah  disapu gempa berkekuatan 8,5 skala richter. Dua juta ruma h hancur dan sekitar 6 ribu nyawa melayang. Padahal, Chile tengah dalam persaingan menjadi tuan rumah Piala Dunia, event olahraga paling akbar di dunia.

Harusnya FIFA, Federasi Sepakbola Internasional, tidak perlu ambil risiko dengan tetap mengikutsertakan Chile dalam pencalonan. Namun, sejarah berkata lain. Adalah Carlos Dittborn yang akhirnya membuat FIFA menyetujui Chile menjadi tuan rumah Piala Dunia 1962. Dalam pidatonya yang mengharukan di depan Kongres FIFA, Ketua Federasi Sepakbola Chile itu berkata, "Kami telah kehilangan segalanya, dan inilah alasan paling tepat mengapa kami harus bisa bangkit dengan segala kemampuan kami".

Dittborn dan pemerintahnya benar-benar membuktikan itu. Dalam tempo dua tahun Chile berhasil memulihkan kembali ibukota Santiago sebagai kota metropolis. Stadion-stadion yang dibutuhkan berdiri tegak, bersama sarana dan infrastruktur yang lain. Negara-negara lain akhirnya juga tidak segan mengulurkan bantuan yang dibutuhkan. Chile pun siap menjadi tuan rumah Piala Dunia.

Chile_3
Seketika, aura Piala Dunia juga menjadi semangat tersendiri bagi rakyat Chile. Dengan penuh kecintaan mereka mendukung tim nasionalnya yang juga turut berlaga. Yang paling penting, kepedihan akibat bencana dua tahun sebelumnya seakan sirna. Semuanya bersukacita saat bola bergulir di lapangan hijau. Tidak ada lagi diri sendiri, yang ada adalah satu Chilean, bangsa Chile. Masyarakat yang sempat diramalkan akan terpuruk untuk beberapa dekade ternyata mengalami titik balik yang luar biasa karena Piala Dunia.

Kisah Chile adalah sebuah pelajaran berharga tentang bagaimana tragedi dan olahraga mampu mengingatkan orang akan tanah airnya. Gempa di Chile, tentunya menyayatkan luka di hati setiap rakyat Chile. Mereka menghadapi kenyataan bahwa negara mereka hampir ambruk dan ribuan saudara mereka tewas. Namun, kehancuran akibat tragedi ini ternyata tidak diratapi terus-terusan. Rakyat dan pemerintah Chile dihujani semangat baru untuk membangun kembali negaranya. Tidak bisa dipungkiri, kebanggaan sebagai tuan rumah Piala Dunia memberikan pengaruh sangat besar dalam hal ini.

Tanah air menawarkan tempat untuk ‘pulang’ buat mereka yang asanya terjerambab karena tragedi. Sedangkan olahraga menjadikan tanah air serasa ‘rumah’, ada mimpi dan harapan baru di sana. Saya pun jadi berpikir apakah Indonesia kini hanya bisa dipersatukan lewat jalan yang demikian.

Tsunamiaceh2_1Lihatlah betapa bersatunya negeri ini saat Aceh dihantam tsunami. Pertolongan datang dari seluruh penjuru negeri. Bantuan dihimpun sampai setiap sudut pemukiman. Sukarelawan tiba silih berganti. Lihatlah perhatian yang diberikan. Sungguh luar biasa, seakan-akan melupakan fakta bahwa ada bara separatisme yang tersimpan di sana. Yang jauh lebih penting, semuanya merasa harus menolong saudara sebangsa.


Dan jangan lupa, saksikan betapa heroiknya suasana laga tim sepakbola nasional kita di Piala Asia lalu. Puluhan ribu orang mengumandangkan ‘Indonesia Raya’ di tribun Gelora Bung Karno tanpa ada yang mengomando. Puluhan ribu lainnya tertahan di gerbang dan sempat kecewa karena tidak berkesempatan memberi dukungan. Sementara itu, jutaan pasang mata menonton televisi sambil berdoa sungguh-sungguh dan setulus-tulusnya untuk kejayaan Indonesia. Segenap pemain timnas juga terus berjuang seakan paham mereka didukung oleh seluruh negeri.

Bambangjewelsamadisi
Aceh memang belum penuh sepenuhnya pulih dan PSSI harus kecewa karena timnas gagal menembus babak berikutnya. Namun dua peristiwa tersebut membuktikan bahwa rakyat Indonesia ternyata masih mencintai negaranya dengan sungguh-sungguh.

Tapi sayangnya, daftar alasan untuk me’nina-bobo’kan rasa nasionalisme ternyata lebih panjang. Segera setelah gaung Piala Asia berakhir, bendera perseteruan antar suporter klub-klub lokal dikibarkan kembali. Pertandingan sepakbola kerap berujung rusuh dan perkelahian. Nasionalisme yang sempat berkobar luruh kembali menjadi fanatisme promordial.

Demikian pula ketika simpati pada Aceh mulai mendekati masygul, masyarakat harus berkutat lagi dengan permasalahan sehari-hari. Minyak goreng langka dan mahal, minyak tanah hilang dari pasaran. Biaya sekolah menjerat leher, sementara pendapatan makin tak sebanding dengan harga kebutuhan dasar yang perlu dicukupi. Akhirnya, kebutuhan mengisi perut mengalahkan rasa hormat terhadap pemerintah.

Itu baru masalah ekonomi. Dalam bidang politik, para elite tak kunjung menjadi suri tauladan buat masyarakatnya. Partai-partai politik berubah menjadi sarana penyaluran hasrat berkuasa. Tengoklah, miliaran rupiah dihamburkan untuk memenangi pemilu dan pilkada. Visi dan ideologi partai pun akhirnya berubah laiknya barang dagangan saja. Keduanya dikemas dan dipromosikan semenarik mungkin, tapi bahan-bahan (substansi) dan efek sampingnya (konsekuensi) dikaburkan. Ada yang yang mengaku nasionalis tapi malah melakukan privatisasi. Ada yang mengaku mendukung persatuan dan kesatuan bangsa, tapi rivalitas internalnya tak kunjung berakhir. Lebih parah lagi, ada yang mengaku mendukung pemerintah, tapi juga terang-terangan bermesraan dengan oposisi.

Daftar tersebut masih bertambah panjang kalau mau menambahkan soal korupsi, kemiskinan, kriminalitas, tayangan televisi, dan seterusnya. Ah, sudahlah, gara-gara ini saya pun kadang mempertanyakan apakah saya bangga punya KTP Indonesia.

Lantas, kemana jutaan orang yang sempat sama-sama bersimpati untuk Aceh? Dimana kini jutaan orang yang dadanya bergemuruh saat Bambang Pamungkas menceploskan gol ke gawang Bahrain? Lenyapkah mereka?

Tidak! Saya yakin mereka masih ada.

Lihatlah cermin dan anda akan melihat salah satu dari mereka. Tengoklah siapapun di sebelah anda, itulah mereka. Cermatilah orang-orang yang berlalu lalang di hadapan anda, itulah mereka. Orang-orang itu akan selalu ada, namun dengan nasionalisme yang tertidur. Menunggu untuk dibangunkan.


Nasioanlisme_1 Tapi tentu tak ada yang mau mengharap datangnya bencana hanya untuk membangunkan nasionalisme. Persis, sebagaimana kita tidak bisa terus berharap masyarakat terus bangga pada prestasi olahraga kita yang semenjana. Masing-masing kita harus menemukan alasannya sendiri untuk mencintai Indonesia. 

Carlos Dittborn berhasil meyakinkan dunia bahwa Chile mampu. Namun, ia tak sempat menyaksikan Chile meraih tempat ketiga setelah mengalahkan raksasa sepakbola Italia dan Uni Soviet. Dittborn meninggal hanya beberapa hari menjelang pembukaan Piala Dunia. Tak ada seorang pun yang pernah melupakannya. Karena dialah rakyat Chile menemukan kembali alasan untuk mencintai negerinya.

The Art of Tutoring

Uncategorized 1 Comment »

Dulu, waktu gw masih SMU, gw membayangkan akan kuliah sambil kerja part-time di McD atau KFC a.k.a bersih-bersih jadi cleaning service gitu. Setahu gw, di film bule dan di sinetron Indonesia banyak mahasiswa yang begitu bukan? Hehe. Tapi yang jelas, prinsip gw adalah gw harus sudah punya pendapatan ketika kuliah.


Tiga bulan pertama masuk UI, kerjaan gw cuma ngabisin duit doang. Jatah survival money gw emang dikasih buat tiga bulan pertama sekaligus. Walhasil, abis jualah lembaran uang itu dalam waktu yang direncanakan. Pertanyaan selanjutnya, nyari duit tambahan dengan cara yang bagaimanakah gw selanjutnya?


Singkatnya, Oktober 2003, gw diterima ngajar di sebuah tutor-agency. Perusahaan ini menyuplai guru privat untuk anak-anak yang belajar di sekolah internasional. Sumpah, gw kaget, cemas campur girang setengah mati. Kaget karena gw sama sekali nggak tahu itu agensi ngurusin orang asing (karena flyer­-nya nggak nyebutin itu). Cemas karena tahu english-conversation gw sebenarnya masih belepotan. Girang karena tahu gw bakal dapet duit yang sangat lumayan dari kerjaan ini.


Ummm, well. Tapi ternyata tidak semudah itu. Karena apa? Murid pertama gw adalah orang Skotlandia-Australia. As you know, they have such a strange accent. Jadilah selama 1.5 jam belajar itu waktu menjadi terasa sangaaaaaat lama. Gw sampe berdoa dalam hati berharap niy anak-anak (gw ngajar dua anak sekaligus, 2-2 nya kelas 5) bisa ngulang kata-kata yang gw gak jelas, yang kebetulan lumayan bayak banget.


Dua minggu berikutnya, gw dikasih murid baru, orang Indonesia. Gw bersyukur karena niy anak dan orangtuanya ternyata pake bilingual di rumah. Jadi kita belajar pake Bhs. Inggris dan ngobrol santai pake Bhs. Indonesia. Jadi hari-hari pertama gw ngajar itu ibarat menanti hari keberuntungan dan hari sial. Senin, ketemu dua anak Scottish itu. Selasa-Rabu ketemu Alex, murid gw satu lagi.



Selama empat tahun ngajar ini, gw udah pegang banyak murid dengan berbagai kenegaraan. Moga-moga yang gw tulis ini udah semuanya: UK (5 orang), US (1), Australia (4), Skotlandia (1), Kolombia (1), Indonesia ( 9), India (3). Oiya, hampir lupa, spesialisasi gw adalah Matematika, Bahasa Inggris, Bahasa Indonesia dan Sains. Semuanya gw batesin sampe kelas 10. Jadi rata-rata murid-murid gw rentang usianya 8-15 tahun. Tapi kalo sekarang, ditambah sama murid-murid rekomendasi orang, ada murid gw yang umurnya 24 tahun lho.


Umm, yg mau gw bilang siy, gw udah gak nervous lagi siapapun muridnya. Senakal apapun dia. Segeblek apapun kelakuannya. Semales apapun belajarnya. Gw marah pada saat harus marah, tegas pada saat yang dibutuhkan, dan mencoba untuk sama disiplinnya dengan mereka. Karena gw pikir, orang Indonesia ternyata punya kesempatan lho buat ngatur-ngatur orang bule. Kita tidak lebih bodoh dari mereka kok. Dan disitulah gw mendapatkan respek dan kepuasan sebagai pengajar.


Balik ke motivasi nyari duit yang dulu. Gw rasa itu masih ada, tapi bukan nomor satu lagi. Banyak hal positif yang gw dapet dari nge-les-in anak-anak bule. Misalnya, account-balance gw selalu positif, Halah. Gw jadi bisa menghargai waktu, mengatur jadwal dengan tepat dan efisien, matang berdiplomasi, jadi lebih dewasa, belajar menentukan prioritas, juga belajar memimpin. Banyak deh. Yah, kalaupun ntar gw punya anak, gw tinggal inget-inget, anak gw ini mirip kayak murid gw yang mana. Jadi treatment-nya bisa gw bayangin harus bagaimana.               

Cagub Selular

Uncategorized No Comments »

Bagi saya, perang kampanye Calon Gubernur (Cagub) DKI Jakarta tak ubahnya seperti tren pertarungan iklan operator seluler. Bedanya, Cagub DKI cuma dua pasang dan operator seluler banyak. Ciri-ciri yang lainnya tak jauh beda: menjual ‘benefit’, massif, multiagent (below the line dan above the line), dan ini yang paling penting, ‘saling sikut’.

Kontinum ‘saling sikut’ ini pun beragam, dari mulai materi kampanye yang bermuatan sindiran halus sampai simbolisasi yang cenderung menjatuhkan (jika tidak ingin dibilang ‘kasar’ atau ‘menghina’). Yang jelas,  tidak ada yang tahu siapa yang mulai duluan. Satu menyindir, yang lain membalas. Satu iklan berusaha menunjukkan benefit dari sebuah produk, iklan yang lain menggembosinya.

Jika iklan Esia (versi Ringgo) memblejeti semua ‘manipulasi’ tarif operator, maka Flexi merilis kampanye  tentang betapa bodoh dan tidak bergunanya menghabiskan waktu berjam-jam di telepon. Operator 3 bahkan lebih hebat lagi dengan me-nol-kan tarifnya. Untungnya kampanye ini segera ditindak karena dianggap membahayakan persaingan bisnis. Saya bisa pastikan anda pun sudah punya contoh anda sendiri yang menggambarkan betapa serunya pertarungan bisnis seluler ini. Tentu dengan catatan: anda membaca koran, punya televisi, atau sering bepergian.

Nah kembali ke seteru Adang – Fauzi. Muatan kampanye kedua kandidat ini rasanya mulai menuju ke arah yang tidak sehat. Di sudut-sudut Jakarta, spanduk dan atribut kampanye keduanya berhamparan dengan kalimat-kalimat berkonotasi menyindir. Terakhir saya melihat di pintu tol Simatupang terbentang spanduk kampanye calon no.1 yang berbunyi, “Juragan Onta, Pasti Tajir. Ngurus Jakarta, Kok Banjir”. Kalimat sindiran untuk calon no.2 ini (Yah untuk siapa lagi maksudnya) ternyata juga berbalas kalimat di spanduk di sebelahnya, “Serahkan Jakarta pada Ahlinya”.

Keluar pintu tol di Fatmawati saya juga sempat melihat spanduk-spanduk lain, serentengan, dengan ‘keragaman’ sebagai kata saktinya. Ada yang bertuliskan “Berkarya dalam Keragaman”, “Kasih dalam Keragaman”, atau “Keragaman adalah Amanat”. Semua tergantung ada logo partai apa di sebelahnya.  Muatannya jelas, menyindir calon lain yang dianggap hanya mewakili ‘satu golongan’.

Iklan komersial di TV bahkan jauh lebih berani. Tagline Fauzi Bowo adalah sebait ucapan dengan gaya nakal dia akhir iklan ‘cuma dia yang tahu Betawi, yang laen mah kagak’. Nyata merendahkan pengalaman calon lain, yang memang bukan dari kalangan birokrasi.  Sedangkan materi iklan Adang sebenarnya berusaha menyentuh nilai humanis, namun mau tidak tergoda juga untuk urun ‘pukulan’. Misalnya testimoni seorang tokoh betawi yang bilang, “Jawara sejati mah gak pernah maen keroyokan”. Simbolisasi ini terang-terang dialamatkan kepada calon yang (kebetulan) didukung oleh belasan parpol. Bisa jadi ini ini sindiran, bisa jadi ini adalah cara halus untuk meraih simpati. Wallahualam.


Namun, di atas itu semua, ada hal yang patut dikhawatirkan. Lihatlah bagaimana bentuk kampanye ini berlanjut. ‘Campaign Roadshow’ memang terus berjalan, tapi orang juga akan ingat ‘perang kata-kata’ dan ‘adu mulut’ kedua calon yang mereka tangkap dari TV, radio, brosur, spanduk, atau selebaran. Nah, dengan kecenderungan muatan semacam itu, maka dapat saya simpulkan bahwa calon A berharap dirinya dipilih karena masyarakat melihat keburukan pada calon B, demikian pula sebaliknya. Artinya, tidak ada satupun dari kedua calon yang benar-benar jualan ‘program’. Pengharapan terbesar mereka ialah menyaksikan pemilih menilai bahwa calon lain penuh dengan kekurangan. Inilah masalah yang layak untuk dicermati.


Maka saya pun tidak bakal kaget jika nanti ada kisruh, siapapun pemenangnya. Yah, cuma gara-gara menghindari sanksi kampanye saja mereka tidak boleh berkonfrontasi langsung pada saat ini. Tapi saya sih yakin kalau pendukung kedua calon akan sudah sama-sama merah kupingnya, pedes matanya, sampai saat pencoblosan berlangsung. Tinggal tunggu meledak, saat pengumuman siapa pemenangnya.

 

Judging Audiovisual Censorship in Indonesia

Uncategorized No Comments »

Between Need and Dislike:

Judging Audiovisual Censorship in Indonesia

(Hasyim Widhiarto)[1]

For more than a decade, Indonesian government had established a censorship board (Lembaga Sensor Film/LSF) to watch and control the content of audiovisual product distributed for public. According to 1992 Film Act, this censorship was tending to protect citizens from ‘disturbing material’, to maintain national building and to guarantee a decent moral input to society.

Nowadays, after rapid political changes from Soeharto regime, Indonesia is on their way overcoming problems towards democratization and globalization waves. One issue arises is about deregulating censorship for any audiovisual product. In this early year, the largest social movement against censorship, Indonesian Movie Society (Masyarakat Film Indonesia/MFI), officially released their petition to dismiss LSF. They considered LSF as a barrier to national development. The idea of censorship is barely against the spirit of democracy. So, one’s idea and creativity should not be banned by any force. The only thing government can do is classifying the audiovisual products (movies, electronic cinema, ads, video clips, etc) into some categories. Then, let people decide what is good for them.

I have been being concern with this controversy since it was very close to my major field. As a mass communication scholar, I put this debate as a significant matter considering the impact of audiovisual mass media (television, movies, VCD, DVD, etc) on society. In my country, hundred millions of people are watching television everyday: forty millions are poor people and 90 millions are children and teens. Assuming that these kinds of people (poor, children, teens) are not media-literate[2], the audiovisual content they watched would easily shape their mind and understanding about the world. This reason perhaps explains why people are being more consumptive (they watched too many commercials), or more permissive (they watched much biased western cultures from movies). Especially for children, they will learn and imitate a lot of new things from what they watched. It also explains why today’s kids are easy to deliver violence act, indecent words, juvenile delinquencies, aggressive attitude and even more, sexual harassment. So, the next government’s choice, censorship or classification principle, must consider the impact of audiovisual content to these susceptible part of society.

The condition in Indonesian society is different from which in developed countries. That’s why an established treatment held in developed countries isn’t always fit in Indonesia. Classification system itself is something common in many developed countries: United States has MPAA (Motion Picture Association of America), Australia has OFLC (Office of Film and Literature Classification), Netherland has Kijkwijzer, and Japan has Eirin (Eiga Rinri Kanri Iinkai). But, those countries already had an established social system to faint negative excess of classification system.

For example, there will be X-rated movies circulated in theatre or VCD/DVD market. Consequently, no children under 18 years-old allowed watching or buying such movies. In developed countries, this rule is conducted strictly by the government and the citizen himself. Compared to Indonesia, it is impossible to bound audience access over pornography. Children and teens under-18 easily no need to show their ID card for getting the material easily. In the other hand, parent’s control towards their children activities is somewhat questionable. Moreover, internet access and video piracy make it more difficult to manage.

In this essay, I don’t say that censorship is the only way to create decent society. However, it is true that every country has to be ready facing the globalization in various fields, including information and mass media. But, every country has its unique problems to be solved first. In this case, I have to admit honestly that Indonesian moral, law, and social infrastructure are still not ready to accept ‘wide range’ content of audiovisual product. That’s why; I think the idea to dismiss LSF is not the best solution for us, at least for right now.

In my opinion, establishing and conducting firm regulations is still needed to carry out this matter. But, the most important thing is the government should implant media literacy subject in our education system. I think an idea to enrich the children with this ability will be affecting many things in the future. If we can use mass media, especially audiovisual mass media, effectively and right to the aim we can strengthen this country’s power. We know that sometimes geographical landscape of Indonesia become obstacles to the unity.

I am sure that the debate between censorship and classification system will not meet conclusion as long as there is no society empowerment. When people already know what is good for them, the self censorship will be conducted easily. The most significant thing is we all know what is best for this country, not only for now, but also for shaping decent moral quality for future generation.     



[1] Student of Department of Communication Studies, Faculty of Political and Social Sciences, University of Indonesia.

[2] Media literacy is a communication concept refers to audience’s skill to interpret both distinct and hidden meaning of messages distributed by mass media.

Masih Mau Nongol di TV?

Uncategorized 6 Comments »

Ternyata ‘dapur’ televisi memang sebusuk tayangannya. Memang benar jika tak ada yang benar-benar objektif dari tontonan kita sehari-hari. Reality show pun tak sepenuhnya realitas. Campur tangan sutradara dan produser tak dapat dihindari. Maka jadilah tayangan yang kita tonton sebenarnya adalah hasil dari buah pikiran para ‘penjual’ yang ingin modalnya kembali dengan untung besar.

Gw barusan nonton sebuah acara berinisial SJ. Dibayar sih, tapi ternyata berapapun kita dibayar gak akan impas membayar kerja yang kami lakukan. Kenapa?

Untuk 1.5 jam syuting, dan dapet 20 rb per orang, ini yang harus lo lakukan:

-        seminggu sebelumya mengosongkan jadual untuk ikut acara ini. Membatalkan acara-acara lain dengan harapan loe bisa nampang, masuk tivi

-        loe harus bereskan semua urusan sebelum loe berangkat menuju studio, karena ketika berangkat, loe gak bisa balik lagi buat nyelesein apa yang loe lupa. Loe bakal digebukin orang-orang sebus plus rombongan lainnya.

-        1-2 jam waktu loe habis di perjalanan

-        Minimal satu jam, waktu loe bakal habis buat briefing. Floor director ngatur-ngatur loe buat ikutan yel-yel, menjawab sapaan MC dan latihan tepuk tangan dan senyum. Seolah-olah kita gak pernah bisa senyum dan tepuk tangan dengan ikhlas.

-        Sepanjang syuting acara, loe bakal jadi orang lain. Bener-bener orang lain. OK loe jadi gila atau jejingkrakan. Tapi nyadar gak sih kalo itu cuman karena sugesti loe bakalan diliat orang masuk tivi. Selain itu, karena keseringan liat tivi, loe berfikir untuk berperilaku seperti mereka itu. Huh. Padahal kalau semua penonton sepakat ngambek, pasti kita bisa ngasih pelajaran tuh buat si TV, apalagi kalau acara Live.

-        Loe akan berhadapan dengan resiko tidak terduga: kecopetan, barang ilang, temen loe sakit, mobil mogok, dimarahin orang tua, kosan dikunci dan harus nyari tempat nginep segera.

-        Nah, ada tambahan niy. Kalau misalnya loe dateng telat, loe bakal diomelin temen-temen loe yang jadi koordinator penonton. Secara mereka juga dimarah-marahin sama produsernya. Dan loe bakal dibikin merasa super duper gak enak sama dia. Tambah lagi deh rasa bersalah loe, di samping karena pulang kemaleman.

Jadi intinya, 20rb perak per kepala siy bener2 kecil untuk pengorbanan di atas. Tapi sayang, mental mahasiswa kok kayaknya masih suka sama yang instan2 yah?? Sampai kapan bakal nyari duit dengan cara beginian…

Menemukan Jatidiri Dalam Film Bollywood

Uncategorized 5 Comments »

"tulisan gw kali ini agak-agak ilmiah. Moga-moga mencerahkan dan gak bikin kening loe berkerut-kerut"

Pendahuluan: “ Film India Pasti Jelek Karena …”

Ricky Kapoyos,
20 tahun, berpikir sejenak saat saya menanyakan apakah dia pernah menonton film
India. “Tidak pernah”, katanya. Ketika ditanya alasannya ia pun menjawab “norak
aja, kebanyakan nyanyi dan
menari-nari gak jelas”.

Pertanyaan ini
saya ajukan setahun yang lalu kala mengerjakan riset kecil-kecilan di kelas
Media dan Masalah Antar Budaya. Untuk menyusun tugas akhir mata kuliah itu saya
menanyakan tanggapan sejumlah orang tentang film Bollywood. Ada beberapa kolega
mahasiswa, akademisi, anggota Komisi Penyiaran Indonesia, pengamat film dan
masyarakat awam yang saya wawancarai. Semuanya mewakili perspektif orang
Indonesia kebanyakan. Saya pun sempat menanyai Neevya Srivastava, seorang guru
tari di Jawaharlal Nehru Indian Cultural
Center
, satu-satunya orang India yang menjadi narasumber dalam proyek
tersebut. Selang dua minggu, penelitian itu pun berakhir dengan kesimpulan:
bagi sebagian besar orang Indonesia, interpretasi terhadap film Bollywood ternyata
melibatkan lebih banyak stereotip daripada film jenis lain.

Adegan
tari-tarian dan nyanyi-nyanyian di film India sering diasosiasikan penonton
sebagai gambaran yang norak, hiperbol dan ketinggalan jaman. Bagi anak muda
generasi MTV, adegan semacam itu mungkin akan mereka bilang ‘malu-maluin’ dan ‘nggak penting’. Belum lagi jagoan-jagoan yang tampil bak superhero,
tidak bisa dikalahkan dan pasti muncul di saat-saat genting, makin menambah
daftar alasan orang untuk alergi pada film-film Bollywood. Ujungnya, segala
stereotip itu melenyapkan preferensi banyak orang terhadap film India. Dengan
kata lain, mereka akan berkata “film India pasti jelek karena dia adalah film
India”.

Maka, penuhlah
bioskop-bioskop 21 yang memutar film Hollywood. Televisi berlomba mengeruk
iklan dengan me-rerun film-film box-office. Rumah-rumah produksi dalam
negeri tak henti-hentinya membuat sinetron dan film-film baru, meskipun
ceritanya tak beranjak dari urusan wanita cantik, pria kaya dan hantu-hantu.
Masyarakat disuguhi tayangan yang tak jelas juntrungannya, sampai-sampai yang
membekas di kepala cuma adegan paha mulus, belahan dada, bacok-bacokan dan
perselingkuhan. Para remaja mengalami krisis identitas karena yang mereka
tonton di televisi dan film-film ternyata tidak mereka temukan di dunia nyata.
Anak-anak menjadi dewasa lebih cepat, lagi-lagi karena televisi yang tak becus
menjadualkan jam tayang tontonan. Generasi muda kita mengalami double consciousness, suatu keadaan
ketika kenyataan sosial dan depiksi media massa tak lagi sejalan (Dubois,
1997). Sungguh ironis, bangsa yang besar ini ternyata tak punya nilai-nilai
kepribadian yang patut dibanggakan.

Masalah ini
memang tidak akan selesai seketika dengan mengganti tontonan ke film India.
Tapi lewat uraian berikut saya akan coba buktikan bahwa kita mungkin harus malu
jika kita memandang sebelah mata pada film Bollywood. Karena sejatinya ada
refleksi diri kita, masyarakat timur, di dalamnya. Merendahkannya mungkin
adalah isyarat bahwa kita sedang mengalami krisis nilai. Atau, barangkali benar
kalau kita sudah tak lagi punya kebanggaan?

 

Keluarga: Orang Tua, Anak, Wanita, dan Nilai Religius

Besarnya jumlah
penduduk di Indonesia tak luput dari incaran distributor film-film Hollywood.
Dengan ditunjang monopoli jaringan Bioskop 21 di berbagai kota besar, serta
distribusi keping cakram, maka film-film Hollywood membanjiri pasar Indonesia.
Bisa dikatakan hampir tidak ada pesaing lain yang mampu mengungguli nilai
peredaran film Hollywood di Indonesia. Jika kita mengacu pada pendapat Antonio
Gramsci tentang hegemoni, maka kondisi seperti ini patut untuk diwaspadai.
Film-film Hollywood telah menjadi aktor dominan dalam proses pembentukan makna.
Lebih jauh, ia akan membentuk hegemoni tentang ideologi atau nilai-nilai
tertentu (Barker, 2004). Dalam hal ini, ide yang dibawakan tentu saja ide-ide
yang bias budaya barat (western).
Sedangkan film-film non-Hollywood bisa kita katakan sebagai pembawa ide, nilai
dan ideologi yang subordinat. Maka film Bollywood dapat kita masukkan dalam
kelompok ini. Bahkan, merujuk pada pendapat Gramsci, film nasional kita pun
sebenarnya juga ada dalam posisi subordinat.

Film-film
Hollywood telah mengajarkan sejumlah interpretasi baru seputar empat hal yang
menjadi judul sub-bab ini. Bagi masyarakat barat, keluarga tidak harus terdiri
dari ayah, ibu dan anak. Keluarga bisa terdiri atas sepasang gay, lesbian dan
anak angkat (The Guru, Midnight Express,
Fried Green Tomatoes
); orang tua tunggal (Finding Nemo, Gilmore Girls, Forrest Gump); atau pasangan tidak-menikah
dengan atau tanpa anak (Bridget Jones’s
Diary, Vanilla Sky, Love Actually
). Keadaan ini memang inheren dengan sifat
masyarakat yang permisif, liberal dan individualis. Pola keluarga semacam itu
juga dapat dimaklumi jika kita mengaitkannya dengan budaya free-sex pada masyarakat barat (Kaldis, 1998). Selain itu, hubungan orang tua dan anak juga digambarkan sebagai
pola yang low-context dan low-power. Dalam film-film barat kita
akan banyak menemukan adegan perang mulut antara ayah dan anak. Belum lagi kebiasaan
memanggil nama untuk orang tua yang kemungkinan besar terdengar ’mengganggu’ di
telinga kita.

Penggambaran
semacam ini sudah pasti tak anda temui dalam film-film Bollywood. Dalam film
India (Harwood, 1997), keluarga yang ideal selalu terdiri atas ayah, ibu dan
anak-anak. Lebih detil, mereka tinggal dalam satu rumah. Sang anak patuh dan
menghormati perintah orang tua. Ayah menjadi kepala keluarga dan pemegang
keputusan, sedangkan ibu menjadi sosok yang hangat tempat sang anak mencari
nasehat. Demikianlah kira-kira gambaran sosok keluarga dan orang tua dalam film
India. Film-film yang menggambarkan hal itu tak terhitung jumlahnya, misalnya Dilwale Dulhania Le Jayenge (1995), Kuch Kuch Hota Hai (1997), Kabhi Kushie Kabhi Gaam (2001), Koi
Mil Gaya
(2002) dan Kal Ho Na Ho (2003).

Perbedaan yang
sepele memang, namun dampaknya bisa jadi sangat besar. Kasus-kasus kenakalan
remaja mungkin diawali dari tidak adanya penghormatan pada orang tua. Generasi
muda akan memaknai apa yang biasa mereka tonton itu sebagai gambaran ideal
mereka dalam kehidupan nyata (Willis, 1990). Film dan tontonan televisi telah
membangkitkan semangat memberontak yang paradoksikal: tidak mau diatur-atur
tapi tetap menyandarkan hidup pada sokongan orangtua. Bandingkan dengan
kehidupan remaja barat, mereka dapat memilih berpisah sepenuhnya dari orangtua
asalkan mampu memenuhi kebutuhan hidupnya sendiri. Sayangnya, banyak yang
melupakan keterkaitan ini. Hasilnya, anak-anak tumbuh menjadi remaja yang rebel pada orang tua tetapi tidak siap untuk
mandiri.

Representasi
budaya barat juga dapat anda temukan saat berbicara tentang perempuan dan film
Hollywood. Di luar nilai emansipasi dan self-reliance
yang ditampilkan, tampaknya kita sudah tidak sensitif lagi pada nilai-nilai
bawaan lainnya yang berseberangan dengan budaya kita. Perempuan digambarkan
begitu permisifnya pada urusan seks, misalnya dalam film-film James Bond. Selain itu, emansipasi
wanita juga kerap digambarkan terlalu berlebihan. Tengoklah serial Desperate Housewives, dalam film ini
perempuan-perempuan digambarkan sebagai sosok yang berhak melakukan apa saja
untuk mencapai apa yang mereka inginkan. Adegan perselingkuhan, intrik dan caci
maki dapat anda temukan di sini. Uniknya, dalam film-film Hollywood perempuan
juga kerap digambarkan menjadi sosok yang lemah dan menjadi korban kekerasan,
misalnya dalam film Monster’s Ball (2003),
8 Milimeters (2004) dan serial
televisi Orange County/The OC.

Terkait
dengan hal tersebut, maka hal yang tidak anda dapatkan dari film-film lain
selain film India adalah penggambaran yang konsisten terhadap sosok perempuan
(Uberoi, 1998).
 Memang benar kalau
wanita selalu digambarkan sebagai subordinat pria, namun ada beberapa nilai
ketimuran yang melekat kuat dalam gambaran wanita India. Diantaranya ialah rasa
penghormatan terhadap suami, pengabdian sebagai seorang ibu, kerelaan berkorban
demi keluarga dan keteguhan memegang nilai-nilai tradisi. Jika anda perhatikan,
semodern-modernnya karakter perempuan dalam film Bollywood, pasti ada
adegan-adegan saat dia mengenakan kain sari, berdoa menghadap altar, atau
memberikan aratik (tanda merah di
kening suami). (Krueger, 2004).

Saya bukan
hendak mengatakan gambaran perempuan India lebih baik dari perempuan barat.
Namun, entah kenapa tidak ada lagi
kendaraan untuk melestarikan nilai-nilai ketimuran semacam itu. Sinetron, video
klip, film, iklan dan tontonan lainnya telah memanjakan perempuan Indonesia
dengan slogan-slogan emansipasi yang tidak cover
both-sides.
Menjadi setara tentu tidak masalah, namun jika sampai kehilangan
jatidiri itu yang berbahaya.

Film, bagi
masyarakat India, sudah menyerupai agama. Semiskin-miskinnya orang, pasti ada
anggaran untuk membeli tiket bioskop. Lebih-lebih, jika film itu dibintangi
oleh aktor dan aktris besar seperti Shah Rukh Khan, Amitabh Bhachchan, Hrithik
Roshan, Kajol dan Rani Mukerjee.
Setiap tahunnya tak kurang dari 800 film baru diproduksi di Bollywood
(Skoyles, 2005). Angka ini hampir dua kali lipat angka produksi film Hollywood,
dan berpuluh-puluh kali lipat produksi film nasional kita. Begitu masifnya
produksi, distribusi dan konsumsi film di India, maka film menjadi media massa
yang paling berpengaruh di India (”Emerging
Market, India,
” 2006). Meminjam konsep ideological
state aparattuses
(ISA’s ) dari Altusser, maka film barangkali menjadi
institusi sosialisasi terpenting di negara terbesar di Asia Selatan itu. Jadi
jika film Bollywood itu berhasil membawakan budaya India dengan konsisten,
dapat kita bayangkan betapa besar rasa nasionalisme dan kecintaan orang India
terhadap nilai-nilai dan identitas negerinya.

Pernah, film Salaam Naamaste (2005) dicerca
habis-habisan di India. Meskipun sukses di Amerika Serikat, Eropa dan
Australia, film yang dibintangi Preity Zinta dan Saif Ali Khan ini dianggap
cabul oleh sejumlah kritikus karena mengusung tema kumpul-kebo. Setting film ini memang berada di Australia, namun
tetap saja ide ceritanya dianggap tidak sesuai dengan budaya dalam negeri
mereka (Line, 2005).

Idealisme
seperti itulah yang tidak dimiliki dari media-media massa kita. Semuanya cuma
berlomba merebut pasar dan pengaruh. Idealisme para pekerja media hanya
berorientasi pada perolehan keuntungan sebesar-besarnya, bagaimanapun caranya.
Maka tidak heran jika televisi kita cuma dipenuhi adegan cinta-cintaan anak
remaja, intrik dan balas dendam, makian-makian kasar, kekerasan rumah tangga,
umbar-mengumbar aurat, dan kisah hantu-hantuan yang diberi label ‘sinetron
religius’.

Mengenai urusan religiusitas, lagi-lagi kita
harus malu pada film-film negeri Hindustan itu. Betapa unsur-unsur religi
sangat terasa dalam setiap film-film mereka. Hampir di setiap film kita bisa
menyaksikan adegan berdoa, meletakkan sesaji, mengenakan sari, gambar kuil atau
tempat-tempat ibadah, juga patung dewa-dewa. Bahkan di banyak film, perayaan hari-hari
besar keagamaan juga turut dijadikan setting film (Sharma, 2003), misalnya hari
raya Diwali[1] (Kabhie
Kushi Kabhi Gham), Holy[2]
(Waqt, 2004), dan Karva Chauth[3] (Dilwale Dulhania Le Jayenge).
Nilai-nilai religius juga nampak dalam adegan lain seperti pernikahan,
pengucapan salam dan penggunaan simbol-simbol.

Nuansa agama
Hindu memang kental terasa dalam nilai religius yang ditampilkan dalam
film-film Bollywood. Hal ini dapat dimaklumi mengingat mayoritas penduduk
India, 80 persen, beragama Hindu (http://www.wikipedia.org). Namun yang perlu
diacungi jempol adalah bagaimana unsur-unsur itu ditampilkan dengan sedemikian
natural, bahwa memang demikianlah yang terjadi sesungguhnya dalam kehidupan
sehari-hari orang India. Mereka berdoa sebelum berangkat bekerja, meletakkan
sesaji di pagi hari, meletakkan tanda merah di kening pasangannya dan merayakan
hari-hari besar semeriah gambaran film Bollywood. Praktek dan representasi itu
terus menerus diproduksi dan direproduksi, sehingga setiap orang akan menganggapnya
sebagai sebuah keteraturan yang memang demikian adanya (taken for granted).

Nah, sekarang
mari kita lihat penggambaran nilai religius dalam film dan sinetron dalam
negeri kita. Kiai dan ulama baru muncul saat berhadapan dengan genderuwo dan
kuntilanak. Ayat-ayat suci baru dibacakan tatkala si tokoh terlanjur kesurupan.
Film-film Hollywood pun sama saja. Simbol salib baru keluar waktu si drakula
mengamuk tak keruan. Gambar gereja dan pendeta juga hanya nampak dalam adegan
pernikahan dan pemakaman. Intinya, kemunculan simbol-simbol keagamaan tak lebih
dari sekedar bumbu cerita. Kecuali tayangan ceramah dai-dai kondang, tema agama
tak lebih dari sekedar komoditas yang laku pada musim tertentu, misalnya pada
saat Ramadhan atau menjelang Natal. Karena pada bulan puasa pengiklan berebut
memenuhi space menjelang buka dan
sahur, stasiun-stasiun televisi ramai-ramai membuat tayangan ber-genre religi
agar kebagian kue iklan. Singkatnya, nilai-nilai religius yang ditampilkan itu
tak ubahnya sebuah kebohongan saja.

Maka saya pun
heran ketika orang-orang Indonesia mengejek film-film Bollywood tapi kemudian
manggut-manggut saja disuguhi film-film Indonesia bergenre horor dan
sinetron-sinetron lokal bertema primitif. Tak ada lagi sensitivitas yang
membuat mereka selektif memilih tayangan. Tak sadarkah kita bahwa telah lama
kita menertawakan diri sendiri?

 

Kekerasan dan Muatan Seksual, Sebuah Harga Mati

Bagi para
sineas dan produser, apalah artinya film tanpa muatan seks, kekerasan dan
konflik. Ketiga jurus itulah yang menjadikan film menarik untuk ditonton.
Unsur-unsur itu, terutama seks dan action
(baca: kekerasan), sering dinanti-nanti, tapi sering juga dimaki-maki.
Hampir semua film, baik Hollywood maupun Bollywood, mustahil menghindarkan diri
dari muatan-muatan itu. 

Bagi saya,
unsur violence dalam film manapun tak
ada bedanya. Ada darah, baku hantam, peluru, ledakan, jeritan kesakitan,
kejar-kejaran, dan semacamnya. Baik Hollywood maupun Bollywood hampir pasti
tidak memiliki referensi lain soal bagaimana menggambarkan hal tersebut. Yang
membedakan keduanya barangkali cuma masalah budget dan teknologi special effect.

Yang menarik
ialah bagaimana keduanya menggambarkan unsur seksual dalam adegan-adegan film.
Di India, hukum sensor diberlakukan dengan ketat. Semua film harus disetujui
oleh Badan Sertifikasi Sinema, baik di tingkat lokal maupun pusat. Badan ini
berpedoman kepada Undang-undang Sinematografi India yang dikeluarkan pada tahun
1952. Undang-undang ini tidak secara tegas melarang adegan ciuman, hanya adegan
seksual yang vulgar (obscenity) dan
ketelanjangan (nude) yang diatur
dengan jelas dalam Undang-undang ini. Tetapi aturan yang paling penting justru
datang dari kesepakatan moral tak tertulis diantara para sineas untuk tidak
menampilkan adegan kissing, nudity dan
sexual explicit material (SEM)
(Chopra, 2004). Oleh karena itu,
sebenarnya salah jika anda berharap menemukan adegan-adegan mesum dalam film
Bollywood.

Lantas
bagaimana unsur romantisme ditampilkan? Di film Hollywood anda bisa dengan
mudah menemukannya dalam adegan-adegan seks dan ketelanjangan (Casino Royale, Original Sin, Captain
Corelli’s Mandolin, Unfaithful,
dll), atau lewat guyonan-guyonan vulgar ala
American Pie, Jackass, Scary Movie atau
Eurotrip. Namun tidak demikian yang
dilakukan oleh para film-maker India.
Satu-satunya yang mungkin mereka lakukan ialah dengan melakukan simbolisasi
lewat adegan nyanyian dan tarian. Misalnya, jika sang pemeran sedang jatuh
cinta, maka ia akan menyanyi dan berlari-larian di hamparan padang bunga.
Sementara itu, bermunculanlah penari-penari yang entah dari mana datangnya.
Setting tempat dan pakaian yang dikenakan juga berganti-ganti dalam hitungan
kedipan mata. Agak hiperbol memang, namun demikianlah kenyataannya. Kebanyakan
adegan yang berkategori ’sensual’ ditampilkan dalam bagian ini, misalnya adegan
pelukan, mencium leher, atau berguling-gulingan. Tapi, lagi-lagi cuma itu yang
bisa dilakukan oleh para film-maker India.
Mereka berusaha sedapat mungkin menghindari adegan bermuatan SEM dengan
menyematkan unsur romantisme dalam adegan tarian dan nyanyian.

Saya tiba-tiba
teringat pada Stuart Hall, mungkin hal ini terkait erat dengan budaya high-context pada masyarakat di belahan
bumi timur. Sangat berbeda dengan masyarakat barat yang cenderung grusa-grusu menggambarkan romantisme
dengan adegan seksual, para sutradara India membiarkan imajinasi penonton
berkreasi dengan memberikan simbol-simbol dalam musik dan visualisasi.

Sebagian besar
orang yang saya tanyai dalam riset kecil saya setahun lalu menyatakan bahwa bagian
menyanyi dan menari itulah yang paling membuat mereka antipati terhadap film
India. Menurut mereka, bagian itu lebih baik dipotong saja, norak dan toh tidak juga mempengaruhi isi film.
Tapi menurut analisis saya, justru di situlah letak perbedaan film India dan
film Hollywood. Adegan menyanyi dan menari memiliki peran sebagai jembatan
memori penonton akan kisah dan konteks sebuah film. Contohnya, apa yang anda
ingat dari kisah cinta Rahul, Tina dan Anjali dalam Kuch Kuch Hota Hai?. Kejar-kejaran
di pinggir jembatan? Menari bahagia di kamp perkemahan? Atau kesedihan di bawah
guyuran hujan? Yang jelas ingatan itu akan jauh lebih sopan dari ingatan anda
soal kisah cinta Jack dan Rose dalam film Titanic.
Mungkin yang terbayang duluan adalah
adegan percintaan mereka dalam mobil di gudang kapal. Sama liarnya jika anda
mengingat adegan intercourse Scott
dan Mieke di bilik pengakuan dosa Gereja Vatikan dalam Eurotrip (2004). Jadi, jika dalam setahun seorang anak-anak atau
remaja Indonesia menonton 15-20 film Hollywood dengan label ’PG-13’ ke atas,
sudah berapa banyak adegan seksual dan kekerasan yang terekam dalam pikirannya.
Mengerikan!.

Penutup: Kesimpulan dan Self-critique

Bagaimanapun,
ciptaan manusia memang tidak ada yang sempurna. Jika Bill Kovach mengatakan
bahwa tidak ada media massa yang benar-benar objektif, maka bolehlah kiranya
saya mengatakan bahwa ’tidak ada media massa yang benar-benar aman’.
Pembandingan film Hollywood, film Indonesia dan sinetron-sinetron dengan film
Bollywood, bukan berarti hendak menunjukkan film Bollywood lebih baik dari yang
lain.. Lewat paper ini saya hanya ingin menunjukkan hal-hal yang mungkin tidak
kita peroleh dengan menyaksikan tontonan-tontonan populer (popular culture). Setidaknya, setelah membacanya anda akan lebih
kritis untuk memilih tontonan apa yang layak untuk diri dan keluarga.

Terkait dengan
pilihan akan film Bollywood, saya pasti tidak berkutik jika anda menyodorkan
film-film India terbaru yang mulai sarat dengan muatan western. Hal itu misalnya terlihat dari pakaian-pakaian seksi yang
dikenakan para aktris, adegan-adegan yang agak ’berani’, dan tema-tema cerita
yang mulai melawan mainstream.
Intinya, argumen-argumen saya sebelumnya tentang suri tauladan dari film
Bollywood ternyata juga tidak berterima sepenuhnya. Salah satu penjelasan yang
mudah ialah adanya upaya industri Bollywood untuk memantapkan posisi di pasar
Eropa dan Amerika Serikat. Setiap tahunnya, total pendapatan dari ekspor film
India adalah sekitar $US 20 juta. Sebanyak 40% diperoleh dari pasar Inggris
Raya, 30% dari Amerika Serikat, dan sisanya tersebar di seluruh dunia (Chopra,
2004). Otomatis, para pembuat film akan berpikir untuk terus mempertahankan
potensi pasarnya di Eropa dan Amerika. Untuk itu, tema, setting, konteks dan
penggambaran film India yang berorientasi ekspor harus disetel untuk memenuhi
keinginan pasar yang dituju. Pada akhirnya idealisme dan kepentingan ekonomi
akhirnya akan selau beradu. Maka tidak heran jika belakangan ini film-film
Bollywood sudah mulai menabrak-nabrak tepian lintasannya.

Karenanya,
tidak semua film Bollywood layak untuk ditonton. Lebih aman jika anda memilih
film-film keluarga seperti Koi Mil Gaya,
Khrish
, Biwi No.1, Bhaadshah, Swades,
atau film-film epik seperti Ashoka,
Lakhsya,
dan Zameen. Pelajaran-pelajaran
yang saya jelaskan sebelumnya dapat anda temukan di sana. Bagi anda yang hendak
menonton kisah-kisah percintaan, saya sarankan untuk tidak mengajak anak-anak
di bawah umur. Selain dialognya cukup berat, akan susah menjelaskan
adegan-adegan yang belum mereka mengerti. Kalau mau aman, mungkin anda lewati
saja bagian lagunya.

  Terakhir, paper ini menjadi semacam pengingat
bahwa kadang kita perlu melakukan
refleksi diri. Masihkah kita bangga dengan julukan bangsa timur tetapi isi
kepalanya nilai-nilai western
melulu.


[1] Lebaran-nya orang India; Hari
raya yang dirayakan semua penduduk India tanpa membedakan agama. Pada hari raya
ini, semua orang keluar rumah, menyanyi dan menari di sepanjang jalan.

[2] Perayaan festival dimana
orang-orang berpakaian putih-putih dan saling melempar bubuk berwarna
merah.

[3] Hari dimana
semua istri berpuasa untuk suaminya.
Dilakukan oleh umat Hindu di India.

Trayek Monopoli Sempurna

Uncategorized 3 Comments »


Bus Debora adalah contoh nyata praktek monopoli sempurna. Hampir
setiap hari gw naik bus ini ke Pondok Indah buat ngajar. Bus ini
satu-satunya bus yang melayani trayek Depok-LebakBulus. Awalnya gw
menganggap ini sebagai hal yang biasa-biasa saja. Pada akhirnya,
setelah gw naik bus ini dalam berbagai kesempatan gw jadi agak gerah
juga.


Pada jam-jam sibuk, pagi menjelang jam kerja dan sore hingga malam
jam 9an, bus ini selalu penuh sesak dengan penumpang yang sengaja
dijejal-jejalkan. Si kondektur dengan gaya seolah-olah persuasif akan
meminta penumpang untuk bergeser, “geser Bang! ya, masuk dikit
lagi”. Belum lagi kalau dah penuh banget dan ada orang yang mau
naik, kondekturnya bakalan bilang, “ Depok, Depok, kosong!
kosong!”. Duh, rasanya pengen gw jitak kepalanya.


Hebatnya, kalau ada penumpang yang protes, tuh kondektur (sama
supirnya juga) pasti bakal nyuruh tuh penumpang turun. Ujungnya, si
penumpang yang protes tadi bakalan diem karena nyadar gak ada bus
lain yang bisa nganterin di dengan trayek Lebak Bulus – Depok dan
sebaliknya. See, betapa tidak berimbangnya posisi tawar antara
penumpang dan operator kendaraan (ciee, operator).

Ohya,
sejak harga BBM naik ongkos Debora jadi Rp. 3.000. Semula sih Rp.
1.500, trus naik terus dan jadilah sekarang ongkosnya segitu. Well,
tiga ribu perak dan loe harus makan hati juga sesekali. 

Busnya
berukuran tiga perempat, jadi isinya total 24 seat. Nah, kalau
pas penuh di jam-jam sibuk, jumlah orang yang berdiri bisa lebih
banyak daripada orang yang duduk. Kalo gak percaya, silakan buktikan
sendiri. Jadi jumlah penumpang maksimal bisa 50-an orang. Tarohlah
dalam satu kali jalan jumlah rata=rata penumpang Debora adalah
(24+50) : 2 = 37 orang, maka pendapatan untuk sekali jalan adalah 37
x 3000 = Rp. 111.000. Dari yang gw denger siy, mereka bisa narik 3-4
kali PP dalam sehari, berarti ada 6-8 trip dong, ambil aja tengahnya
deh, tujuh. Jadi dalam sehari, pendapatan satu biji Debora adalah
Rp.777.000. Tinggal dipotong uang tol, setoran en bensin, itulah
pendapatan bersih pak supir en keneknya.


Gw gak tahu setorannya berapa duit dalam sehari, kalo gak salah
sekitar 400-an ribu. Kalau memang bener, berarti total pendapatan
buat kenek plus supir gak nyampe 150.000 per hari. Berarti pula,
mereka belum akan berhenti ngejejelin orang di dalam busnya yang udah
meluap, meluber kemana-mana. Penuh orang.
 

Dibohongin ESIA

Uncategorized 5 Comments »

Pernah mikir kenapa udah
pake Esia pulsa loe masih belum bisa awet-awet juga? Gw akan kasih jawabannya:

  1. Temen loe pada belum punya Esia, jd loe sms en nelpon tetep ke GSM mereka juga. nelpon dari Esia ke GSM notabene tarifnya emang lebih murah, tapi gak juga signifikan
  2. Loe sibuk banget, sehingga kehidupan loe gak bisa lepas dari HP loe
         yang katanya murah itu. Nelpon dan sms jadi makin sering. padahal gak juga
         ke sesama Esia atau CDMA. Slogan  ‘nelpon murah, sms murah’ ngaruhnya ke frekuensi pemakaian telepon. Orang
      jadi makin sering nelpon en sms padahal nomor yang dihubungi belum semua ter-Esia-kan.
  3. Punya Esia bikin kita dikejar-kejar temen buat dimintai pulsa.
         Repotnya, saking banyaknya temen loe yang minta pulsa, loe gak sempat tahu
         mereka sms sapa, nelpon ke mana. Tiba-tiba pulsa loe berkurang banyak aja.
         Secara ternyata temen loe nge-SMS pemain satu kesebelasannya untuk ngingetin nyuci sepatu bola masing-masing buat pertandingan minggu depan.
  4. Loe diboongin Esia. Kalo loe nelpon 1 JAM baru bener loe dapet charge
       seribu rupiah. Tapi kalo 55 menit? berarti loe kena 55 x 50 = 2750 rupiah,
         jauh lebih mahal dari nelpon satu jam. Tapi apa bener hidup loe bakal loe
         abisin buat nelpon doang? atau demi nyimpen duit 2000, loe buang-buang
         waktu buat ngejaga agar telponnya tetep hidup. Lagian nelpon berjam-jam
         bakal bikin loe gak accessible kalau
         dihubungi orang lain.

 

Masih kepikiran beli Esia?
mending pikir-pikir lagi deh!


Theme & Icons by N.Design Studio.
Entries RSS Comments RSS Log in